Sat. May 15th, 2021

PECAH KULIT..HUKUMAN MATI ALA BELANDA Written By:Isfandiari MD

Meniru kelakuan sinyo Belanda, ayah saya suka tidur siang. Sialnya, saya sering diajak,  dan itu berarti waktu main banyak tersita. Untungnya beliau memberi bonus, sebelum tidur, ayah yang biasa saya panggil si Bung itu bercerita. Suatu moment, topik  cerita berkisar ikhwal nenek moyang keluarga kami.”Supaya lu tahu, kita ini nggak tulen Betawi asli. Dari nyokap  gue ada darah Jerman.  Ia punya kakek bernama Johan Frasser, tukang bikin peta asal Jerman. Nah, gue ini turunan Jerman dan elu kecipratan dikit,” terang ayah sebelum kantuknya menyerang.

Kisah eyang Johan Frasser  tentunya cuma menarik di intern keluarga kami. Tapi soal sepak terjang orang Jerman di Betawi, ada sosok yang lebih menarik. Dia adalah  Pieter Erberveld, warga Betawi Indo-Jerman.  Pieter bukan penduduka kebanyakan. Tajir, punya tanah berhektar-hektar, disukai warga sekitar dan… punya nyali gede di jamannya. Walau sama-sama dari kulon, ia benci setengah mati pada pemerintah Belanda. Ia gemes, kok tega-teganya Belanda menjajah anak negeri sebegitu rupa. Menindas tampa ampun, mengeruk kekayaan bumi pertiwi sambil teror mental di tanah jajahan. Paling bikin gemes Pieter adalah perkara  kasus tanah di Pondok Bambu.  Hektaran tanahnya diserobot semena-mena pemerintah kolonial. Ia protes keras dan dengan terbuka menentang pemerintah. Sejarah berkisah, sepak terjang Pieter dapat sokongan warga Betawi sekitar, bahkan dapat sokongan dari Kesultanan Banten lewat Raden Kartadirya karena hubungan baik yang ia bina. Rencana melakukan  pemberontakanpun disusun bersama sahabatnya, Layeek seorang pemuda asal Sumbawa.

Di buku De Nederlandsch Oostindische Compagnie in de Achtiende eeuw;sejarawan Belanda Prof Dr.E.C. Goode Molsbergen  meragukan kebenaran niat pemberontakan itu. Sang professor menganggap, ini hanyalah akal-akalan Belanda untuk menyingkirkan Pieter. Benar saja, lewat Reeyke Heere (Komisaris VOC untuk urusan Bumiputera) , Pieter, Raden kartadirya dan Layeek ditangkap. Mereka dipenjara, disiksa agar mengakui  rencana pemberontakan itu. Kurang  empat bulan Pieter dipenjara, ia dan kelompoknya dijatuhi hukuman mati pada tanggal 22 April 1722 atas perintah Collage van Heemradeen Schepenen (Dewan Pejabat Tinggi Negara).

Kisah mengerikan terjadi. Tak seperti kebiasaan Belanda yang menghukum mati terdakwa dengan cara pancung atau gantung, Pieter di bunuh dengan cara tak lazim di tembok Batavia sebelah Selatan. Masing-masing tangan dan kaki Pieter serta pendukungnya diikat pada empat ekor kuda yang dipacu ke empat penjuru mata angin yang berlawanan hingga putus dan terpecah-pecah.  Lokasi eksekusi inilah yang  sekarang dikenal jadi kampung Pecah Kulit sampai sekarang. Setelah mereka tewas, Belanda membangun  monument, dengan tulisan berbahasa Belanda plus terjemahan Jawa kuno:  “Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan pada si jahil terhadap negara yang telah dihukum Pieter Erberveld. Dilarang mendirikan rumah, membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini sekarang dan selama-lamanya. Batavia, 14 April 1722,” (Betawi, Queen Of East : Alwi Shahab).

Makin bikin keder penduduk, Belanda  memotong kepala Pieter Erberlveld dan menancapkannya pada sebuah tombak. Kepala tersebut dibiarkan membusuk dan tak boleh disentuh. Setelah itu dibuat juga tembok batu dan patung tengkorak yang tertancap tombak.

Sayang, monument kekejian Belanda itu musnah.Lokasi pembataian Pieter di Jalan Pangeran Jayakarta  sudah berubah jadi show room mobil sejak tahun 1986.  Tapi kalau penasaran menyimak detail kisahnya, sobat boleh jeje’el ke Museum Sejarah Jakarta. Silakan menyimak  inskripsi Pieter Erberveld terpampang ditembok halaman belakang museum. Tak hanya disana, ada juga keterangan tentangnya di  Museum Prasasti-Jakarta lengkap dengan bentuk tembok monument Pieter Erbervel, inskripsi dan patung tengkorak yang tertusuk tombak diatasnya.

Entah kenapa, kisah Pieter bikin inget sama protes pemerintah Belanda saat warganya, Ang Kiem Soe, (52) di eksekusi awal 2015. Katanya eksekusi gembong Narkoba ini nggak manusiawi dan cenderung sadis. Mungkin mereka lupa, kesadisan pemerintah Kolonial pada Pieter dan sahabat-sahabatnya, Raden Kartadirya dan Layeek. Kebayang nggak, ditarik 4 kuda kearah berawanan sampai badan amburadul nggak karuan.  Ini sejarah lo. Sungguh terlalu!

 

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: