Sun. Sep 27th, 2020

PELAJARAN BERHARGA DARI ALMARHUM WILLY DREESKANDAR PENANGANAN YANG SUNGGUH..SUNGGUH BURUK! By Isfandiari MD

Seorang pasien virus Corona dinyatakan meninggal dunia setelah terlantar di RSUD Kabupaten Tangerang.

Sebelum meninggal dunia, pasien tersebut ternyata sempat menulis pesan yang ia tujukan untuk presiden Joko Widodo dan juga mentri Kesehatan Trawan Agus Putranto. Dalam pesannya ia mengaku selama berjam-jam di rumah sakit namun tak mendapatkan pelayanan apapun. Dikutip dari Warta Kota dalam pesan yang ia tulis di account tweeter tersebut, ia meminta bantuan kepada presiden Joko Widodo dan mentri Kesehatan Trawan Agus agar mendapatkan rumah sakit rujukan.

Pasalnya selama di RSUD Kabupaten Tangerang ia mengaku selamaa 5 jam tak mendapatkan penanganan apapun. Dalam pesan itu terungkap pula bahwa dirinya sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang ia rasakan.Tak hanya itu ia juga menuliskan sempat di bawah ke RS Eka Jaya Hospital namun diminta Kembali ke RSUD.

Menanggapi cuitan yang viral tersebut, Kahumas RSUD Kabupaten Tangerang, Muhammad Fikri membenarkan bahwa pasien tersebut memang datang ke RSUD Kabupaten Tangerang. Menurutnya yang bersangkutan merupakan pasien dalam pengawasan virus Corona. Namun saat datang pasien tersebut tak membawa rujukan dari rumah sakit asal dirinya memeriksakan diri. Dijelasknnya, saat yang bersangkutan datang ke IGD pihaknya tengah menangani pasien. Ditambah pasien tidak membawa rujukan dan tak memberikan informasi sebelumnya. Sehingga pihak rumah sakit belum mempunyai persiapan apapun. (Langganan-Lantaran?-Tidak jelas-red) tidak memiliki informasi apapun pasienpun tak kunjung tertangani.Pihak rumah sakit beralasan meminta pasien tersebut untuk menunggu terlebih dahulu……TRIBUN NEWS.COM dalam TRIBUN UP DATE

Atas ijin Dewi Rachel, istri tercintanya, saya beberkan bahwa cuitan tweeter itu milik kakak kami, wartawan senior eks Otomotif Group almarhum Willy Dreeskandar. Begini cuitan lengkap di twitter,

“Pak Jokowi dan Dr Terawan. Smg Bpk2 sehat. Mhn bantuan RS Rujukan. Smlm sy di RSUD KAb. Tangerang,5 jam tanpa tindakn.Sy tdk kuat. Skrg sy di Eka Jaya Hospital,BSD.Hrs blk lg k RSUD. Maaf Mrpotkn.Trm ksh.Wass.

Terus terang, kami salin berita Tribun News dan cuitan pribadi almarhum dengan perasaan yang campur aduk. Berhubung ada kedekatan pribadi, bertempurlah perasaan sedih..miris…jengkel cenderung marah… dan perasaan hampa. Saya bayangkan, jika itu terjadi pada kami, bagaimana rasanya!

Santer di berita, bagaimana seriusnya kita menangani wabah ini, dipandang sebagai bencana global yang perlu penanganan secepatnya. Okelah..anggaplah kita kesampingkan hal bernuansa sentimentil. Almarhum menunggu 5 jam? Bukankah sangat beresiko? 5 Jam di RS dan dibiarkan? Tidakkah RS mempertimbangkan safety di sekitaran beliau dan mengharuskan beliau di isolasi dan dilakukan penanganan? Secara kemanusiaan juga sungguh tak terkirakan: Pihak RS berkomentar (seperti yang dikutip TRIBUN NEWS dari WARTA KOTA) lewat KAHUMAS mereka, Muhammad Fikri bahwa benar ada pasien demikian (yang faktanya adalah Willy Dreeskandar-Almarhum) yang datang ke RSUD Kabupaten Tangerang. Katanya lagi, pasien tersebut tidak membawa rujukan dari Rumah sakit asal dirinya memeriksakan diri. Diteruskan, katanya saat itu IGD sedang menangani pasien, pasien tidak membawa rujukan dan tidak memberikan informasi sebelum nya.

Ini yang menarik : SEHINGGA RUMAH SAKIT TIDAK MEMPUNYAI PERSIAPAN APAPUN. Padahal di sisi lain, Kang Willy dalam keadaan sesak nafas dan sakit tak terkirakan, menyimak dari cuitannya: SAYA SUDAH TIDAK KUAT!
Dalam hal ini perlulah saya utarakan pesan WA istri almarhum melalu HP pribadi kang Willy di grup WA para jurnalis, rekan-rekan dekatnya. (Sengaja saya biarkan apa adanya) ”Ketika saya membawa Willy ke RS Sari Asih, kita tdk bisa dirawat disitu…karena SOP mengharuskan ke rs rujukan. Dtg ke RSPAD (Rumas Sakit Pusat Angkatan Darat-Red) ditolak, ke Sulianti Saroso ditolak, disarankan ke RSUD Kab. Tangerang, karena kami berKtp Tangerang…. Ketika tidak ada penanganan ..sy melarikan diri ke Eka Hospital. Mmg ditangani..tp hanya di IGD, bahkan esok hari kami diharuskan Kembali ke RSUD Tangerang. Yang membuat mas Willy memburuk..ya prosedur yang bertele-tele itu..Pasien indikasi..Terutama utk laki2 mmg hitungannya perdetik…krn bila pemburukan hasilnya adalah gagal nafas..

Sengaja kami utarakan fakta ini, tentunya agar menjadi gebrakan nyata untuk memperbaiki..bukan lagi kata-kata…kami tampung atau kalimat klise yang biasa diwartakan humas Rumah Sakit atau pejabat berwenang . Biarlah cuitan terakhir almarhum menjadi ladang amal beliau, bagaimana pedihnya situasi untuk tidak dialami orang lain. Sekaligus untuk dipahami semua para pengambil kebijakan, mulai tingkat Presiden..Gubernur…Humas RS sampai tenaga medis di lapangan. Tentunya kami sampaikan penghargaan setinggi-tingginya bagi para dokter yang bertugas, teriring harapan besar: Hilangkan dahulu birokrasi berbelit, involusi dan selamatkan banyak orang sesuai kemampuan kita. Selebihnya Allah akan menolong , Inshaa Allah….

Alfatihah untuk kang Willy ‘Bro Jack’ Dreeskandar dan mereka yang berpulang…

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: