Mon. Aug 10th, 2020

SHARE USMAN MAHRIE Kopi PARADOKS PELAJARAN HIKMAH

Hmm.. Paradoks memang,

Seperti saat ini, di sikon & kondisi covid-19 ini, ketika hampir di semua org dlm kondisi kekurangan finansial, dan sering merasa “mau berhutang” krn gak bisa beli sembako utk kebutuhan hidup, bahkan utk istri & anak2 nya. Atau mungkin jg sdh sampai pd kondisi berubahnya makna niat, dari niat wajib berpuasa romadhon mnjd dlm kondisi niat puasa mutlak. Atau malah mungkin utk bbrp umat muslim, sdh ada yg pd kondisi tdk jelasnya akan bertemu dgn apa yg akan dimakan nya hari ini & hari esok. (tdk wajib nya berpuasa.)

Di sinilah tekad saya mengatakan bhw kaya materi itu penting & wajib,  ya setidaknya pd state tdk kekurangan lah.

Di hikmah covid-19 ini kita dpt meliat & menyaksikan kualitas diri sendiri & org2 disekitar jg yg di luar sana, pd kualitas diri masing2 org yg sesungguhnya & sebagai pribadi seutuhnya. Bkn lg dgn predikat yg melekat pd diri, titel, atau apapun sebutannya, jg sosok figur & sosial nya. Mau itu yg ber intelektual tinggi, yg agamis atau apa & siapapun profesi & org nya, akan terkuak kebenaran yg tersembunyi dibalik kulit yg hanya sebagai  pencitraan.

“Miskin itu gak enak !! ” Di bagian inilah, yg menggerakkan saya. Sekaligus ingin menasihati diri agar sangat disiplin utk selalu  bersedekah, membayar zakat harta & dlsb. Kalo pemasukan kita besar, tabungan kita banyak, zakat & sedekah kita besar jg jumlahnya.

Tapi ketika mengetaui fakta, bhw tdk sedikit org yg memiliki bnyk harta mrk msh aja sulit bahagia, bahkan tdk bahagia. Saya berkesimpulan bhw kaya materi itu pd satu level tertentu adlh “tdk penting”  Krn ujung2 nya adlh hanya “benda abstrak”. Dan brnama kebahagiaan lah yg dicari dibalik apapun yg dikejar manusia. Pd esensinya.

Jadi bgmn ?

Saya baca tulisan sese org teman, Juga menyimak materi seminar “Five Level of Happiness” bbrp kawans. Saya temukan missink link nya. Password yg menjembatani smuanya adlh kata RASA CUKUP.  Ya, kata itu yg menjembatani antara kata “miskin – kaya  – & bahagia”.

Saya jd ingat, pertama kali, saya mendapatkan wejangan tentang RASA CUKUP dari Guru spritual saya, sewaktu ikutan karantina dlm meditasi selama 41 hari di gunung ciremai yg berhutan.

So, saya kira begini,  “Kalo kita tdk mampu memenuhi kebutuhan minimal utk bs hidup, beli makan aja gak mampu, itu namanya miskin.  Saat kita sdh terpenuhi kebutuhan minimal utk bs hidup, itu kita tdk miskin / tdk kekurangan.  Namun, saat kebutuhan minimal utk bs hidup sdh oke, tdk kurang, bahkan sudah melampaui yg kita butuhkan (lebih), namun kita msh aja menderita, tdk bahagia, berat utk berbagi, selalu aja merasa kurang. Itu tanda, kita kembali mnjd miskin. Bkn miskin secara fisik, tapi miskin secara bathin (mental). Dan ini obatnya cuman satu , Yaitu, hadirnya RASA CUKUP”

@abiemahry-getarkan rasamu

 #SafariKesadaran #AmatiDiri_RasaSyukur #Akses_HadirkanRasaBerkecukupan #Covid-19 #Spiritualism #Psikolinguistik #BrsmJMN #SemuaMakhlukBahagia #im sorry-i thx u-i lv u all soul-please forgive me

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: