Mon. Jun 17th, 2019

KISAH INSPIRATIF BRO DIOGENES SEORANG WALI DI MASA ALEXANDER THE GREAT By Muhammad Lutfi Hermansyah

Apakah membeli sepeda motor, pakaian, dan barang-barang mewah yang lainnya masih dalam angan? Melihat pernikahan artis yang habis sekian milyar membuat kita hanya melongo? Menyadari betapa miskinnya di banding dengan mereka yang bermewah ria? Atau jangan jangan kita sengaja dimiskinkan oleh sistem ekonomi yang serakah ? Sistem kapitalis? Atau gaya hidup yang kita anut dan dijadikan pedomanlah yang membuat hidup ini terasa kian miskin? Tenang, saya akan mengisahkan seorang yang bernama Diogenes…..

Diogenes hidup semasa dengan Alexander The Great yang dalam catatan sejarah menguasai sepertiga dunia dan mati di angka 300-an sebelum masehi. Diogenes Semacam Wali yang yang sangat disukai oleh The Great. Namun, ia hidupnya meminta-minta. Tidur di dalam tong tengah kota dan selalu dikelilingi anjing-anjing.

Sebenarnya jika ia mau mengandalkan kedekatannya dengan penguasa tak perlu kiranya hidup berkalang susah demikian. Namun, jika ia memanfaatkan kedekatannya itu, buat apa saya menceritakan. Bukankah terlalu banyak penjilat di sekitar kita.

Diogenes ini hidupnya meminta-minta. Ya, meminta-minta. Namun ia dihormati. Ia tipikal orang yang hidupnya semaunya namun memiliki kedalaman spritual dan pengetahuan kehidupan yang dahsyat. Uniknya, sekalipun ia makan dengan cara meminta, ia akan selalu bertanya kepada orang yang memberinya, apakah cuma saya yang kamu kasih makan ? Adakah orang lain yang belum makan ? Jika ada, pastikan aku yang paling terakhir saja mendapatkan bantuanmu.

Nah, zaman sekarang adakah orang seperti itu ? Kebanyakan tentu lebih mengutamakan perutnya sendiri sekalipun dirinya sudah serba kecukupan. Diogenes melakukan laki hidup demikian guna menguji orang sekita jiwa-jiwa memberi, berbagi, dan ikhlas. Kita beramal sebenarnya bukan kebutuhan si peminta tapi kebutuhan jiwa kita, kesehatan nurani kita.

Diogenes tidak memiliki barang apapun kecuali sehelai pakaian yang menempel di tubuhnya. Pernah ia memiliki cangkir untuk minum. Di kemudian hari ia melihat anak kecil minum menggunakan tangan, ia langsung membuang cangkir tersebut. Baginya peradaban manusialah yang membuat rumitnya hidup.  

Dengan memiliki cangkir, Diogenes harus repot memikirkan cara untuk menyimpan dan juga membersihkannya. Sama halnya terkadang kita juga memperumit hidup. Misal handpone harus dengan seri dan kapasitas bla bla bla. Kamar harus ada tivi, wifi, dan segala macam lainnya. Padahal rumus peradaban manusialah yang membuat persoalan hidup menjadi rumit.

Jika diresapi betul, sebenarnya kita hanya membutuhkan baju tiga potong saja. Satu untuk di pakai, yang kotor sehabis dikenakan kemarin hari, itu di cuci, dan satu lagi disimpan. Begitulah alur seterusnya. Jujur saja, berapa banyak baju yang kita miliki saat ini dan jarang juga dipakai? Kita harus repot dengan aturan sendiri, kalau mau kondangan harus pakai batik, kalau lebaran bedan lagi dan begitu seterusnya. Lelah sendiri.

Maka, menurut Diogenes, kehidupan kita ini sudah tidak alami. Meniku kehancuran dan kerumitan. Lantas apa ? Tenang. Penulis bocorkan beberapa jalan hidup yang baik menurut Diogenes tentu saja. Kalau menurut calon mertua ya minimal PNS, eh, ups.

Pertama, alamiah. Baginya dengan adanya adat istiadat kebudayaan, gaya hidup justru menjauhkan manusia dari proses kehidupan alami. Misalnya adalah gawai yang saban hari kita pegang. Sekalinya saja handpone kita ketinggalan atau hilang, apa yang terjadi pada kita? Resah tentu saja. Merasa bingung dan manja. Padahal hal tersebut justru membuat kita tidak bisa membaca kehidupan. Orang terdahulu santai saja ketika berlayar di tengah lautan, pasti bisa menepi dan pulang. Sekarang menggunakan kompas. Menentukan waktu saja kita berpatri dengan yang namanya jam. Dulu mudah saja cukup melihat tinggi matahari dan sudah dapat menentukan kapan salat dan sebagainya.

Hidup yang alami itu lihatlah hewan. Ya, hewan. Mereka tidak perlu repot dengan hidup. Ketika saatnya makan akan makan. Tidurpun demikian. Tidak perlu hidup berkalang ambisi, kita dipusingkan dengan ingin menjadi ini itu, ingin dilihat seperti ini itu. Padahal pada titik ini manusia tergadai.

Diogenes sudah melihat itu pada masanya, lalu di tengah keramaian kota ia berteriak “I AM LOOKING FOR A HUMAN!!!” . Karena ia kita tidak melihat manusia di sekitarnya yang belum tergadai jiwanyanya oleh ambisi. Kedua, pengendalian diri. Jabatan, kekayaan, dan reputasi adalah ornamen perbuatan jahat menurut Diogenes. Karena ketiga itulah manusia tega menyakiti sesamanya dan juga dirinya. Misalnya bermimpi menjadi orang kaya? Sebenarnya keharusan kepentingan yang mendesak dari itu apa ? Hanya bikin repot hidup saja. Mengapa tidak memilij sederhana saja. Padahal menjadi orang kaya banyak tanggung jawab atas harta kekayaannya. Termasuk harta orang miskin yang diamanahkan. Kaya membuat kita rentan oleh sifat sombong dan jumawa. Bukankah tidak akan masuk surga orang yang memiliki sifat sombong sekecil apapun? Karena ambisi sejajar dengan kekecewaan, kegagalan, dan juga keberhasilan.

Ketiga, hidup prihatin atau tirakat. Menjalani hidup tidak tergantung dengan apa-apa yang ada selain diri sendiri. Maka kita diajarkan puasa. Puasanya dalam arti yang sangat luas. Menahan diri dalam semua hal. Agar tidak jatuh cinta dan terjerumus dalam jurang dunia. Misalnya puasa makan minum yang yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan. Sebenarnya, kita direpotkan dengan teori, konsep, dan aturan yang kita bikin. Nyatanya sahur secukupnya dan ladang malah tidak bisa saja puasa sehari penuh dan bka dengan nikmat. Tapi kita terkadang kadung meyakini makan harus tiga kali sehari. Dan waktunya harus diatur pagi, siang, dan malam. Ketika menjelang sore kita lapar, dengan sendiri kita akan menunda sekalian menunggu waktu makam malam. Padahal kan bisa langsung makam ketika lapar. Itu contoh sederhana saja bahwa konsep dan aturan hidup yang kita buat justru merepotkan saja.

Ada hikmah dibalik kisah hidupnnya….

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: