July 5, 2022

KSAD JENDRAL TNI DUDUNG ABDURACHMAN

NASIONALIS-HUMANIS SANG JENDRAL PENCERAH  By Isfandiari MD

Sosok nasionalis-humanis

….Bagi banyak orang,  Jendral Dudung adalah harapan. Karirnya yang cepat melonjak  dari Pangdam, Pangkostrad lalu Ksad, tentunya menjadi pencerah bagi mereka yang resah atas merebaknya bibit-bibit radikalisme di negri ini.  Dalam berbagai kesempatan, sosoknya menginpirasi dan menggambarkan ia sebagai nasionalis yang humanis…………………….

Jendral Baliho, begitu julukan saat sang Jendral saat dengan gagah menurunkan baliho provokatif yang di pajang Front Pembela Islam di berbagai tempat. Ia  yang saat menjabat sebagai Pangdam Jaya sontak viral dan jadi perbincangan dimana-mana. Sikapnya yang frontal pada ormas  ini membawa sejumlah reaksi pro dan kontra. Namun sejarah mencatat, karir militernya melejit naik menjadi Pangkostrad lalu Ksad.

Buya KH. Said Aqil Siradj (foto: khaskempek.com)
Faisal. “Pernyataannya tidak salah!”

Romantisme hidupnya memang penuh warna. Dalam podcast Deddy Corbuzier, tergambar sosoknya yang nasionalis humanis. Berlatar belakang keluarga serba kekurangan, Jendral Dudung tumbuh menjadi pribadi tegar.”Bapak PNS golongan 3 dengan 8 anak. Tahun 1981 saya jualan koran, kerupuk, kelepon sampai  terasi. Jam 4 pagi sudah ada di sisi kali Cikapundung  dekat Alun-alun Bandung menunggu pasokan koran Kompas dari Jakarta. Pas datang saya baca tajuk rencana yang berisi pandangan-pandangan menarik dari dewan redaksi Kompas. Setelah itu  naik sepeda tanpa rem keliling Bandung,Buah batu,Kiara Condong sebagai loper koran,” kenangnya. Kisahnya tertarik masuk TNI juga dramatis. Jualan keleponnya ditendang seorang tentara Arhanud 3  Bandung. Ia dianggap tidak sopan karena lupa meminta ijin saat berjualan di Kodam. “Tendangan itu membuatku bertekad masuk tentara untuk tidak semena-mena pada rakyat,” katanya dalam Podcast bareng Deddy.

    Setelah menjadi KSAD, sosoknya makin mendapat sorotan. Gebrakannya bersilaturahmi intens dengan ulama, memberikan kesempatan seluasnya pada santri menjadi TNI dan pandangannya tentang Islam yang rahmatan lil alamin menjadi perbincangan pengagum juga haters beliau. Komentar kontroversialnya tentang ‘Jangan terlalu mendalami agama’dan Tuhan bukan orang arab, memang menjadi sasaran empuk para pembenci atau kelompok yang ditekan sang jendral. Denny Siregar, penggiat media sosial terang-terang membelanya dengan kata-kata kuat di siaran Time Line-nya. ”Selamat berjuang Jendral, jangan khawatir dengan framing di media sosial.Itu tugas saya dan ribuan teman lainnya yang punya harapan yang sama bahwa di negri ini kita hanya mengenal satu bangsa dan satu bahasa yaitu  Indonesia!”

Iwan Rasta. “Sosok ideal penangkal radikalisme”

Faisal Mahbub, pengamat budaya dan sosial asal Bandung membagi pendapat,”Komentarnya sudah benar! Kalau bahasanya Gus Baha, jangan terlau khusyuk dalam beragama, biasa saja. Maksudnya ya itu, cuma nggak ada yang protes kalau yang bicara Gus Baha,” beber Faisal. “Tapi saya sepakat, tak ada kompromi bagi radikalisme beragama dan Jendral Dudung membuktikan itu,” jelas Faisal yang mengisyaratkan juga bahwa sang Jendral memang butuh tim komunikasi.

    Komentar lain datang dari Mardiyanto Hermawan alias Iwan Rasta, dari HIPAKAD (Himpunan Putra Putri Keluarga Angkatan Darat). Kang Iwan menganggap sosok Jendral Dudung sebagai salah satu solusi menangkal radikalisme. “Sungguh miris memang bangsa kita sekarang ini. Selain pada mabuk agama, juga miskin ilmu literasi. Disinilah diperlukan adanya ulama, guru atau kiai yang mumpuni dan mempunyai tanggung jawab moril dengan apa yang disampaikannya kepada murid-muridnya atau pengikut-pengikutnya. Sedang banyak orang mendalami ilmu agama lewat ceramah di media sosial semisal you tube. Ia merasa sudah mendalami agama itu dan  dengan enteng mengkafir-kafirkan  dan membid’ahkan mereka yang tidak sepaham,” kata Rasta.

Denny Sanusi (Sekjen LPOI-LPOK)

Terkait itu Kadispen TNI AD Brigjen Tatang Subama angkat bicara mengenai pernyataan Dudung yang menjadi polemik itu. Tatang menyebut inti dari ucapan beliau adalah untuk tak terlalu dalam mempelajari agama tanpa didampingi guru atau ustaz pembimbing yang ahli dalam ilmunya. Belajar agama tanpa guru cenderung akan mudah terpengaruh yang akhirnya justru dapat menimbulkan penyimpangan. Tatang menambahkan, menurut KSAD saat ini banyak orang yang mendalami agama tanpa adanya guru yang ahli. Sehingga, mereka mudah terpedaya dengan oknum yang menafsirkan agama tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Di lain kesempatan, Denny  Sanusi, Sekertaris Jendral Lembaga Persahabatan Ormas Islam- dan Ormas Keagamaan (LPOI-LPOK) memberikan pandangan.”Sebenarnya beliau ini kan Ksad (militer)kedepan beliau dihimbau untuk membuat pernyataan sesuai makomnya beliau. Kalau pernyataan  terkait dengan agama memang perlu kehati-hatian karena pasti akan menimbulkan reaksi dari sebagian tokoh agama. Apalagi banyak pihak yang tidak senang negara kita aman dan memanfaatkan situasi ini,” jelas Denny Sanusi. Di sisi lain ia sependapat bahwa untuk mendalami agama  memang harus memiliki guru selain juga ekstra hati-hati dalam memilih guru.

Terlepas dari itu semua,Jendral Dudung memang membawa harapan. Cermin TNI yang sayang pada rakyat, setia pada NKRI sesuai janji tentara dan konsekwen membela Presiden sebagai Panglima tertinggi  di  republik ini. Kedekatannya pada tokoh agama juga menjadi penyejuk atas harmonisnya sinergitas antara kedua belah pihak. Persis seperti yang diutarakan Buya KH. Said Aqil Siradj, ketua Umum PBNU,” Dalam Al-Qur’an dikatakan begini, fal ya’budu rabbahadzal bait, ibadah itu bagian ulama. Wa amanahum min khauf, itu stabilitas keamanan tugasnya Ksad,” kata Buya Said saat pertemuan tertutup mereka berdua di Kantor PBNU, zona Salemba Jakarta.

Selamat berjuang Jendral!

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: