Sun. May 26th, 2019

RIDING SESUAI TUNTUNAN AGAMA By Isfandiari MD

Islam mengajarkan kepada kita agar senantiasi bersyukur akan nikmat Allah. Saat kita riding, kita senantiasa wajib sadar untuk mengingat Allah dan mensyukuri nikmat-Nya. Dalam, surat An-Nahl:8 Allah berfirman:
وَالْخَيْلَ وَالْبِغالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوها وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لا تَعْلَمُونَ
“Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (QS. An-Nahl: 8 )

Menyusukuri nikmat itu tak sebatas karena bagusnya kendaraan atau seberapa beraratinya kendaraan itu mengantarkan kita dengan cepat ke tempat tujuan tapi juga kepada rasa syukur akan karunia yang diberikan Allah kepada kita. Untuk itu wajib kiranya kita sebagai manusia menjalankan adab-adab yang syar’i ketika riding. Dalam hal ini Rasulullah SAW mengajarkan pada kita akan hal ini seperti diriwayatkan Ali bin Robi’ah berkata, Aku menyaksikan Ali -radhiyallahu ‘anhu- ; didatangkan suatu kendaraan (kepadanya) agar ia mengendarainya. Tatkala ia menginjakkan kakinya pada kendaraan, ia berkata, “Bismillah“. Tatkala beliau berada di atas punggungnya, beliau berkata, “Alhamdulillah“. Kemudia beliau berdo’a,
“Subhaanalladzi sakhkharo lanaa haadza wamaa kunna lahu muqriniin”
Kemudian beliau mengucapkan, “Alhamdulillah” sebanyak tiga kali ; lalu mengucapkan,”Allahuakbar” sebanyak tiga kali. Lalu berdo’a,
سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فاَغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Lalu Ali bin Abi Tholib tertawa. Beliau ditanya, “Kenapa Anda tertawa?” Beliau menjawab, “Aku telah melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah melakukan apa yang aku lakukan, lalu beliau tertawa…”. [HR. Abu Dawud (2602), At-Tirmidziy (3446), dan An-Nasa’iy dalam Al-Kubro (8799, 8800, & 10336). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Mukhtashor Asy-Syama’il Al-Muhammadiyyah (198)]
Tak hanya itu, bikers yang taat akan senantiasa mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah dimana mereka tinggal. Kewajiban mematuhi aturan lalu lintas, memakai perlengkapan safety wajib dan lain sebagainya. Hal ini juga diajarkan dalam Islam sesuai dalil yang difirmankan Allah SWT:“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu”. (QS. An-Nisaa’: 56).
Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
“Wajib Bagi seorang muslim untuk mendengar dan mentaati (penguasa) dalam perkara yang ia cintai dan ia benci selama ia tidak diperintahkan (melakukan) suatu maksiat. Jika ia diperintahkan bermaksiat, maka tak boleh mendengar dan taat (kepada penguasa)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Ahkam (4/no. 6725) & Kitab Al-Jihad (107/no. 2796), Muslim (1839)]
Al-Imam Abul ‘Ula Al-Mubarokfuriy-rahimahullah- berkata, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa jika penguasa memerintahkan perkara yang mandub (sunnah), dan mubah (boleh), maka wajib (ditaati). Al-Muthohhar berkata, “Maksudnya, mendengarkan dan mentaati ucapan penguasa adalah perkara wajib atas setiap muslim, sama saja apakah penguasa memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya ataukah tidak. Tapi dengan syarat penguasa tidak memerintahkannya untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintahkan berbuat maksiat, maka tidak boleh taat kepadanya (saat itu, –pent). Namun tak boleh baginya memerangi penguasa”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (5/298)]
Dalam hal ini jelasla danya, bahwa kepatuhan kita kepada peraturan yang ditetapkan pemerintah adalah wajib dipatuhi selama peraturan itu tidak melanggar syariat Islam. Seorang ulama kota Madinah dan mantan Rektor Islamic University of Madinah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad -hafizhahullah- dalam suatu majelisnya pernah menjelaskan bahwa mentaati lampu merah dan rambu-rambu yang dibuat oleh pemerintah di jalan-jalan adalah wajib, sekalipun hukum asalnya adalah mubah. Tapi hukumnya berubah karena ada perintah dari penguasa. Sedang jika penguasa memerintahkan sesuatu yang mubah atau sunnah, maka hukum perkara itu jadi wajib berdasarkan ayat dan hadits di atas.
Selanjutnya, etika kita saat riding, tingkh laku di jalanan juga diatur dalam Islam. Prilaku ugal-ugalan di jalan, membahayakan keselamatan diri dan orang lain misalnya sangat dilarang dalam agama. Hal ini dicontohkan Rasulullah dalam sabdanya:
إِنَّ دِمَاؤَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا فِيْ بَلَدِكُمْ
“Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah haram (mulia) atas kalian seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1218)
Maksud dari hadis ini sangatlah jelas. Darah dan harta seorang muslim haram kita ganggu, apalagi ditumpahkan dan dirusak, karena harta dan darah seorang muslim memiliki kemuliaan di sisi Allah. Hadis nabi ini bisa kita hubungkan dengan prilaku riding ugal-ugalan yang jelas-jelas dilarang oleh agama.
Moga keterangan ini membuat semua bikers sadar. Pertama, kita ahrus pintar-pintar bersyukur akan nikmat Allah saat kita dikarunia motor yang bagus dan bisa mengantarkan kita kemanapun yang kita mau. Memperlakukan motor pun harus sesuai adab yang diajartkan dan dicontohkan rasulullah SAW. Saat memiliki motor, kita wajib mematuhi aturan-aturan yang ditetapkan pemerintah, memiliki surat kelengkapan dan memakai peralatan safety riding yang sah. Terakhir, kita harus sadar bahwa prilaku riding berhubungan langsung dengan orang lain. Riding secara uga-ugalan, sok jagoan sangat membahayakan diri kita juga orang lain. Hal ini ini harus disadari penuh agar kita tidak melakukan hal ini, tidak menimbulkan rasa tak nyaman kepada pengendara lain atau menimbulkan rasa takut.dalam hal ini rasulullah bersabda:

لَايَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا
“Tidak halal bagi seorang muslim untuk membuat takut seorang muslim”. [HR. Abu Dawud (5004). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Maram (447)
Artinya jelas, haram hukumnya jika solo ride atau kita konvoi ugal-ugalan atau melakukan balap liar di jalanan.

Iklan

Terkadang, beberapa

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: