Thu. May 13th, 2021

TEST RIDE MV AGUSTA BRUTALE 675: TERNYATA MEMANG BRUTAL…… by Ican

Kisah beberapa tahun lalu…..

Dua hari yang berlimpah adrenalin! Itulah yang saya rasakan saat PT. Moto Arte Indonesia mempercayakan Brutale 675 untuk di test ride. Sepertinya bukan motornya yang di tes, tapi sebaliknya, seolah nyali sayalah yang perlu di uji.

Ketika melihat sosoknya yang cenderung mini untuk ukuran moge, saya agak meremehkan varian terkecil Brutale ini. Ternyata salah! Don’t judge a book from it’s cover. Seharusnya pameo ini saya perhatikan sejak awal sehingga tak perlu tersentak kaget saat merasakan performanya. Yang jelas, Brutale 675 adalah motor yang harus sangat diwaspadai oleh biker pemula agar tak serampangan membuka throttle.

 

DESAIN BODY

Genre sebagai naked – street bike jelas nyata pada desain bodinya. Telanjang tanpa fairing, simpel namun estetis.  Kontur tangki bahan bakar tampak kekar. Bagian atasnya mirip kepala ular cobra, pipih melebar. Bentuk headlamp lonjong berpadu panel instrumen minimalis menguatkan kesan sebagai fighter sejati. Begitupun dengan desain sadel yang kompak dan simpel.

Poin terkuat pada tubuh Brutale 675 ini adalah knalpot tiga silincernya. Unik, artistik dan nyaris mustahil ada plagiatornya.

 

MESIN – PERFORMA

Secara teoritis, mesin 3 silinder memiliki torsi yang lebih besar dibanding mesin lain yang berkapasitas sama. Karakter suaranya juga berbeda dengan mesin lain. Sedikit kasar dan bergetar. Dan ini terbukti melalui Brutale 675. Jika dibandingkan dengan moge pabrikan Jepang, baik yang dua maupun empat silinder, akan sangat terasa perbedaannya. Namun bagi sebagian orang, karakter mesin seperti ini justru disukai, karena terkesan eksklusif, lain dari yang lain. Istilahnya: nyeni! MV Agusta memang mengklaim diri sebagai The Art of Motorcycle, dan bahkan kalimat Motorcycle Art dipajang berdampingan dengan logo kebanggaannya

Pabrikan Italia ini memiliki dua varian motor yang memakai angka 675, yakni F3 675 yang bergenre sport bike serta naked bike Brutale 675. Keduanya menggunakan basis mesin yang sama, berkapasitas 675 cc. Namun sesuai jenis kelaminnya, mesin F3 dan Brutale mendapat setingan yang berbeda. F3 675 diset dengan karakter yang lebih garang agar mampu berkompetisi di sirkuit. Meski begitu, seperti kami sampaikan tadi, performa Brutale 675 jauh melebihi ekspektasi kami tentang sebuah street bike. Rasanya respon mesin in-line tiga silinder ini berada diatas motor sekelasnya. Meski tak sempat mencoba di sirkuit Sentul,  namun jalanan pendek di kawasan Gelora Bung Karno cukup untuk mengakomodir munculnya angka 119 di speedometer digitalnya. Angka ini diraih pada posisi gigi dua, dan putaran mesin masih dibawah red line, status mapping mesin pada mode S (sport) dan kontrol traksi level 1. Artinya, jika trek memungkinkan, angka yang muncul untuk gigi 2 pasti diatas 120 km/jam.

Salah satu fitur yang diunggulkan MV Agusta adalah lengkapnya kontrol elektronis. Untuk setting mapping mesin tersedia empat pilihan. Sedangkan untuk traksi, ada delapan level. Kontrol elektronis terintegrasi khas MV Agusta ini disebut dengan Motorcycle & Vehicle Integrated System (MVICS). Dengan teknologi ini biker dapat mengatur respon mesin dan traksi sesuai dengan kondisi pengendaraan. Pengaturannya bisa dilakukan mudah melalui tombol-tombol di panel setang kiri, dan statusnya terpampang jelas pada panel instrumen. Kami hanya sempat merasakan dua pilihan, yaitu power maksimal dengan kontrol traksi minimal (Mode Sport & traksi 1), serta power minimal dengan kontrol traksi maksimal (Mode Rain dan traksi 8). Memang cukup terasa perbedaan antara kedua settingan ini. Tapi jangan salah, meski pada mode paling jinak, torsi tetap liar.

Di lain hal, karakter perpindahan gigi cenderung kasar, khas motor bertorsi besar. Hentakan saat memindah persneling cukup terasa. Tapi sifat ini memberi sensasi tersendiri. Sepertinya Brutale memang mengajak kita lebih “brutal” untuk mengeksplorasi powernya.

MV BRUTALE rossa part. 030

SASIS, SUSPENSI – HANDLING

Selain performa mesin yang mengagetkan, fitur yang dijagokan PT. Moto Arte Indonesia dari Brutale 675 adalah engineering sasis ALS Steel Tubular Trellis dikombinasikan dengan swingarm alumunium alloy. Ringan, kompak dan rigid. Bobot yang hanya 167 kg memang jauh lebih ringan dibanding motor sekelasnya, bahkan lebih ringan dibanding beberapa motor kelas 250 cc yang beredar disini. Rigiditasnya juga memang layak dipuji.  Namun bagi kami, tubuh yang kompak justru agak “merugikan” karena jika tak teliti melihatnya, tanpa memperhatikan dan mendengar suara knalpot, motor ini bisa samar dengan motor 150cc – 250cc. Hanguslah gengsi, jika motor yang harganya sekitar seperempat milyar Rupiah ini “difitnah” hanya bernilai dua puluh jutaan….

[huge_it_gallery id=”6″]

Berkat paduan sasis dan shock absorber up-side down Marzocchi dan monoshock adjustable dari Sachs, stabilitas dan kemampuan manuver Brutale cukup menggembirakan. Ketika dicoba menerobos kemacetan, zig-zag, meliuk diantara deretan mobil, Brutale sangat patuh pada perintah kemudi. Tidak ada perlawanan dari roda. Anda hanya perlu menyelaraskan power mesin dan berhati-hati dengan tangan kanan Anda karena handel gas amat sangat ringan. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah radius putarnya yang besar. Setang tidak bisa berbelok terlalu tajam karena sudut putarnya memang kecil. Jika dipakai bermanuver di jalan raya memang tidak mengganggu. Namun ketika harus memutar arah di jalan sempit dengan kecepatan rendah, atau saat hendak parkir, akan muncul kesulitan karena tak bisa sekali jalan alias harus mundur dulu.

Disisi lain, tinggi jok yang hanya 81cm akan sangat bersahabat bagi rata-rata tubuh orang Asia. Jika tinggi badan Anda 170cm, kaki dengan mudah menjejak aspal tanpa perlu jinjit. Apalagi bobotnya ringan, setang lebar dan posisi footstep tak terlalu ke belakang. Namun sekali lagi kami ingatkan, ergonomi yang bersahabat ini jangan disalah artikan dengan seenaknya memutar handel gas karena bisa-bisa Anda tak sanggup mengantisipasi kebrutalan mesinnya.

SPESIFIKASI

Mesin & Transmisi

Tipr: 675 cc, 3 silinder in-line, 4 stroke, 12 valve, DOHC, liquid cooling.

Electronis: Integrated ignition – injection system mvics, engine control unit eldor em2.0, throttle body full drive by wire mikuni, pencil-coil with ion-sensing technology, control of detonation and misfire.

Torque control with four maps, traction control with eight levels of intervention

Transmisi: 6-speed, constant mesh

Performa: 108,5 HP/12.500Rpm, 65 Nm/12.000Rpm, Top Speed 225 km/jam

 

Sasis, Suspensi & Roda

Sasis                       ALS steel tubular trellis,  rear swing arm pivot platesaluminium alloy

Suspensi                Depan: Marzocchi “upside down”

Belakang: progressive Sachs, single shock absorber, adjustable

Rem                       Depan : Brembo, steel, double disk 320 mm, 4 piston

Belakang: Brembo 220 mm, steel, single disc, 2 piston

Roda                      velg alumunium alloy, depan 3,5”x17, belakang 5.5”x17, Ban depan 120/70-ZR17, ban belakang  180/55-ZR17

 

Dimensi

P x L                                        2,060 x 725 mm

Jarak sumbu roda             1,380 mm

Tinggi Jok                             810 mm

Berat kosong                       167 kg

Kapasitas tangki BBM       16,6 lite

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: