Mon. Sep 28th, 2020

Kopi “Bikers”

Jangan Melanggar…

By Abi Utsman Al Mahry

 

Suatu hari, di jalanan Jakarta, saya naik motor bersama rekan untuk menuju lokasi dengan tepat waktu. Dalam hati saya berdo’a, semoga saya gak kena macet & lancar cepat sampai tujuan. Supaya saya tidak merusak pertemuan perdana saya dengan klien. Maklum, saya ini termasuk orang yang selalu berusaha untuk tepat waktu dalam hal janji. Eh, tiba – tiba rekan saya nerobos masuk jalur busway. Dan beneran, saya memang lebih cepat sampai tujuan, lancar gak kena macet. hahahahaaa. Dalam hati, saya jadi bingung bertanya-tanya. Bukankah masuk jalur busway, itu MELANGGAR ATURAN? Memang sih, DO’A SAYA DIKABULKAN. Apakah ini berarti, Tuhan kalo mengabulkan do’a, bisa dengan JALAN APAPUN, termasuk MELANGGAR ATURAN? Atau jangan-jangan terkabulnya DO’A & keinginan, sama sekali GAK ADA KAITANNYA DENGAN TUHAN? Jangan-jangan, kita aja yang suka MENGAIT-NGAITKAN, alias ke ‘GE-ER-an kalo DOA kita DIKABULKAN-NYA. Entahlah, yang jelas, kami sebagai PENGENDARA MOTOR sudah bukan pada prosedur yang benar adanya.

Memang saat itu kami tepat wwaktu & selamat dari sangsi pelanggaran dlm berlalulintas di jalan raya. Namun getaran rasa yang ada, sesudah melakukan pelanggaran, sangatlah mengganggu perasaan. Guilty feeling seorang biker menari-nari gak karuan dengan loncatan-loncatan yang buruknya di kedalaman. Ada yang berkata didalam, “Ini gak beres, aku salah”. Ya aku sudah melanggar aturan dalam bermotor ria. Dan setiba ditempat yang sudah kami janjikan. Aku dapat kabar melalui telepon genggamku, ang intinya klienku baru saja dapat halangan mendadak, dan tidak dapat bertemu denganku saat ini, sebagai janji gantinya adalah minggu depannya.. Jeggeeeerrrr.. makjleeb! huahahahaa.
Dan kami pun kembali dengan kekecewaan hasil yang didapat.
10 menit perjalanan pulang, motor terpaksa kami arahkan kepinggir pada sisi jalan. Ban kempes sodara-sodara!. paku segede itu jelas sekali pada kedua penglihatan kami. Hahahaha.. Ini gak beres.! Dan kami buru-buru “menyadari kesadaran yang masih belum kami Sadari” ini. Diawali dengan menyesali perbuatan kami yang telah melanggar aturan dalam berlalu lintas. Agar tidak berlanjut kedepannya, yang akan mensabotase segala kelancaran perjalanan juga menjauhkan segala Doa-doa kami dari apa yang kami harapkan pengabulannya.
‘Maafkan Kami pak polisi, maafkan kami wahai motor, maafkan kami wahai para sopir busway, kami telah bersalah pada kalian semua. Maafkan kami, maafkan kami..

Ya kadang dalam hidup kita sering melanggar aturan main dalam suatu permainan kehidupan. Lupa atau tidak menyadari akan dampak dari segala yang sudah kita lakukan. HIDUP ini BERHUBUNGAN DENGAN APAPUN & SIAPAPUN. Maka, bekerjasamalah dalam hal apapun. ADA kelancaran & keharmonisan bersamanya. Layaknya motor berkerja sama antara roda dengan stang, meluncur TERARAH DALAM TUJUAN. JIWA PENGENDARA ber resonansi pada energi pikiran & kehendak, akan ada kelancaran mencapai segala hasil. Apapun yang kita lakukan, jiwa raga & pikiran selalu bekerja sama dengan semesta alam.
Maafkan aku wahai motor, kau telah kuajak bekerja sama dalam pelanggaran.
Im sorry Motor , im sory Pak Polisi. I love u pak polisi, i love u motor.
Terimakasih Tuhan atas segala hal yang hadir dalam hidup ku. Semoga smua mahluk berbahagia.

#AM-Getarkan Rasamu#
Tuhan bisa mengabulkan doa dengan melanggar aturan, Benarkah??

 

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: