Tue. Jul 23rd, 2019

TELUSUR PANTAI SELATAN JAKARTA-CIDAUN CIANJUR -RANCABUAYA GARUT-PANGALENGAN BANDUNG…Written by Isfandiari MD

…. Terus terang nggak ada konsep yang pasti termasuk arah tujuan untuk Journey kali ini. Bayangannya cuma keluar dari Jakarta menuju Selatan dan terus menyelusuri Pantai pessir samudra Indonesia untuk kemudian masuk lagi ke Tengah memasuki Bandung dari arah Selatan. Saat Bikers melontarkan wacana ini, ada satu peturing yang mau ikutan, dia adalah Bro Novaro Rambing yang pede dengan tunggangannya Dadyw Regal Raptor DD250e, desain ala baby Harley buatan Cina…..

Melompat di Rancabuaya..yesss!

Kami memilih dua tunggangan berbeda karakter. Satu punya roh moge, Kawasaki Ninja 650 fulldressed berdesain sport bulldog, dan kedua Minerva X-Raptor 200 cc. Ketiga dari kami nggak start berbarengan dan janjian ketemu di daerah Parung Bogor (25/4) sebelum matahari tergelincir ke Barat. “Pokoknya kita ke selatan, bagaimana kalau ke Cianjur dahulu dan terus menuju pantai lewat Sukanagara, Cidaun?” ajak kami. Tak ada argumentasi berarti, kami lantas tancap gas.
Diputuskan lewat jalur normal dahulu, kearah Puncak masuk kota Cianjur. Setidaknya ada dua tempat yang mungkin bisa dikunjungi, pertama rumah makan H. Nana, di Ir. Juanda 66 Panembong yang menyediakan makanan Sunda yang enak dan bengkel Edi Motor di Jantung kota Cianjur. Dua tempat ini punya cerita sendiri-sendiri, RM H. Nana cocok untuk mengisi ‘bahan bakar’ penggugah selera lewat masakan khas Sundanya. Selepas dzuhur, kami sudah sampai di rumah makan yang terbilang sederhana ini. Menu yang ditawarkan variatif dan cocok untuk para peturing. Sebagai gambaran, untuk makan 4 orang, menu relatif mewah plus juice buah-buah-buahan, penjaga kasir , mojang Cianjur yang caem cuma menagih Rp 85 ribu rupiah. Sangat worthed untuk menu-menu, pepes ayam, ikan, udang, sayuran dan beberapa kudapan. Di parkiran, ojeker dan penduduk yang melintas banyak yang berhenti dan mengagumi desain Jinja 650 dan Minerva.
Dari situ kami langsung cabut ke bengkel Edi Motor,di Jl. Muwardi By pass Cianjur. Bengkel ini terbilang unik. Menerima semua jenis motor mulai lawas sampai baru, digawangi bapak-anak, bro Edi Sediawan dan Kiki Mambo. Kalau jeli, peralatan bengkelnya punya nilai historis, he..he..lihat obeng ketoknya, saking sering diketok, besinya sudah menggulung dan cuma menyisakan sedikit pegangan tersisa.”Sudah dipakai dua generasi, saat bapak saya memulai karir bengkel sampai ke saya,” kekeh Kiki. Sebuah cerminan kerjakeras yang layak jadi inpirasi! Sebagai bukti kami sempat menjepret obeng ketok ‘pusaka’ ini berikut dua generasi sang pekerja keras, Edi dan Kiki. Chessssss!

Tangkapan mang Rambing…. Bener nggak?

TURING SESUNGGUHNYA BARU MULAI
Dilepas Bro Kiki di perbatasa Cianjur, kami lanjut ke Journey sesungguhnya. “Isi bensin penuh disini bro, untuk jalur ke Rancabuaya, via Sukanagara-Cidaun jarang pom bensin. Apalagi setelah lepas Sukanagara sampai sisi pantai, sudah tak ada lagi,” saran Kiki.
Kondis jalan antara Cianjur, Cibeber-Sukanagara, Cibinong terus ke Cidaun bervariasi . Dalam skala 1-10, kondisi jalan ada dikisaran antara 5-7 point. Artinya, dalam kondisi terparah, masih layak dilewati motor-motor non trail. Beberapa puluh kilometer jalannya mulus dengan , hotmix kualitas baik. Di beberapa zona layak juga waspada, jalanan berpasir dan kerikil-kerikil kecil siap menghadang. Hati-hati melakukan fast corner apalagi di areal perkebunan teh, jalan mulus kadang menjebak, tiba-tiba ada pasir atau kerikil juga tikungan sempit dan berjurang-jurang. Ukur riding skill masing-masing, jangan terlena, apalagi antara Cianjur sampai Cidaun, sampeyan sudah riding di kisaran 3 jalan ke atas, stamina mulai terkuras dan kewaspadaan menurun.
Lansekap di zona ini terbilang memesona. Jalanan relatif sempit, keluar masuk hutan kecil dan perkebunan teh. Di horizon disuguhi dataran luas, lebah lebar mirip kayak pemandangan di grand canyon Amerika. Bedanya di sini lebih sejuk dan hijau, beda sama Amerika yang tandus, which means, Indonesia masih jauh lebih indah Bro! menjelang sore dan malam, pemandangan berubah khas pemandangan sekitar pesisir pantai. Banyak dijumpai jembatan-jembatan menyebrangi sungai-sungai yang masih bening jauh dari polusi kota. Silakan mampir ke warung-warung makan di areal Cibinong, Bungbulang atau Sindangbarang, mereka bayak menyediakan kuliner khas terutama menu gulai ikan pari yang enak memanjakan lidah. Waktu itu kami menikmatinya saat hari sudah gelap.”Dari sini sampai Rancabuaya, sekitar 1 jam perjalanan, kalian akan melewati belasan jembatan, harusnya saat masih terang jadi bisa menikmati pemandangan pesisir,” jelas ibu warung nasi saat kami rehat.
Menyelusuri pantai malam tapi cerah menuju Ranca Buaya punya sensasi tersendiri. Deru ombak pantai Selatan terdengar bergolak, sat itu langit cerah, langit hitam kebiruan dengan bintang-bintang bertaburan. Cahaya bulan sedikit memberikan warna, alam Selatan yang mistis dan penuh pesona. Jalanan disini mulus, dinamis naik-turun diisi tikungan yang enak diajak rebah. Buat meeka yang pakai helm full face, sepertinya nggak terlalu khawatir, tapi untuk penyuka angin menabrak pipi dan kacamata sekedarnya, harus hati-hati. Jika kurang beruntung, brothers bisa kelilipan serangga malam, kupu-kupu putih atau laron yang kita langgar. Rasanya perih sekali bro! Untung waktu itu gerbang Ranca Buaya sudah di depan mata, kami lantas mencari hotel terdekat.

doronggg……



RANCABUAYA-PANGALENGAN-BANDUNG

Dua tipikal hotel bisa dijumpai di sini. Kategori mewah ada di ksiaran Rp 200 sampai 350 ribu, dan villa satu keluarga 4 kamar di kisaran 1.5 juta. Atau bisa juga hotel kelas lebih bawah, disediakan penduduk setempat persis di pingir pantai. Sebenarnya ini rumah penduduk yang disewakan atau warung-warung kopi berloteng dengan kamar-kamar apa adanya. Penduduk kecamatan caringin Kabupaten Garut ini mematok tarif di Rp 100 ribuan ke bawah lengkap dengan fasilitas jas bakar ikan yang bias dibeli di pasar Ikan masih di lokasi ini. Sebagai gambaran, kami kakan Ikan Cakalang dan sejenisnya cukup untuk 4 orang, dipatok Rp 100 ribu plus air mineral dan es. Makannya juga nyaman, mereka menyediakan gazebo gazebo sederhana tepat di bibir pantai.
Ngomongin soal pantai, Ranca Buaya belum terlalu populer dibanding Pangandaran Ciamis atau Pelabuhan Ratu Sukabumi. Soal keindahan nggak kalah indah. Zona ini menawarkan pasir pantai putih juga hitam termasuk gugusan karang yang menarik buat dinikmati. Pasar tradisional milik nelayan lokal juga asyik buat penikmat kuliner laut. Selain tongkol, ada juga udang lobster,ikan pari dan banyak lagi tangkapan laut dengan harga terjangkau. Buat peturing, pencapain ke lokasi ini bisa ditempuh dengan dua cara. Ingin lewat pesisir, silakan mencari rute lewat Sukabumi, ujung genteng menyelusuri pantai dan atau dari Timur, mulai dari garut lewat pantai pameumpeuk terus selusur ke arah Barat, ketemu deh, Ranca Buaya.
Jalur pegunungan, bisa kita jajaki waktu kita lepas dari Rancabuaya menuju Bandung. Lepas dari garis pantai kita langsung lanjut ke Utara, naik ke gunung zona Cisewu berujung di Pangelangan. Pemandangan cukup khas, lepas dari kita bakal terus naik hingga bisa melihat keindahan pantai Selatan dari ketinggian. Sayangnya jalanan di rute ini cukup melelahkan. Kondisi jalan nggak sebaik jalur Cianjur-Cidaun. Penuh jalan berlubang sempit dan sangat menguras tenaga. Kalau kehabisan bensin, jangan berharap ada pom di areal ini, penduduk menyediakan bensin eceran seharga Rp 5.500 perliter. Disarankan jangan terlalu konsen dengan kepenatan kondisi jalanan ini. Silakan menikmati alam yang indah dan suasana pedesaan yang ada. Penduduk di sini relatif ramah dan terbuka. Kita bisa ngobrol ngalor ngidul di tiap warung yang ada, bicara asyik tentang budaya dan suasana pedesaan sampai lupa waktu. Tapi ingat, jangan sampai masuk saat hari sudah gelap. Disamping sepi, jalanan berlubang sangat berbahaya apalagi buat rider pemula.
Masuk Pangalengan, suasana sudah lain banget! Ini tipikal khas suasana priangan timur seperti masuk lorong waktu saat none none belanda dan mandor kebun masih wawa wiri. Gimana nggak, kebun the terhampar, suasana berkabut dan pabrik the yang sudah ada sejak jaman Belanda. Benar kata orang tua dulu, zona yang masuk Bandung Selatan ini memang suranya orang pembuangan, dulu disebut dijuluki Paradise in Exile atau Preanger Planters tempatnya sinyo-sinyo dan pengusaha sukses orang Belanda.
Urusan riding..disinilah tempatnya. Bayangkan, alam dingin berkabut, aspal hotmix kualitas baik, marka jalan terlihat jelas dan tikungan mengikuti kontur gunung persis di kaki Gunung Malabar. Penduduk disini masih banyak yang pakai pakaian khas sunda, celana pangsi dan ikat kepala. Tiap berpapasan mereka mengangguk dan tersenyum ramah. Sebuah tanda kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi. Terus terang, pengalaman seperti ini sudah jarang dialami di tempat-tempat lain.
Barulah kita masuk kota Pangelangan, kota dingin tapi penuh aktivitas. Di sini jajanan pasar dan kludapan khas priangan banyak dijumpai. Kamipun terus turun menuju kota Banjaran yang dulu jadi basis perjuangan saat pecah pedang mempertahankan kemerdekaan antara RI dan Belanda. Kota ini nggak banyak berubah, masih semrawut dan kurang tertata. Waktu itu hujan turun dan kami memasuki Bandung saat hari menjelang malam. Lelah namun penuh kesan!
See u all in the next tour!

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: