Fri. Sep 18th, 2020
Barudak Roundtank komunitas motor matik lansiran tahun 50an

KISAH MOTOR MATIK//SUDAH NGETREND SEJAK TAHUN 50-an By Isfandiari MD

Jasmerah…

Ssttt..pernah dengar kata founding father kita Bung Karno? Suatu masa beliau pernah bilang, Jasmerah atau Jangan Menyimpang Dari Sejarah. Buat rakyat bikers juga berlaku lo! Kita perlu respek sama sejarah kita, apalagi yang berkaitan sama dunia motor.

Banyak yang salah tafsir kalau tren motor matik baru-baru aja terjadi. Saat nongol motor Cina, macam Husar, Qynggi, Sanex atau lansiran Korea, Kymco yang lebih dahulu menjajal jalanan tanah air.

Banyak bikers ingat, kalau motor-motor itu booming di Bali sebagai daily riders juga untuk keperluan turis-turis. Bolehlah dibilang kalau Bali dan sekitarnya adalah penebar virus awal habit pakai motor matik di tanah air.

Setelah itu, mulailah pabrikan Jepang masuk menawarkan motor matik mereka, dan virus matikpun tak lagi bisa dibendung.

Nah, nggak ada salahnya jika brothers merentang sejarah jauh ke belakang. Apa benar motor-motor matik itu lahir ngetren di masa itu? “Nggak benar bro, motor matik sudah ada sejak dulu,” jelas Yaya Supriatna, tokoh matik dari Bandung.

Ia layak meluruskan anggapan ini, karena ia sendiri sudah memakai motor matik sejak lama bahkan menaiki motor matik lansiran tahun 50-an.

Mewakili brothersnya anggota komunitas Barudak Roundtank (BARON) Bandung, ia mendengar dari cerita orang-orang tua Bandung dahulu. Sejak awal 50-an, anak gaul Bandung sudah menggilai motor matik.

Lain dengan motor Inggris ber-cc besar, motor-motor matik ini lebih fleksibel dan enak diajak jalan-jalan seputar Bandung. Menurut mereka, motor matik indentik dengan tunggangan orang kota. ”Bahasa bekennya jejaka metropolis, he..he,” canda Yaya yang menjabat ketua Baron.

Mereka malah membagi kegemaran motor anak Bandung jadi dua bagian. Di bagian Utara, banyak menyukai motor Inggris atau lansiran Amerika kapasitas besar, sedang Selatan lebih suka motor matik cc kecil. ”Bukti juga kalau Selatan memang daerah perkotaan, makanya ada nama Dayeuh Kolot (Kota Tua),” jelas mereka. Dari keunikannya inilah, mereka tergolong fanatik melestarikan matik jadul ini,

Klub yang sudah punya member sampai 30-an motor ini asyik mengisi jalan-jalan Bandung bahkan rolling thunder jauh sampai Jogja. Koleksinya macam-macam, mulai DKW Hummel, Curtis, Replika Indian 1920, mesin jen set, Victoria Avada, Zundapp, Kreidler, Clay, Mobilette, Sach dan banyak nama aneh lainnya.

Karakter klubnya juga aneh. Erwin Kococos, Khairudin alias Apey dan Willy misalnya mengaku nggak tertarik sama sekali sama motor baru. “Kurang pede dan nggak menarik perhatian. Saya ingin spesial di antara rider lainnya,” aku Erwin yang doyan berburu roundtank ke pelosok Jawa.

Willy lain lagi, pegawai Telkom ini belum pernah sekalipun naik motor baru. “Nggak tertarik,” singkatnya. Makanya sehari-hari ia selalu nyemplak DKW kesayangannya.

Makin aneh kelakuan Iksan Akbar kini pelajar SMA. Dari SMP ia sudah naik motor matik jadul. “Ada beberapa, paling favorit Villiers 1954,” bangga bocah yang rada beda dari teman sebayanya ini.

Buat mereka, motor-motor cilik lawas yang diantaranya 1 transimisi punya daya tarik dan penuh cerita sejarah. “Bandung Utara, banyak terdapat motor tua cc gede, sedang Selatan banyak motor jenis ini.

Dulunya, roundtank adalah tunggangan favorit orang kota. Kayaknya sih ini indikator Bandung kota motor sejak dulu. Buktinya sisa peninggalan roundtank banyak di Bandung. Para kolektor berbagai kota juga berburu di sini,” kisah Erwin.

“Makanya kami lestarikan. Yuk pada gabung ke sekretariat kami di Jl. Pabaki Maksudi 2 No. 35 Rt 04 Rw 03 Bandung. Atau hubungi Yaya di 081321578358!” ajak seluruh tim klub ini. Salut!

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: