Sun. May 26th, 2019

SERI PENGETAHUAN: YUK NGOBROLIN LENGAN AYUN… Written By:Isfandiari MD

Sok teleskopik biasa? Aduh, gimana ya.., kurang gaul en canggih gitu! Sekarang ini builder lagi doyan menerap kontruksi lengan ayun depan. Bisa double side front bisa juga single.

     Kenyataannya sih, terapan ini masih berkutat di soal gaya. Apalagi untuk mengejar tempat terhormat di kontes motor, jelas tujuan utama masih berkutat di estetika show bike.

     Sejatinya, terapan sistem ini demi kenyamanan nyemplak. Pasalnya, lewat cara begini, suspensi, pengereman dan sasis  jadi bekerja sendiri-sendiri. Nah, penasaran khan dengan konstruksi lengan ayun depan? Mari memerinci segi-seginya. Dijamin jadi bahan gaul sip kalau sampeyan lagi nongkrong!

Britten V1000

SISTEM RADD

     Suspensi lengan ayun depan emang unik. Selain tongkrongannya makin canggih, peredaman juga makin smoothYuk ngobrol masa lalu. Benernya lengan ayun model begini udah dilakoni dari dulu banget. Motor scooter semisal Vespa atau Bajaj sudah melakini lengan ayun depan dengan konstruksi sederhana. Tapi cerita paling spektakuler saat taon 70-an. Waktu itu, builder James parker bikin proyek berjuluk Elf-X. Ia kerja di perusahaan Rationally Advanced Design Development alias RADD. Lengan ayun depan yang dirancangnya berkontruksi tunggal, single side front swing arm.

     Dari kerja kerasnya ini James berhasil mematenkan produknya dengan nama sistem RADD. Awal 90-an, pabrikan Yamaha tertarik menerap konstruksinya dan berhasil mengadopsinya di Yamaha GTS 1000.

Yamaha GTS 1000
Yamaha GTS 1000

MOTOR-MOTOR SIP LENGAN AYUN DEPAN

BIMOTA TESI 1D

     Taon 1982, publik pameran motor di Milan Italia melongo. Gimana nggak, pabrik kecil berngaran Bimota pede mamerin motor sport dengan konstruksi jauh ke depan. Inilah Bimota Tesi 1D. Motor ini berkapasitas 904 cc, kekuatan 118 dk dalam kitiran maksimal 9.000 rpm. Berat bersih 188 kg dengan kecepatan maksimal 266 km/jam.

     “Untuk ngomongin lengan ayun depan, motor inilah yang paling saya ingat,” nilai Suharno, ketua BMW Club Jakarta. Dia ketemu Em-Plus saat nongkrong di Monas, malam Minggu lalu. Keistimewaan Tesi memang di sektor depannya. Lengan ayun depan canggih. Selain meredam sempurna getaran dari jalan, steering arm-nya juga layak dicermati. “Sama persis dengan mobil. Saat rider menekuk setang, arm depan sama sekali nggak terganggu. Cuma roda saja yang bergerak kiri-kanan,” jelas Suharno. Perhatikan gambarnya, Arm depan sengaja lebar agar roda bisa bergerak bebas kiri-kanan saat dikemudikan ridernya.

Bimota Tesi
Bimota Tesi

YAMAHA GTS1000

     Inilah motor Jepang produksi masal pertama yang menerap lengan ayun tunggal di depan  berjuluk RADD System sesuai kemaian penemunya James Parker. Kapasitas tepat 1.002 cc, kekuatan 100 dk dalam 9.000 rpm. Berat bersih 251 kg dengan kecepatan sampai 213 km/jam.

     Mesinnya  diadopsi dari yamaha FZR1000, pasokan bahanhj bakar suistem injeksi lengkap dengan katalitik konverter. Pengereman menggunakan ABS dan cocok untuk biker senior yang sudah berpengalaman. Motor yang digambar berangka tahun 1994.

Yamaha GTS 1000

Britten V1000,V1100

     Bisa dibilang inilah motor paling  eksotis yang menggegerkan rakyat bikers dunia. Gimana nggak, V1000 dan V1100 dibuat seorang jenius asal New Zealand, John Britten di garasi rumahnya. Spek mesin ini memang sip. V1000 menganut 4 katup per-silinder dengan kekuatan 155 dk dalam kitiran maksimal. Sedang V1.1000 punya 5 katup per-silinder dengan power 170 dk

     Dengan rancangannya, ia pede menantang pabrikan gede di ajang balap dunia macam Battle Of The Twin, Daytona Racing. Lawan-lawannya ya, Honda, Suzuki, Yamaha juga Ducati. Hasilnya nggak mengcewakan, ia mendapat tempat terhormat di ajang BEARS alias British, european, American Racing Series. Nggak cuma itu, Britten sempat menjadi jawara dan  memecahkan rekor kecepatan di ajang ini.

     “Saya sangat mengunggulkan konstruksi bodi dan lengan ayun depan RADD untuk motor ini,” ulas John pada National Geographic. Rancangannya sangat aerodinamis. Ia bilang, angin yang menerpa dari depan akan mengalir ke tengah  dan belakang bodi motor. Lantas ia akan menekan ke bawah hingga motor tetap menapak dengan baik saat kecepatan tinggi. Makin klop, lengan ayun depannya membuat handling lebih smooth. Konstruksi inilah yang dikagumi para pesaingnya di ajang balapan dunia.

Sayang  John meninggal karena kanker dalam usia 45 tahun. Atas dedikasinya ini John dianugrahi penghargaan dari  NZ Engineers Institute and Posthumously dengan Entrepenurial Engineer Award. Sekarang ini hanya ada 10 motor Britten di dunia dan tersebar di berbagai museum dan kolektor berkelas.

John Britten dan karya historikalnya.

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: