Wed. Sep 30th, 2020

THE BEST OF LASEM, SEBUAH CATATAN PERJALANAN FAISAL MAHBUB

Aku..dirumah kasepuhan Mbah Ma’shoem Lasem
Komplek Pesujudan Sunan Bonang Lasem
Pesantren Kauman Lasem bercorak Cina, diasuh KH Muhammad Zaim Ahmad
KH Muhammad Zaim Ahmad

Pertengahan bulan April 2018 lalu, penulis berkesempatan mengunjungi Kota Lasem yang terletak di Kabupaten Rembang Jawa Tengah.  You know what ? Anda akan dibuat terkagum-kagum dengan Kota Lasem ini.

Gak percaya ? Check it out….

 

Sejarah Kota Lasem mempunyai catatan yang sangat panjang.  Lasem adalah salah satu wilayah vesel kerajaan Majapahit yang sangat diandalkan pada masa itu mengingat kota ini mempunyai pelabuhan laut sebagai jalur perdagangan masa lalu.  Kita mengenal istilah Bhre Lasem, istilah ini dikaitkan dengan gelar seorang pemimpin di Lasem pada masa kerajaan Majapahit, dan dipercayakan kepada kerabat  dekat kerajaan.  Sampai pada masa masuknya Islam ke Nusantara, Lasem menjadi salah satu titik sentral penyebaran Islam.  Ini bisa dilihat dari petilasan Sunan Bonang, salah satu walisongo, yang ada di Lasem.

 

Berlanjut pada masa kolonial, Lasem juga mempunyai posisi penting dalam proses kelahiran sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama.  Adalah K.H.  Ma’shoem Ahmad atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mbah Ma’shoem Lasem, yang menjadi tokoh sentral, bersama-sama dengan K.H. Hasyim Asy’ari beliau terlibat dalam proses mendirikan NU.  Dari tangan dingin Mbah Ma’shoem inilah kelak muncul murid2nya beliau yang manggung di pentas nasional, di antaranya : K.H.  Idham Chalid,  Prof.  H. Mukti Ali,  K.H.  Subhan Z.E,  Prof. K.H.  Syaifudin Zuhri,  K.H. Abdullaah Faqih Langitan, dll.

 

Sekarang saya ingin bercerita tentang “kekuatan” yang dipunyai masyarakat Lasem.  Apa itu ?  Jawabannya adalah toleransi !  Ya, toleransi.  Dimana kata ini menjadi sangat mahal bagi masyarakat di ibu kota saat ini.  Sikap toleransi masyarakat Lasem tidak sekedar hiasan bibir saja atau konsep di atas kertas, tetapi benar-benar dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari.  Salah satu kisah yang bisa menggambarkan ini adalah perlawanan heroik masyarakat Lasem terhadap penjajah Belanda yang terjadi pada tahun 1741 – 1750 yang dikenal dengan Perang Kuning, dimana perang ini dipimpin oleh tiga serangkai dari ras yang berbeda, yaitu : Kyai Badlowi (arab), Raden Panji Margono (Jawa), dan Oei Ing Kiat (Cina).

Keren kan ?

Bangunan bercorak kebudayaan Cina Lasem
Gerbang yang sangat artistik khas Tionghoa
Terawat baik sebagai aset budaya berharga

IKLAN

 

 

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: