Fri. Apr 19th, 2019

TURING JAKARTA-PASURUAN -TERSESAT DALAM SURGA NUSANTARA-FINAL DESTINATION BERSYUKUR TINGGAL DI INDONESIA… BY Isfandiari MD -Foto:Isfandiari MD

….. Saat masuk Jakarta dan pulang ke rumah, raungan motor dan asyiknya manuver di fast corner masih terasa. Saat ngobrol dengan orang-orang keren masih terngiang, termasuk pemandangan spektakuler  bumi pertiwi tak juga hilang saat lampu kamar dimatikan menuju peraduan. Pengalaman Tersesat Dalam Surga masih saja terbawa mimpi. Dan.. kita sharing lagi ‘mimpi’ itu dari A-Z….

    Catatan Perjalanan Isfandiari MD-Deddy Raksawardana-Anton Magaski

    Motor: Kawasaki w175 dan Estrella 250

Goa Atas, Santolo Garut

Tumpak Sewu Lumajang Jawa Timur
Sate Srepeh, Rembang

Mengunjungi petilasan Prabu Borosngora jadi start awal perjalanan Jakarta- Pasuruan. Turing Jakarta-Bandung-Tasikmalaya nyaris nggak ada kendala. Cuma harap maklum, beum terbiasa turing bertiga, saya kurang pandai bertindak jadi road captain. Rombongan yang cuma 3 motor tercerai. Road captain belum kredibel, terlalu melambung dan nggak bisa menjaga ritme turing.

 Tapi syukurlah, kami sampai di museum Bumi Alit dan berdoa, mengirimkan Al Fatihah untuk Prabu Borosngora yang berjasa menyebarkan agama Islam di tatar Pasundan, sejaman dengan Sayidina Ali R.A. Sejarah mencatat, Borosngora menjadi salah satu  murid kesayangan Sayidina Ali dan dihadiahi  dengan kenang-kenangan pedang beliau yang tersimpan apik juga dirawat dalam upacara nyangku di hari Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Jadi faktanya, beliaulah oranng Nusantara pertama yang beragama Islam.” Ada catatan Sayidina Ali tentang hal ini. Disimpan oleh Syeh Fadil Al Djaelani, keturunan Abdul Qadir Djaelani ulama terkemuka yang sekerang bermukin di  Turki. Sekitar 2 tahunan lalu beliau  berziarah ke Panjalu,” jelas Agus ‘Auh’ Gusnawan, kuncen Bumi Alit, salah satu lokasi  peninggalan sejarah di tatar Priangan.

Lalayaran menuju Nusa Gede, Makam Prabu Hariang Kencana, Putra Prabu Borosngora-Panjalu Jawa Barat

Pekalongan juga mengundang berbagai kisah. Gus Eko Ahmadi, ketua PC Lesbumi Pekalongan menjadi ‘road captain’ perjalanan kami di wilayah ini. Dataran tinggi Doro, Petung Kriyono, telaga Si Kepyar dan keindahan batuan endesit sungai bernama objek wisata Bengkelung, jadi magnet paling menarik. Apalagi yang disebut terakhir dikelola santri Omah Taya asuhan Gus Eko demi kemajuan desa.”Sumbangsih santri bagi masyarakat sekitar,” jelasnya.

    Acara Pekalongan belumlah usai. Sehabis nikmati  Sintren beraroma magis, kami diminta tidur cepat untuk persiapan subuh. Pagi-pagi sekali naik ke dataran tinggi Petung Kriyono, menyambangi telaga eksotis Si Kepyar atau talaga Wangunan yang belum lagi diresmikan sebagai destinasi wisata umum.”Jadi salah satu objek wisata keren di wilayah ini. Moga menjadi destinasi favorit khususnya kaum milenial,” harap Farid A. Khakim, S.STP,MM, Camat Petungkriyono yang ternyata doyan Custom motor.

Rehat sejenak Item di Jawa Tengah
Singgah di klenteng Cu An Kiong, terdapat diorama Perang Kuning, Lasem
Telaga Si Kepyar-Telaga Wangunan Petungkriyono Pekalongan
Objek wisata Bengkelung, dikelola santri Omah Taya demi kemajuan desa
Esrella Owners Indonesia, melaksanakan Munas Di resort Jambuluwuk, 10 Maret 2019
Stupa Sumberawan Malang
Pemandian Banyu Biru, Pasuruan dihuni ikan Labeobarbus Douronensis

Menjelang sore jadi pengamalan yang sangat spektakuler. Kami di ajak mendatangi situs bersejarah jaman pemeluk keyakinan Bhairawa di tengah hutan jati dalam hujan lebat wilayah Rogoselo. Menjelang sore, motor hanya bisa parkir di samping makam seorang waliyullah Ki Gede Penatas Angin di Punganan Doro. Dari situ berjalan kaki menembus hutan jati, menyebrangi sungai  berarus deras.”Kami dan teman-teman di Lesbumi menemukan situs ini. Sangat bersejarah. Konon, disinilah upacara penganut Bhairawa, pesta seks, minuman keras dan memakan daging manusia. Setelah semua nafsu terpenuhi barulah mereka bisa  bertemu sang maha pencipta. Demikian ajaran Bhairawa di masa lalu,” jelas Gus Eko. Mereka tidak setuju jika situs ini disebut sebagai Baron Sekeber-Archa Dwalapala, akibat kekalahan Baron Sekeber saat bertarung dengan Kiai Penatas Angin.”Ini lebih lama dari itu,” tegasnya.

    Berpisah dengan Gus eko, kami diberi kenang-kenangan Sarung Khas Pekalongan, untuk lanjut ke Lasem, melintasi Kudus. Tiap bejek gas apalagi tanjakan, Satu Estrella dan W175 selalu berisik. Untunglah mampir di club house  MMC Outsiders Kudus Chapter. Life member di sana dengan tangkas menyeting lagi ketegangan rantai motor sesuai standar pabrikan. So..motor kembali dalam performa ideal untuk ngegas langsung ke Lasem.

Salah satu karya KH Agus Sunyoto, recommended untuk pecinta literasi Sejarah
Mbah Suharto, kuncen telaga Si Kepyar -Wangunan.Petungkriyono Pekalongan
Berfoto dengan bro Farid, camat Petungkriyono, penyuka custom motor
Candi Singosari Malang

Lasem adalah wilayah yang sangat inspiratif. Kota toleransi, kerukunan antar umat beragama. Di sini, Islam-Hindu-Budha-Konghucu-Kristen-Katolik bersatu berbagi pengalaman dan damai diantara pesantren, kuil, wihara juga gereja. Diantar 3 tokoh kharismatik, Gus Zaim ( KH. Zaim Ahmad Ma’shum), Mbah Bedug (KH. Ahmad Sidiq) dan istri tercintanya, Fatimah Asri (Nyai Lasem), kami  ngopi di kedai Jinhee, tempatnya semua kalangan berkumpul bersama.”Moga Indonesia lainnya juga seperti Lasem. Di sini kamu semua rukun saling hormat antarpemeluk agama,” tegas Gus Zaim.

 Lasem memang luar biasa, atas kebaikan mereka,  kami bisa berbincang ikwal Perang Kuning, perang besar warga Cina-Jawa-Arab menghadapi kekejaman Belanda, dari  Sie Hwie  Djan (Gondor Sugiharto), pengasuh 3 klenteng Cu An Kiong-Po An Bio dan  Gie Yong Bio. Juga menimkati megahnya Vihara Ratanavana Arama , di atas bukit yang diimpin bante Pyadhiro yang terbilang masih sangat muda. Vihara ini indah nian, serasa di Thailand lengkap dengan patung Budha tidur yang anggun.  Tak kalah mengesankan, menghabiskan sore di Rumah Oei, rumah makan dan penginapan artistik di pusat kota Lasem juga bertamu pada sang Legend, Om Sigit Witjaksono, maestro Batik Tiga Negri yang kini berusia 90 tahun.”Jangan salah tulis ya..Tiga Negri bukanlah desain batik, tapi proses pembuatan!” wanti si Om yang masih terlihat sangat bersemangat ini.

                Dari Lasem, kami ngegas langsung ke Timur menuju daerah Batu di kaki Semeru. Di sana, kang Deddy yang juga El Presidente Estrella Owners Indonesia (EOI) punya hajat, Munas klub mereka di Jambuluwuk , resort  minimalis yang mewah. Sebelum munas, kami bareng all brothers Life Member Estrella Owners Indonesia, riding menuju Lumajang dan Ranu Pane Bromo, atas arahan tuan rumah Estrella Brotherhood Jatim yang mendeklarasikan bergabung dengan EOI. Perjalanan yang seru. Destinasi awal menuju Pasuruan ke air terjun ala Jurasic park, Tumpak Sewu. Selain lansekap indah, air terjun ini juga historikal karena tempat patilasan Patih Gajah Mada di era keemasan Majapahit. Dari sana, kami mengitari gunung Semeru masuk wilayah Bromo lewat Ranu Pane. Udaranya..jangan ditanya deh..seperti masuk kulkas, brrrrrrr… dengan kabut tebal. Keren..keren…Pulangnya mereka mengadakan Munas ditutup hiburan musik. Catatan khusus:Life member EOI semuanya jago nyanyi. Busyet suaranya bagus semua, selamat buat home band yang disewa, penyanyi mereka banyak  ngangggur, he.. he.. he..

Vihara Ratanavana Arama Lasem
Patilasan Syeh Siti Jenar (Pekalongan), tokoh kontroversial yang sering disalah mengerti, Beliau pencetus tatanan kemasyarakatan0

Beres hang out dengan EOI, kembali ke trek mencari bahan untuk film dokumenter Tersesat dalam Surga. Start-nya singgah ke kafe literasi Oase, tempatnya mahasiswa pecinta buku khususnya dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Suasana kafe, cozy, rada  berantakan ala mahasiwa tapi nyaman. Di dinding tergantung karya cukil art wajah tokoh mulai Gus Dur, Pramoedya Ananta Toer sampai Mahbub Djunaidi. Disana kami berbincang ringan untuk menunggu ba’da Isha, mengunjugi seorang Kiai inspiratif, romo, Kyai Agus Sunyoto, ketua LESBUMI, penulis beberapa buku berbobot: Suluk Abdul Jalil, Atlas Walisongo,Syaik Siti Jenar, Dajjal, Fatwa Resolusi Jihad dan banyak lagi. Beliau juga pengasuh   Pondok Pesantren Global Tarbiyatul Arifin , Malang.

    Bersyukur, saat kesana sedang ada pengajian hingga Romo panggilan akrab Kyai Agus ada di kediamannya. Beres acara beliau, kami diterima berbicang seputar karya beliau, pandangannya terhadap ke budayaan dan NKRI. Kesimpulannya, Romo adalah seorang intelektual jempolan yang nasionalis sejati. Beliau juga pribadi bersahaja dan sangat sederhana. Keluasan ilmunya seperti tak nampak dalam keseharian. Sangat mengagumkan….

    Di pesantren Romo, kami bertemu si gondrong, dalang kondang dari malang, Ki Yul Ardhiantono atau lebih beken sebagai selebriti dengan nama Ki Ardhi Poerboantono. Tokoh nyetrik ini adalah  pendiri Sanggar Santri Sapujagat bergerak dalam lelaku kebudayaan-dalang-tari-teater juga puisi. Kebetulan, dia berbaik hati menawarkan tempat  nginap di rumahnya. Asyikkkk! He..he..nggak cuma diajak  nginap, kami juga disuguhi atraksi dalang dari Ki Ardhi dan tembang jawa yang khas. Suaranya keren, ngebas dan penuh penjiwaan.

    Ki Ardhi dengan sukarela mengantarkan kami ke situs-situs penting peninggalan kerajaan Singosari seperti Candi juga stupa Sumberawan yang asri lengkap dengan mata air sejuk. Dari situ kami diajak  sowan ke  budayawan yang  tak kalah unik, Ki Wiro Kadeg Wongso Jumeno, Padepoan Sumber Girang Puri Mojokerto. Ki Wiro adalah  tokoh agama di Mojokerto yan berjuang  demi kerukunan antar umat beragama, demi kelestarian ke budayaan dan nilai kearifan lokal di wilayah Mojokerto. Beliau dan satrinya membangun candi pemersatu berjuluk Candi Waji yang berarti saatnya saatnya bersatu. Di Candi ini pemeluk agama, diperbolehkan melangsungan ritual atau upacara keagamaan.

Pondok Pesantren Kauman Lasem, bergaya Tiongkok

Masuk tengah malam,  kami kembali ke Malang untuk lanjut ke Pasuruan, pemandian Banyu Biru yang juga bersejarah. Di dalam telaga ini tedapat mata air luar biasa jernih hingga warnnya ke biru-biruan. Telaga dengan ikan bernama ilmiah labeobarbus Douronensis ini jadi daya tarik tersendiri. Jika berenang, ikan-ikan sudah terbiasa dengan para pelancong dan mau didekati. Keren..keren!

    Perjalanan belum usai! Kami lanjut menuju Barat, masuk kota Jogjakarta bertemu tokoh budaya yang tak kalah inspiratif, aktivis Lesbumi, Muhammada Jadul Maula akrab disama Ki Jadul  Maula, pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak. Ini bukan pesantren biasa, tapi pesantren budaya yang penuh aktivitas melestarikan budaya Jawa.”Di sini Ketuhanan dan kemanusiaan adalah yang terpenting. Agama dan budaya tidak bisa dipisahkan. Kearifan lokal menjadi sarana dakwah yang baik untuk memperbaiki ahlak,” tegas Ki Jadul.

    Sayang kami ntak sempat berlama-lama di pesantren di sisi Kaliopak yang artistik ini. 3 Peturing harus lanjut menuju Jakarta, menyisir pantai Selatan Pangandaran, Santolo, Rancabuaya untuk masuk ke tengah, zona Ciwidey kabupaten Bandung dan kembali ke Jakarta lagi.

Lansekap Pantai Selatan recommended sekali. Kondisi jalan..merekalah juara-nya! Mulus nyaris tidak   bercacat. Kebanyang khan , disuguhi panorama pantai Selatan, pasir putih, laut biru, ombak besar dan karang-karang menjulang berwibawa. Belum lagi pemandangan Rancabuaya Ciwidey, memasuki daerah pegunungan, Jalan mulus namun x-trem turun-naik. Sisi kanan-kiri hutan tropis penuh air terjun. Sungguh menyenangkan tersesat di Surga Dalam Surga Nusantara ini.

Ayo ki Dalang Ardhi….Action…!!!
Resort Jambuluwuk Batu, Jawa Timur, lokasi rakernas Estrella Owners Indonesia
Pemandangan Pantai Santolo Garut. Kondisi jalan..JUARA!!
Ngopi bareng dengan Mbah Bedug (Lasem) sambil shooting, ngobrol soal kopi Lasem dan ilmu Maklum

Moga filmn dokumenternya segera jadi. Sedang digeber untuk cepat dinikmati. Salam Bikers untuk sedulur semua. NKRI harga mati..Pancasila tetap lestari. Merdeka!

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: