Thu. May 13th, 2021

Jentre Band, membuka dengan mars NU Yaa Lal Wathan

PERINGATAN 100 TAHUN PESANTREN AL HIDAYAT LASEM DARI JEFFREY POLNAJA SAMPAI KONSER ROCK By Isfandiari MD

 

Keceriaan Santriwati Kauman

…… Moment yang inspiratif! Tokoh Islam, Kiai kharismatik menggandeng tokoh agama lain, Kristen,Katolik, Hindu, Budha naik ke panggung. Mereka didaulat untuk bersama-sama membuka peringatan 100 tahun Pesantrenn Al Hidayat bersama pejabat setempat. Inilah  idealnya Indonesia dan Lasem  mampu memperlihatkannya….

Asyiknya mengitari pesantren naik motor klasik

 

 

Pintu kediaman Gus Jaim di lingkungan pesantren Kauman bertuliskan aksara Tionghoa. Kang Boim, bikers dan aktivis Ansor Cimahi sedang menikmati kaligrafi ini

 

Bagi kami, daerah Lasem Jawa Tengah adalah zona yang sangat inspiratif. Di sana, semua masyarakat damai dan tentram. Penganut agama bersanding nyaman saling hormat  tanpa masalah. Gereja, masjid dan wihara berdampingan.  Antar umat beragama berbagi kopi di warung-warung. Malah, penganut Budha, Hindu ,Kristen juga katolik  rileks menghabiskan waktu senggangnya di lantai pesantren.

Inilah yang dirasakan saat ridingread.com hadir di tengah-tengah peringatan 100 tahun pesantren Al Hidayat Lasem (21 Oktober). Malam sebelumnya, kami disuguhi pemandangan tak bisa saat bersua Jeffrey Polnaja, peturing dunia dalam program spektakuler Ride For Peace, 420.000 km merengkuh 97 negara. Spektakuler! ”Hidup memang penuh misteri ya bro! Kita bertemu di sini,” sapa kang Jeje dengan gaya khasnya. Kami lantas berbagi pengalaman di teras pesantren Kauman bersama tuan rumah, KH. Zaim Ahmad Ma’soem yang akrab disama Gus Zaim bersama   Gus Ahmad Shiddieq yang akrab disapa  Mbah Bedug dan istrinya Fatimah Asri yang  biasa disapa  Bu  Nyai . Mereka tokoh masyarakat yang dihormati, pengasuh pesantren Kauman ,  Al HIdayat dan pondok Al Aziz, keturunan langsung ulama legendaris  Mbah Ma’soem.

 

Siap siap menikmati Lasem setelah menginap di Pesantren… (riders item dari Kudus)

Hadir juga   beberapa tokoh bikers yan sengaja datang bersilaturahmi. Berikan salam kepada all brothers dari Bengkel Syariah Kudus pecinta motor antik juga life members MMC Outsiders chapter Kudus.” Kami sama-sama turing toleransi ke wiilayah ini,” buka Jack, dedengkot bengkel Syariah Kudus. “Santri sangat senang mendengarkan kisah petualangan kang Jeje. Mereka kagum dan sangat terispirasi,” puji Bu Nyai. Kang Jeje memang kreatif! Saat masuk ke pesantren, dia sudah mendokumentasikannya lewat kamera mini di kaca matanya. Ia datang dan beramah tamah dengan tuan rumah khususnya Gus Zaim.”Keren..keren..saat akhir kisah petualangan kang Jeje mengakhiri kisahnya dengan film saat ia bersalaman dengan Gus Zaim. Santri-santri langsung riuh-gemuruh. Mereka  sangat senang akan pemaparan peturing kelas dunia ini,” bangga Faisal Mahbub, dari Gondewa Event  Organizer, yang mengatur apik acara ini.

Gerbang pesantren Kauman Lasem, khas arsitektur Cina Kuno

 

Turing toleransi bengkel Syariah Kudus
Mbah Bedug membuka perhelatan dengan bedug bersejarahnya…..

 

Begitu adem…Kiai pesantren merangkul tokoh agama lain dan pejabat setempat, mensyukuri 100 tahun Al Hidayat
Jentre Band, membuka dengan mars NU Yaa Lal Wathan

 

Pagar Nusa in action..
Ridingread.com, Jeffrey Polnaja, Gus Jaim dan Mbah Bedug mejeng dengan koleksi motor antik Gus Jaim di halaman pesantren Kauman Lasem
Faisal Mahbub, Gondewa Event Organizer menyempatkan berkunjung ke Wihara Ratanavana Anama, Sendangcoyo Lasem
Band Rock perform di pesantren
Bersama Gus Jaim dan Ibu Nyai

 

Monumen perjuangan masyarakay Tionghoa melawan Belanda

Kisah belum berhenti sampai di sana. Esoknya, rangkaian acara menunggu dengan hiburan bernuansa Islami. Sebelum  masuk moment entertainment, Kiai-Kiai Lasem mengajak tokoh agama lain naik panggung. Penganut Kristen, Katolik, Budha digandeng  para Kiai membuka perhelatan peringatan 100 tahun Al Hidayat. Mereka terlihat enjoy dan nyaman di tengah-tengah kaum muslimin dan bersama-sama menyaksikan Mbah Bedug memukul bedug bersejarah dari mesjid Pabean desa Gedong Mulyo atau  dikenal dengan  nama masjid Tiban. Oh ya..mesjid Tiban  adalah masjid tertua di sini. Bangunan ini didirikan  Nyai Ageng Malokah, mbakyu Sunan Bonang yang memerintah Lasem menggantikan suaminya  Adipati Wiranegara yang wafat tahun 1479 M. Beliaulah yang menetapkan Islam  sebagai agama resmi kerajaan.

Terus terang..merinding dan kagum saat Kiai-Kiai Lasem merangkul tokoh agama lain di perhelatan ini. Sangat terbuka, toleran dan menjunjung tinggi rasa kedamaian antarumat. Adegan ini mempertontonkan juga mencontohkan situasi ideal berbangsa dan bernegara. Tak heran, Lasem didaulat menjadi kota toleransi nasional. Salut..salut!

Pamungkas acara, entertainment panggung. Wah ini juga jadi kejutan! Selain penampil bernuansa religius, hadir juga Jentre,  band rock yang datang dari Bandung. Weiz.., mereka membuka dengan mars  Nahdlatul Ulama, Yaa Lal Wathan dengan sentuhan rock progresif. Penampilan mereka disambut antusias santri yang hadir.

Ups..acara ini belum  berakhir lo.  Tunggu sampai 14 November 2018 sebagai puncak perhelatan ini. Gosipnya, sebelum ini bakal ada lelaku turing toleransii bikers zona Barat menuju Lasem dan hang out dengan santri disini.  Makanya, catat moment ini dan sempatkan melihat keberagaman Indonesia dalam  ujud nyata toleransi.

Wassalam….

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: