Sun. May 26th, 2019

Tokoh Inspiratif Almarhum Hoegeng Iman Santoso Polisi Jujur Yang Pertama Menetapkan Wajib Helm Written By : Isfandiari MD

     Pernah ada ungkapan di kalangan masyarakat. Katanya ada 2 polisi yang nggak bisa disuap. Satu pak Hoegeng, satunya lagi polisi tidur.  Ungkapan ini sebenarnya sebuah gambaran, bagaimana jujur dan bersihnya tokoh Hoegeng. Beliau di tahun 1970 resmi diberhentikan oleh presiden Soeharto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) dan wafat dalam usia 83 tahun

Tentu dengan sepeninggalnya, bangsa ini perlu mencontoh keteladanan yang dimiliki beliau. Misal kisah heroik, sekitar 1970-an saat Pak Hoegeng menjabat. Rencananya beliau mau nangkep penyelundup kakap. Lantaran sang penyelundup dapat backing keluarga Cendana, beliau mau menyampaikan rencana penangkapannya itu ke Presiden Soeharto. Eh, kayak disamber petir, sampainya di Cendana ujug-ujug tuh penjahat lagi ngobrol sama Presiden. Masyaallah! Singkat cerita, sekuku hitam pun Pak Hoegeng tidak percaya pada Soeharto (Kompas 15/7). Jelas Soeharto kagak senang. Pak Hoegeng diberhentikan. Tapi kalau menilik kejujuran dan konsistennya polisi Hoegeng, tanpa disuruh lengser pun dia pasti minta berhenti.

Tak cuma itu, beliau adalah orang pertama yang pertama mewajibkan bikers harus pake helm. Sayang, keputusannya disambut protes. Dia malah difitnah kerjasama sama dengan salah satu produsen helm untuk mencari keuntungan pribadi. Niat baiknya gagal. Wajib helm baru diterapkan sekitar 10 tahun kemudian.

Berkenaan dengan itu ada kisah unik yang menyertai beliau. Kebetulan, Almarhum kawan dekat mantan ketua PWI Pusat Mahbub Djunaidi . “Saya mewajibkan helm kok malah dibilang macem-macem. Kelak bangsa ini akan akan tahu dan sadar pentingnya helm,” gitu katanya kepada sobatnya.

Saking jujurnya, dia pernah menolak dikasih mobil dan rumah. Waktu itu dia sudah punya mobil dinas kepolisian. Presiden Soekarno menunjuknya untuk rangkap menjabat Dirjen Imigrasi. Nah, Sekretariat Negara (Setneg) memberinya lagi mobil dinas imigrasi, ditolak. Alasannya, mobil dinas kepolisiannya masih ada. Begitu juga ketika menjabat Menteri Iuran Negara, dia menolak rumah dinas di Jalan Protokol. Alasannya, rumahnya di Jalan Prof. Moh. Yamin cukup.

Mestinya Pak Hoegeng layak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Tapi pesan terakhir dia minta dikebumikan di TPU Giritama, Bojonggede, Bogor. Di rumah duka banyak tokoh melayat. Di antara lain, mantan Gubernur DKI Ali Sadikin dan capres Susilo Bambang Yudhoyono. Ali Sadikin juga dikenal jujur. Semoga presiden kita mendatang sejujur Pak Hoegeng dan memperhatikan bikers. Setuju kan Bro!

Doa kami menyertaimu Pak Hoegeng… Alfatihah…

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: