Tue. Feb 19th, 2019

JOURNEY TO TEBUIRENG, JOMBANG UJUD RESPECT PADA SANG BAPAK BANGSA, By Iwan Rasta

Bikers sang anak bangsa punya kewajiban respek pada mereka yang berjasa! Apalagi mereka tergolong bapak bangsa. Tersebutlah mereka yang sangat dimuliakan, KH. Hasyim Ashari, putranya  KH. Wahid Hasyim  dan cucunda beliau KH. Abdurahman Wahid. Mereka insan yang punya andil besar bagi negri ini. Dan…beruntung sekali ridingread.com  berkesempatan ziarah dan  mengirimkan surat Al-Fatihah di dekat pusara mereka….

Abadikan momen di dalam Museum Islam Indonesia

Kereta Logawa yang membawa saya dari Solo akhirnya tiba di stasiun kereta di kota Mojokerto, kota asal kelahiran saya. Setelah menginap satu malam di clubhouse (sekre) klub motor MMC OUTSIDERS Mojokerto chapter, akhirnya saya pun bertemu dengan salah satu Sahabat PMII Raden Wijaya, Lutfi Assyair, yang berkenan untuk mengantar saya ke pondok pesantren Tebuireng, Jombang.

Berboncengan motor yang hanya menempuh waktu sekitar 30 menit lamanya, sampailah kami berdua di Kota Santri tersebut dan langsung bertemu dengan mas Ahmad Fao, seorang penulis sekaligus pengurus Pustaka Tebuireng.

Bertiga kami pun memasuki Museum Islam Indonesia KH.Hasyim Asy’ari yang diresmikan oleh pak presiden Joko Widodo sebelumnya. Namun bangunan megah bertingkat lima tersebut belum semua lantai dibuka untuk umum. Hanya lantai satu saja yang dipenuhi oleh pengunjung yang ingin berfoto dengan latar belakang pahlawan-pahlawan nasional. Saking banyaknya yang ingin berfoto, sehingga pengunjung harus rela mengantri dan bergantian untuk berfoto bersama.

Simak baik-baik kata-kata bertuah ini..

Di Pondok Pesantren Tebuireng

Kuliner khas Iwak Wader Pari Penyet, khas Jawa Timur

BERBINCANG DENGAN HIJABER CANTIK

Ridingread sempat ngobrol dengan seorang gadis cantik berhijab yang bernama Imas ;

“Kami rombongan bertujuh asal dari Cimahi, Bandung dan sudah sejak lama ingin mengunjungi museum ini. Tapi sayangnya, belum banyak ruang yang dibuka untuk umum.” Waaahh… nggak nyangka RR bisa bertemu dengan mojang geulis dari tanah Sunda di Jombang.

Setelah berfoto di depan museum, kami segera menuju ke makam KH.Hasyim Asy’ari, KH.Wahid Hasyim dan KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terletak pada satu area. Tampak ratusan santri/santriwati tengah berdzikir dan berdoa untuk para tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama tersebut.

Mengingat cuaca dan langit yang sudah mendung, kami memutuskan untuk tidak berlama-lama di makam dan menuju toko buku yang dikelola oleh pengurus Ponpes Tebuireng. Selain buku-buku tentang keislaman, terdapat pula beberapa buku tulisan alm H.Mahbub Djunaidi, seperti buku ASAL USUL dan KOLOM DEMI KOLOM.Kami mampir sejenak di rumah mas Ahmad Fao untuk menunaikan sholat Ashar, dan setelah ‘perjamuan kopi dan rokok’ ala NU selesai, kami memutuskan untuk kembali ke Mojokerto sebelum hujan turun.

Tak berapa lama sepeda motor matic yang kami tumpangi meninggalkan Ponpes Tebuireng, tiba-tiba hujan turun dan kami memutuskan untuk berteduh di WARSO – warunge wong ndeso.

Kebetulan perut kami berdua sudah keroncongan, dan kami pun segera memesan menu andalan ; iwak wader pari penyet. Ikan emas kecil yang digoreng , disajikan dalam layah (piring dari tanah liat) serta lalapan mentimun yang sangat nikmat.

Ada satu plakat tulisan besar yang digantung di tembok, yang cukup membikin saya tersenyum ;

“Jika anda pesta minuman keras dan bermabuk-mabukan di warung WONGSO ini, pilih salah satu :

1.Kami laporkan polisi.

2.Kami telponkan TNI.

3.Kami ‘kandakno’ (kabarkan-Red)  FPI.”

Hehehe…sebuah peringatan yang cukup efektif !!

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: