Fri. Dec 6th, 2019

Mahbub Djunaidi Festival UJUD RESPECT DAN SUPPORT PADA MASTERMIND PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA By Mochamad Nur Habib

…..Layak jadi inspirasi! Almarhum H. Mahbub Djunaidi meninggal tahun 1995. Selain sastrawan, kolumnis jempolan dan politisi keren, beliau salah satu founding father (mastermind) organisasi bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia  (PMII). Pengaruh tokoh ini cukup mengakar bagi para life members PMII dari berbagai generasi. Buktinya, mahasiswa yang secara faktual tak pernah bertemu muka, tetap mengidolakan tokoh ini lewat Festival Mahbub Djunadi di Solo Raya, tepatnya Kartasura, satu minggu full, 9-16 November 2019. Ujud respect yang lahirkan  kekaguman. Keren!….

Awal yang pas,  mungkin  bicarakan almarhum Mahbub Djunaidi. Siapa beliau? Nah, tokoh yang lahir tahun 1933 ini terbilang unik. Kyai modern, tokoh Nahdlatul Ulama, Wartawan senior, kolumnis , tokoh pergerakan dan sempat menjadi orang yang tidak disukai di era orde baru dan dipenjara sebagai tahanan politik. Buat para pemuda, sifat rebellion dan tak kenal takut ini sangat dikagumi. “Jadi wajar khan kami mengidolakan beliau dan menyajikan rasa kagum lewat ajang Mahbub Djunaidi Festival,” jelas panitia PMII dari Rayon Ali Ahmad Baktsir Komisariat Raden Mas Said Cabang Sukoharjo, penggagas acara  yang baru kali pertama diadakan ini.

    Ini berkenaan juga dengan haul ke-24. Bebuka moment, mereka mengadakan share ikwalSekolah Jurnalisitik yang mendatangkan seorang jurnalis sekaligus penulis, M. Milkhan. Sekolah Jurnalistik ini lebih menekankan jurnalisme ala Mahbub, tokoh yang sedang diperingati haulnya.

Hari kedua  ada bincang buku novel karangan Mahbub Djunaidi sendiri, Dari Hari Ke Hari. Novel yang menceritakan masa kecil Mahbub di Solo. Hari ketiga berganti bincang buku Bung; Memoar Mahbub Djunaidi, buku yang ditulis oleh anak Mahbub Djunaidi, Isfandiari dan kawannya Iwan Rasta.

Hari keempat lanjut dengan bincang buku Histiografi KOPRI; Telaah Geneologi PMII – NU. Buku yang mengulas sejarah berdirinya sekaligus hubungan PMII – NU yang terkhusus keperempuanan. Pada hari kelima masih ada bincang buku Binatangisme, buku yang ditulis George Orwell yang diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi. Untuk mengikuti jejak spritual Mahbub, hari keenam ada muqoddaman Al-Qur’an dan hari terakhir ada beberapa kegiatan. Pagi ada live lukis wajah Mahbub Djunaidi, siang dilanjut Kelas Pemikiran Mahbub Djunaidi dan malamnya sebagai acara puncak dari serangkaian Mahbub Djunaidi Festival (MDF) 2019.

Kader PMII dan putra Mahbub Djunaidi

Pada acara puncak ada talkshow yang mengundang sahabat karib Mahbub Djunaidi sekaligus sebagai salah satu  founder dari 13 pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), K.H. Munsif Nakhrawi dan Isfandiari MD putra dari Mahbub Djunaidi. Pada acara puncak ini mengulas Mahbub Djunaidi dari berbagai sisi. Mulai dari masa kecil hingga hari terakhir Mahbub di dunia. Acara yang tak luput dari balutan humoris. Salah satu sifat yang tidak bisa dipisahkan dari sosok Mahbub Djunaidi.

K.H. Munsif Nakhrawi menuturkan bahwa sosok Mahbub sudah sepatutnya diberi penghargaan dengan cara berikhtiar meneruskan pemikiran dan apa yang dicita-citakan oleh Mahbub Djunaidi. “Perbanyaklah membaca buku, buku apa saja itu sebagaimana yang dilakukan oleh Mahbub dulu” pesan beliau kepada para Mahbubian.

“Saya pribadi yang kebetulan menjadi anak biologis Mahbub dan mewakili keluarga besar Mahbub Djunaidi mengucapkan banyak terimakasih dengan diadakannya Mahbub Djunaidi Festival,” tutur Isfandiari MD. Ia juga mengatakan bahwa selain seorang organisatoris Mahbub juga seorang penulis, maka sudah seyogyanya kita juga meniru jurnalisme ala Mahbub Djunaidi.

Secara tak terduga, Mahbub Djunaidi Festival ini dihadiri oleh beberapa keponakan Mahbub Djunaidi dari Jakarta yang kebetulan ada acara di Solo, mendengar kabar ada acara ini disempatkan untuk hadir untuk mengenang omnya tersebut.

Setelah Talkshow ada asyik-asyikan bareng dengan berjoget, bernyanyi, bermain musik dengan berbagai genre.

Congratz kader PMII Solo, khususnya Rayon Ali Ahmad Baktsir Komisariat Raden Mas Said Cabang Sukoharjo. Kalian keren dan layak jadi inspirasi bagaimana cara pemuda milenial menghormati seniornya!

Follow IG @ridingreads dan FB riding read

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: