Tue. Jul 23rd, 2019

Seniman Puisi Navida Suryadilaga

SKUTERIS CEWEK PECINTA SENI

 

Jangan ngiri ya..ridingread.com berkesempatan hang out  sama cewek yang nyeleb diantara para seniman di Coffe n Dine Jl. Linggawastu no. 4 Bandung. Namanya ngobrol sama seniman, kita kadang harus ekstra konsentrasi menyimak kata-kata puitis dalam dalam dari bibir Navida. Misalnya saat ia  menuturkan intimasi aksara dan secangkir kopi dalam  puisi. Ia  bicara tentang bagaimana generasi milenial mendefinisikan rasa, rindu, pilu, peluh, dan pernik pergulatan batinnya. ”Pengalaman ini aku dapatkan dari masa kecil sampai sekarang,” buka skuteris yang pernah down karena kecelakaan motor 2 tahun lalu ini.

ridingread bareng Navida di coffee n dine Bandung

Memang dalam nih. Sejak muda pikirannya sudah gundang dan terus berputar mengeksplorasi kenyataan hidup empirik dan imajiner yang dialaminya. ”Aku mempertanyakan eksistensi keperempuanan melalui aksara. Semuanya didapatkan  saat bertemu rokok di malam sepi,” katanya dengan nada khas seniman puisi. Obrolan dengan cewek Libra lansiran 2 Oktober 1995 ini makin intens.  Ia bertutur ikhwal dunia puisi. ”Mulai suka baca puisi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku gandrung menikmati karya Khalil Gibran, Jallaludin Rumi, Farrarudin Attar, Djenar Maesa Ayu, Binhad Nurrohmat dan Moammar Emka.

Semuanya mempengaruhi gaya aku menulis yang cenderung melankolis namun liar. Seiring berjalannya waktu, aku semakin larut mencintai dunia seni dan memutuskan untuk mengambil studi Teater di Sekolah Menengah Kejuruan Seni Pertunjukan. Sejak itulah, tekadku sebagai seniman peran makin kuat . Setelah lulus sekolah, aku aktif berkegiatan sosial di Kampung Pasundan sebagai Pelatih divisi Seni Pertunjukan Teater dan Tari Tradisi dengan sukarela,” bebernya.

 

KARIR NAVIDA

 

Selama jejak karir Navida sebagai pembaca puisi, ia juga beberapa kali mementaskan pertunjukan Teater diantaranya Pop Opera Gonjang-Ganjing Nagri Kuring karya Nano. S (2010), D.O.R karya Putu Wijaya (2011), Random Girl karya James Courey Kaufman (2015). Tidak hanya di panggung ia pun menggali seni peran dalam bingkai di film Rembah Pribumi karya Gracia Tobing (2015). Kepulan asap rokok yang dihirupnya menjadi dialog dirinya dengan dirinya sendiri sehingga membuahkan tulisan, beberapa diantaranya sebuah puisi “Toilet” dalam rangkaian kegiatan Indonesian Poetry Battle dan beredar di Jerman (2015), satu buku kumpulan puisi Cawan Aksara (2016) dan antologi puisi Sudut Sastra (2017). Ketertarikan Navida terhadap isu Perempuan, Gender dan Seksualitas membuat dirinya sempat berkolaborasi dalam Visual Poetry Project bersama Gandiva Arungirora.  Di situ ia mengeksplorasi kenyataan hidup yang dialaminya, baik imajiner maupun empirik. Doi mempertanyakan eksistensi keperempuanan melalui aksara yang mulai akrab dan dijiwainya setiap bertemu dengan rokok, malam, sepi, dan pertautan rasa-dirasa.

 

By: Eko Reborn
Foto: Dok. Navida Suryadilaga

 

 

 

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: