Tue. Jul 23rd, 2019

RENGGAS DENGKLOK DAN HIKAYAT AKI MASRIM Written By : Isfandiari MD

….. Sore hampir saja jatuh di dataran kering Renggas Dengklok. Beberapa petani menamaki jalur-jalur kehidupan mereka di hari itu. Sawah membentang dan tanah memerah jadi ritme kehidupan yang penuh kesahajaan. Puluhan tahun silam, keadaannya tak banyak berubah, hanya saja saat itu Negeri kita sedang berjuang menuju kemerdekaannya, dalam kisah heroik Renggas Dengklok puluhan tahun silam……

Kami ingin sekali merasakan rasa heroik di hari itu. Dalam keleluasaan waktu, kami sempatkan naik motor menuju wilayah ini. Masuk wilayah, Rengas Dengklok, rasa nasionalisme mulai diraba oleh informasi penduduk setempat ikhwal sepak terjang Aki Masrim. Ia adalah keturunan penyebar agama Islam dan Tumenggung asal Cangkuang Garut, Syeikh Arif Muhammad.
Beliau inilah pemimpin perjuangan melawan Belanda di Renggas Dengklok. Beliau jugalah yang mengamankan proklamator RI, Ir. Soekarno saat diculik para pemuda pada 16 Agustus 1945 dini hari bersama ibu Fatmawati dan anaknya Guntur, berkenaan dengan kemerdekaan RI sehari setelahnya.
Yang membuat salut, wilayah seluas 500 km persegi ini telah mencatat peristiwa spektakuler. Dari catatan sejarah, rakyat disini berhasil melucuti tentara Jepang pada 14 mei 1945 dan menurunkan bendera Jepang lantas menaikkan sang saka merah putih. Berarti dari tanggal 14 Mei sampai proklamasi 17 Agustus, bendera RI sudah berkibar di sini. Rakyat menyebut Rengas Dengklok sebagai RI darurat dan mereka bangga bahwa di daerah inilah merah putih kali pertama berkibar. Syukurlah di wilayah ini dibangun tugu peringatan dengan desain yang bagus sekali. Sayang pemda setempat tidak merawat ideal tugu ini dan tampak kusam terbengkalai. Namun, itu tak mengurangi kekaguman kami pada Aki. Setelah merdeka, beliau hanya menjabat sebagai lurah Bojong dan terkenal arif tanpa membedakan suku agama dan ras.

Tak jauh dari tugu ada bangunan bersejarah lainnya. Tempat itu tak lain adalah rumah seorang etnis Tionghoa, Djiaw Kie Siong yang didatangi dwi tunggal Soekarno-Hatta sebelum merdeka. Kisah bermula saat Sukarni pergi ke Cikini No. 71 Jakarta bersama Yusup Kunto Mereka menemui pemuda-pemuda yang dipimpin Chairul Saleh. Inti pertemuan membahas ‘penculikan’ Soekarno-Hatta ke markas tentara PETA di Rengas Dengklok. Mereka khawatir jika dwitunggal ada di Jakarta, akan ditindas Jepang dan menghalangi tercapainya proklamasi kemerdekaan. Mereka juga tak sudi jika kemerdekaan ini dihadiahi para penjajah. Singkat cerita, para pemuda bertamu ke kediaman Soekarno-Hatta pada pagi buta.. Menurut kisahnya, kedua tokoh utama negeri ini sangat kesal dibangunkan pagi-pagi. Merekapun pergi ke Rengas Dengklok pukul 4.30 WIB.
Rumah sederhana namun kaya cerita sejarah ini seakan bercerita pada kami. Ya..rumah milik Djiaw. Sayangnya kediaman asli sang kakek sudah hilang digerus kali Citarum, hingga kami mendatangi rumah keturunannya yang masih menyimpan berbagai barang langka seperti tempat tidur, kursi dan lainnya. “Abah pas bersalaman dengan Bung Karno sempat tidak percaya. Pemimpin bangsa kok kaosnya bolong,” kisah. Djow Kwin Moy cucu sang kakek .
Romantisme sejarah memang mengesankan!



Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: