Tue. Feb 19th, 2019

ridingread dan tamu Mbah Moen sedang mendengarkan nasihat

Journey Rembang-Kudus-Semarang SOWAN SILATURAHMI KE MBAH YAYI KH. MAIMOEN ZUBAIR By Isfandiari MD

Mbah Moen menyimak hadiah buku:Humor Jurnalistik
ridingread dan tamu Mbah Moen, mendengarkan nasihat

“Tidak riding bukan berti nggak punya cerita. Ini lelaku jalan-jalan naik  bus dadakan menuju Kudus-Rembang, Jawa Tengah. Pas Jumat malam (18/1) ridingread.com berkesempatan , ikut ngaji bareng KH Ma’ruf Amin di GOR KNPI kota Tangerang. Sebagai cawapres, beliau juga share minta dukungan. Wajar..

    Beres dari sana, lanjut ke terminal Kaliders, mencoba keberuntungan, siapa tahu ada  bus langsung ke tujuan: KUDUS

Pasangan Ical-Tamara, wisatawan, berpose di mesjid Sunan Kudus, arsitektur Hindu-Islam

PELAJARAN AGAR TAK DIKERJAIN TRAVEL NAKAL!

 Nah..mungkin ini jadi pelajaran kita semua. Masuk  terminal langsung ditawari naik travel menuju Semarang untuk nyambung  Kudus. Tiketnya 190 ribu, janji diturunka di Semarang. Pas pagi, saya diturunkan di Tegal disuruh  nyambung tanpa bayar ke bus yang jauh dari nyaman non ac. Malah kondekturnya mengeluh karena pihak travel yang mengoper dirasa kurang layak memberi ongkos kepada mereka. La..saya jadi serba salah dan nggak enak tho? Agak dongkol saya turun di Pemalang untuk nyambung pake bus AC ke Semarang seharga 50 ribu. Dari situ nyambung ke Kudus.Mohon ditertibkan pengelola terminal Kalideres! Ini namanya ngerjain penumpang!

Mbak Mira, santriwati Jakarta, ziarah ke makam KH Asnawi salah satu pendiri pergerakan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama

Diorama museum Kretek Kudus

    Agenda jalan-jalan memang nggak ada, sekenanya aja. Tapi di Kudus, saya punya ide menuju Rembang, sowan kepada Kiai Kharismatik Mbah Moen (KH. Maemoen Zubair) pengasuh ponpes Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang  bersantri sampai 4000-an. Si mbah menerima saya dengan ramah diantara banyak tamunya. Disuguhi kopi dan makan. Ia mendoakan moga Indonesia selamat dan rukun damai. Pertemuan dengan Mbah Yayi sungguh berkesan. Ia agamawan yang adem, ramah, toleran dan layak jadi panutan. Syukurlah, saya bisa bersilaturahmi dengan beliau. Nasihatnya sangat berguna dan memikirkan keselamatan negara. Apalagi dalam panas-panasnya pilpres sekarang ini, si mbah mendoakan semuanya selamat. Alhamdulillah Mbah kelahiran 28 Oktonber 1928 ini masih cergas, cekatan, pendengaran dan penglihatan tajam.

Macam-macam tembakau

Pagi di Kudus, jadi wisata ziarah Sunan Kudus atau Mbah yayi , KH. Sayyid Ja’far Shadiq Azmathan kelahiran Israel 9 September 1400. Beliau salah satu wali Sembilan terkemuka, sangat toleran dan mengajarkan Islam dengan damai. Sunan Kudus memerintahkan semua umat untuk tidak menyembelih sapi di wilayah Kudus untuk menghormati umat Hindu. Jadi sampai kini, kuliner Kudus didominasi daging kerbau dan ayam. Contoh yang baik dan sangat inspiratif dari KH. Sayyid atau lebih dikenal dengan Sunan Kudus. Uniknya, masjid Sunan Kudus tempat beliau dimakamkan juga masih menyisakan arsitektur peninggalan budaya Hindu.


Para bos kretek, semuanya tumbang kecuali..

sang Survivor…


Diorama museum Kretek Kudus

Mumpung masih di Kudus, rekomendasi ridingread.com adalah kunjungi museum Kretek di Jl Getas Pejaten 155 Jati Kudus. Banyak pengetahuan didapat di sini. Rokok kretek berawal dari penemuan Haji Djamari di abad 19. Ia sakit dada dan mengoleskan minyak cengkeh dan membaik. Menganggap cengkeh berkhasiat, ia mencampurkan cengkel dengan tembakau untuk jadi rokok, dan..lahirlah rokok kretek yang kita kenal sekarang..

Kedai Ikan Manyung Semarang pedazzzz dan lezaaat

Sebelumnya ngaji dulu di Tangerang bareng KH Ma’ruf Amin

    Tapi Djamari  bukan pebisnis! Lelakunya melinting cengkeh dan tembakau dilirik Nitisemito (1906) untuk diperdagangkan. Ia memulai usahanya di 1908 dengan merek rokok Tjap Bal Tiga. Inilah cikal bakal industri rokok kretek di Indonesia. Busyet, di jaman kejayaannya, perusahaan ini punya 20 ribuan karyawan. Sayang karena resesi ekonomi dan perang, pabrik rokok ini bangkrut.

    Museum ini memang sajikan berbagai informasi. Kita jadi tahu..bahwa dari sekian banyan bos rokok kretek di Kudus, hanya satu  yang survive yakni Oei Wie Gwan, pendiri pabrik rokok Djarum  yang memulainya tahun 1951.

    Sayang banget waktu di Kudus nggak banyak! Saya harus bergegas menuju Semarang untuk lanjut ke kantor redaksi ridingread.com di Tangerang. Tapi sebelumnya, sempatkan diri menikmati ,kuliner unik Semarang kuliner mangut kepala ikan Manyung yang pedas, kedai Bu Fat di Jl. Ariloka Kelurahan Grobokan Semarang Barat.

    Busyet..pedazzzz dan nikmat! See ya at the next journey…”

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: