Sun. Sep 22nd, 2019

MOTOR DI ERA PERJUANGAN

SUDAHKAH KITA?

 

By Isfandiari MD

 

     Ir. Soekarno atau kita akrab menyebutnya Bung Karno berkata di suatu saat: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Ya! semua pasti setuju. Bangsa yang nggak menghargai, cuek, anggap  remeh pastinya kualat, nggak bakal maju. Kita wajib support dan respect pada pahlawan termasuk sepak terjang sejarahnya jaman dulu. Sudahkah kita?….

     Ini termasuk bicara sumbangsih para bikers dan motor yang disemplaknya di masa lalu. Jasa mereka sangat besar dalam perjuangan ini. Coba sampeyan ingat kisah almarhum Bapak Roeslan Abdulgani yang saat itu berpangkat kapten. Sore, 30 oktober 1945, Malaby, jenderal Inggris ditembak pejuang.”Siapa yang nembak tak ada yang tahu,” jelas Roeslan. Pasukan Inggris  dipimpim Jendreal Manserg marah besar.Bom menerpa Surabaya, menghancurkan banyak gedung dan rumah termasuk gedung Kempetai. Perang hebatpun terjadi. Bung Tomo mengobarkan semangat para pejuang dan ‘membakar’lewat retorika heroik  yang sangat legendaris itu. Jl. Tunjungan dan sekitarnya jadi medang perang hebat! Korban berjatuhan, selain para pria, wanita-wanita Surabaya dengan gagah berani mengevakuasi korban yang bisa diselamatkan.”Banyak korban dari BKR (Badan Keamanan Rakyat), TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) dan rakyat sipil. Waktu itu saya bertugas sebagai anggota PMI. Melihat banyaknya korban, saya dibonceng motor untuk mencari truk pengangkut,” kisah Soelistina Soetomo, istri almarhum Bung Tomo, pahlawan nasional kita.  Sayang sekali ibunda tak tahu persis motor apa yang membawanya saat itu. Ditelaah dan dibayangkan, ibunda memakai motor-motor  umum di pakai di masa itu. “Motor-motor rampasan perang bisa jadi BSA M20 rigid cangkrang 1941, bisa juga HD WL. Kebanyakan motor itu didapat Dari rampasan perang atau milik pengusaha Tionghoa,” jelas Yopi Rahmat, ketua MACI Jakarta Raya.” Selain HD WL ada juga keluarga BSA, M21, BSA M16 versi  militer. Ada juga NSU atau Norton versi militer N16 atau Exelsior. Buktinya ya..di rumah saya ini. Saya punya motor WL dump dari TNI, suratnya dikeluarkan mereka, otomatis ini sisa-sisa Belanda,” jelas Saulus D’Coil Lacaden, life member Harley Club Bandung yang juga anggota Vintage Harley Davidson Enthusiast Indonesia (VHDEI). ”BSA M20 terasa paling beken. Dulu saya juga punya motor itu. Orang-oranga tua dulu banyak yang punya, katanya sangat bandel, saat BBM sulit didapat motor ini hidup pakai minyak tanah saja. Itulah kisahnya,” cerita Ciang, pengusaha British Leather Garut anggota Bikers Brotherhood MC.  “Tapi tidak semuanya hasil rampasan. Di tahun 20-an, perdagangan kita sudah maju! Para pebisnis, mandor-mandor perkebunan sudah mampu beli motor Eropa juga Amerika. Buktinya iklan majalah Sin-po tahun 30-an yang sudah memuat iklan-iklan motor macam itu,” jelas Joehana Sutisna, aktor film dengan nama panggung Joe P-Project. Kebetulan ia ini sarjana jurusan sejarah Universitas Padjadjaran Bandung yang juga bikers.”Betul! Indonesia saat itu sudah jadi pasar penjualan motor-motor keren,” tambah Sharul ‘Gogon’ Syah, pendiri Classic Bikers Batavia (CBB).

 

PATROLI AMANKAN WILAYAH, SAAT PERANG DIRAMPAS PEJUANG!

Warga Bandung tahun 30 sampai 40-an bakal keder kalau melihat opsir Belanda mondar-mandir pakai sespan kosong. Dulu sespan dipakai untuk tempat pesakitan alias penjahat. Mereka menangkap lalu memboyong naik sespan ke markas.  “Mereka sering masuk kampung pakai HD buat ngontrol penduduk. Paling dominan memang mencari bajingan untuk diangkut ke sespannya,” tambah Nana Sutisna, penduduk Bagus Rangin  yang tahun 40-an berusia belasan.

Pemerintah Belanda punya pasukan bermotor berjuluk CORO (Cursus Opleiding Reserve Officieren).  Mereka ini perwira cadangan. Tiap Sabtu sore, unjuk kekuatan  lewat upacara bendera yang disebut Vlag Vertoon dan Taptoe. Berdandan gagah dan klimis berbaris meninggalkan Kazerne (Asrama) di daerah lapangan Siliwangi menuju Pieterspark  (sekarang Taman Merdeka) sebelah Utara Jl. Braga

Saat Bandung dilanda perang, pejuang membakar sendiri bangunan-bangunan agar tidak ditempati Belanda. Bandung terang benderang oleh api yang dikenang sebagai Bandung Lautan Api. Pejuang kita nggak cuma mengincar senjata Belanda. Motor-motor yang mereka semplak juga jadi bagian penting perjuangan ini. Kisah-kisah perampasan selalu jadi cerita heroik  senior-senior kita. Almarhum RAchmad Hidayat (presiden HDC Pertama), Letnan. Poniman (Alm),H.Bariji (Alm), Kang R.Amir (Alm), Brigjen Somali dan Haryoto Kunto  (Alm) seorang  planolog  kondang, sering bercerita ikhwal ini. Salah satu buktinya, motor HD 750 Alm. Kang Ayi, tokoh HCB yang secara historis adalah cikal bakal HDCI. Kabarnya motor ini didapat dari rampasan gerombolan DI-TII saat menyerang kota kelahirannya Sumedang. Saat itu ia baru berumur 18 tahun.

 

SETELAH  MERDEKA  SUMBANGSIH  MEREKA MASIH  BESAR

 Bangsa ini memang hebat! Berdarah-darah merebut kemerdekaan, kita tetap berempati pada penderitaan negri lain.  Buktinya saat pasukan Garuda II kita ikut serta membantu perdamaian  di Democratic Republic Of Congo. Nah apa hubungannya dengan Vespa Congo?

Hey..ada ceritanya. Saat kontingen Garuda I bertugas di sana tahun  1957, United Nations (UN) lewat perwakilannya di Kinshasa, Congo, menawarkan Vespa buatan Italia dengan pembayaran mudah dan ringan untuk dibawa ke Indonesia. Tentu saja, TNI saat itu menyambut antusias dan  dianggap sebagai kenang-kenangan mereka saat bertugas di Congo. Singkat cerita, skuter itupun hadir di Indonesia dan diberi julukan Vespa Congo.  Uniknya banyak skuteris berminat memiliki Vespa ini. PT. EK Toedjuh melihat peluang itu, merekapun ditunjuk sebagai agen resmi emmasukkan skuter-skuter ini ke Indonesia dengan nama beken Vespa Congo.

 

SUDAHKAH KITA?

Sudahkan kita menghormati motor-motor itu? Sepertinya belum! Bikers yang masih mau merawat-lestarikan motor tua masih was-was di jalan. Hamba wet alias Polisi kita masih tega menilang mereka dengan berbagai alasan. Suara yang berisik, oli menetes tidak lengkap spion atau paling jelas, ketiadaan surat. Logika sederhana saja. Suara berisik, oli menetes karena sudah terlalu udzur. Kelengkapan? Kadang standar pabrikannya memang begitu. Dan surat? Beberapa motor itu sudah ada sebelum kepolisian republik Indonesia ada. “Saya merasakan betul apa yang dirasakan para bikers penunggang motor tua di jalanan. Ia tak hanya memikirkan apakah motornya bisa jalan dengan ideal, tak hanya memikirkan  nasib  motor tua di masa depan yang makin kurang peminat…tapi memikirkan juga bagaimana nasib dia dan motor jika dicegat aparat kepolisian dan menanyakan surat-surat kendaraan!

Rasa was-was saat turing atau  short riding di kota masing-masing kerap menghantui. Kami sangat tersiksa juga jika selalu main kucing-kuningan dengan kepolisian khususnya yang  berjaga di jalanan. Bertahun-tahun MACI melalui kepengurusan berjuang untuk mendapatkan legalitas itu, sampai saat ini belum juga bisa diselesaikan,” kata almarhum wariyok Amak, pendiri Pemudi’s Surabaya dan mantan ketua MACI Indonesia. Sayang sampai beliau meninggal, harapan itu belum kesampaian juga.

Para pegang kekuasaan dipersilakan untuk bertanya kepada nuraninya masing-masing. Perlukan mempersulit legalitas motor tua? Mengingat jasa-jasa yang mereka berikan pada Republik ini? Merdeka!

 

 

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: