Sat. Oct 24th, 2020

Kawasaki KZ 200 Binter Merzy 1983 MOTOR YANG BERCERITA… By Isfandiari MD Foto By Aiesha Rengganis

…..Tumben aku  bisa berlari kencang, penunggangku sepertinya terluka, darah mengucur menetes sampai punggung. Kami terus ke arah Selatan dari Dago menuju Lingkar Selatan, tempat hangoutnya klub motor MMC Outsiders Indonesia. Sebuah penggalan kisahku di awal tahun 90-an yang dikenal dengan pembunuhan Rangga Gempol. Intinya kisah perang antar geng yang menewaskan salah seorang pemuda bernama Umar Farhat….

Dulu sekali aku keluar dari pabrik di Jepang sana dengan angka tahun 1983. Varianku dianggap produk gagal, kurang  ergonomi dan tidak diperjual belikan di negri Sakura. Beruntung ada pebisnis Indonesia  berminal meng-impor kami masuk ke Indonesia di bawah perusahaan Bintang Terang. Kalau tak salah, bosnya Eddy Tamzil, sang Outlaws buronan   kelas kakap.

                Begitulah, dalam kondisi standar, aku berpindah tangan, dari seorang bapak tua di sudut Bandung, ke anak muda belasan tahun yang berambisi membuat klub motor berbasis choppers . Aku bersamanya sejak 1985, dan di tahun 1988, dia dan 3 rekan lainnya membentuk sebuat klub bernama Merzy Motorcyle Club (MMC) di Agustus 1988. Belakangan klub  ini bermetamorfosis jadi Modified Mortorcycle Club (MMC-Outsiders Indonesia) dan makin berkembang sampai saat ini.

Sudah nasib! Namanya klub chopper, sasis standar  tak bertahan lama. Dengan terpaksa, sasis diobrak-abrik seenaknya. Center bone di potong, diturunkan agar drop seat. Tangki hengkang diganti tangki punya BSA. Lengan ayun di buka lebih lebar agar masuk ban besar. Tak puas, aku harus ucapkan selamat tinggal pada sasis asli yang sudah benyak diubah, Pemilikkny merubahnya jadi ol skool choppers menyisakan komstir tempatnya nomor sasis.  Dan..itupu n tak bertahan lama, motor berubah menjadi speedway  simpel  21” depan dan 18 “ belakang dengan rake super rapat. Dari tahun ke tahun, ubahan demi ubahan harus aku alami sampai masuk tahun 2000-an, aku mendapatkan sasis menyerupai pabrikan  lagi, dan aku tetaplah diperlakukan sebagai daily riding sampai sekarang.

                Memang panjang jika diceritakan dari awal sampai sekarang. Aku dan penunggangku sudah bersama-sama sampai 35 tahun. Usia klubnya saja sudah 31 tahun. Time flies…benar-benar tak terasa! Tapi ada yang harus aku syukuri…pemilikku cukup sentimentil  untuk tetap menjadikanku motor kesayangannya. Ha..ha..bayangkan dari dia  bujangan, sampai anaknya sudah akan kuliah, aku masih nyaman menghiasi garasinya. Memang x-tra ordinary!

Kini beginilah penampilanku. Baru saja, aku digarap ulang bro Deking dari Azer Motor Pasar Bengkok Cileduk. Sasis belakang dipotong sedikit agar lebih rapat. Ban depan belakang dipilih Swalllow klasik ukuran 18” x 450. Cukup gendut dan muscle! Selebihnya variasi penunjang, sok Byson dan knalpot handmade dibeli dari toko kustom di sudut Tangerang. Makin ciamik, pemiliknya mengontak sahabatnya, pengarajin kulit di bawah bendera Bo’et Leather Custom, punggawa Bike Art Soul Jakarta. Dua tas kiri kanan di tengah sasis menambah keren penampilanku.

Walau terbilang motor klasik jepang, aku tetaplahh aku…sebuah Kawasaki KZ  200 yang penuh percaya diri. Setidaknya aku memiliki beberapa kebanggaan. Selain sudah merasakan berbagai genre modifikasi, aku ini termasuk motor yang sangat lama bertahan di satu pemilik dan menjadi saksi lahirnya sebuah klub besar.  Bayangkan..dimiliki seorang biker sejak tahun 1985…, melahirkan klub di tahun 1988 dan kini sudah masuk 2020. Pencapaian yang luar  biasa. Bukan begitu?

follow ig @ridingreads dan fb riding read

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: