December 9, 2021

Journey Medan-Prapat-Toba-Brastagi “WE DON’T KNOW ANY STRANGERS” Written By:Isfandiari MD

Cerita bermula saat polisi Medan dengan santun menyetop motor kami. Busyet, ia punya alasan, ternyata motor pinjaman Jupiter MX dari Central Yamaha Scorpii lupa dipasangkan pelat nomor depan! ”Brother…pelat nomor depan Anda tak ada,” katanya ramah. Kami sadar akan kesalahan ini. Sambil beriktiar menambil pelat nomor yang tertinggal, kami sarankan memindahkan pelat nomor belakang ke depan.”Jangan Bro, nanti disangka motor rampok lo,” jelasnya lagi. Iya ya!

Itulah sekelumit romantika saat kami akan meninggalkan Medan  ke arah Pematang Siantar di siang itu. Jalan dari Medan ke Pemantang Siantar tergolong monoton. Hanya jalan lurus dan terkadang bergelombang. Menjelang maghrib kami singgah sebentar di masjid sederhana yang dengan ikhlas menyediakan teh dan kopi. Kepenatan terbayar sudah saat kami rehat di teras mesjid sambil bincang-bicang soal klub-klub di Sumatera Utara.

Tebing Tinggi adalah kota ukuran sedang. Kesibukan penduduk kota terasakan karena hari belum lagi malam. Satu rider Mio  datang mendekati rombongan kami. “Singgahlah dulu, kalian anak klub medan khan,” sapa Eko dan Hendra dari  Mio Tebing Tinggi Fans Club (MTFC). Dan kamipun sudah akrab dengannya seperti teman lama. Tak lama kemudian teman-teman lainnyapun ngumpul, saling tanya kabar dan berfoto bersama.”Sayang kami tak bisa berlama-lama di sini. Pasalnya sudah janji bertemu teman-teman dari Sekumpulan Komunitas Yamaha Siantar (SKYS) di kota yang dituju,” jelas kami. Walau sedikit kecewa, mereka mau mengerti dan mengantarkan kami sampai ujung kota, saat itu  malam mulai larut.

Sepi  dan eksotis adalah kesan yang didapat saat malam memeluk Pematang Siantar. Di batas kota, seperti biasanya, beberapa motor anak klub sudah menyambut kami. Di sini, haram hukumnya tamu kebingungan mencari hotel atau sekretariat klub. Sudah menjadi hukum tak tertulis untuk saling menyambut dan mengantar, selelah atau selarut apapun. “Kami sudah menunggu kalian dari sore. Tak perlu langsung ke kumpulan, kita cari hotel yang nyaman dahulu supaya kalian bisa rehat sejenak,” jelas tuan rumah. Dan kamipun check in  dan bersiap-siap lagi toz Bro dengan mereka.

Walau baru jumpa, kami seperti kawan semasa kecil. SKYS terdiri atas beragam klub, mulai two wheeler underboneback-bone sampai skuteris dari SSC, (Siantar Scooter Club). Hidangan kacang dan bandrek berempah  kuat dihidangkan. Kehangatan terasakan dan kami sama sekali tak merasa asing.”Pagi nanti kalian akan jumpa teman-teman dari becak Siantar ya. Mereka adalah fenomena unik,” jelas Syahrizal Nasution, garda terdepan kumpula ini.

BIRMINGHAM SMALL ARM YANG MENYAYAT HATI…………

Pagi yang akrab menyambut kami  esok harinya. Kota yang lembut dan bersahaja sangat enak dinikmati. Kami langsung pada ‘magnet’ terkuat Siantar sekaligus menjadi ikon tak tertulis kota ini: motor lawas lansian Inggris yang menjadi becak motor.  Dahulu ada beberapa merek menjadi becak motor di sini. Mulai dari Triumph, Ariel, Matchles dan Birmingham Smaal Arm (BSA). Lewat seleksi alam, hanya BSA yang bertahan, yang lainnya ’hilang’ ditukar rupiah ke daerah-daerah lain.

Hambali adalah gerbang kami sowan ke komunitas ini. Di perempatan Jl Surabaya dan Jl Sutomo, beberapa die harder berprofesi sebagai becak motor Siantar menunggu penumpang. “Beberapa dari kami tergabung dalam klub BOMS alias BSA Owners Motorcycle Siantar,” jelas Hambali diantara kawan-kawannya, Udin Panjaitan, Yanto, Slamet Riyadi,Iman, Leo dan beberapa teman baru kami.

Selain keakraban yang terasa, ada juga perasaan miris saat beberapa dari mereka melakukan pembicaraan telepon ikhwal jual beli motor ini. “Pemerintah di sini melarang kami menjual aset kota ini. Maaf ya..hanya sebatas melarang tanpa melakukan tindakan nyata melindungi kelestaraiannya,” gemas mereka. Artinya, tak ada dukungan atau tindakan nyata agar becak Siantar tak punah. “Idealnya mereka melindungi dong. Memperlakukan motor ini sebagai asset budaya dan pariwisata. Padalah kalau mau jujur, nama Siantar sudah identik dengan becak BSA-nya,” jelas Hambali lagi. “Kami tak berdaya jika sudah diiming-imingi uang. Harga BSA sangat tinggi, lebih dari 20 jutaan. Hampir tiap hari terjadi transaki.  Sekarang jumlahnya memang masih ratusan, tapi saya yakin, 5 tahun mendatang, becak BSA Siantar hanya tinggal cerita,” jelas mereka lagi.

Miris hati kami mendengar penuturan mereka. Pasalnya kami sudah terlanjur merasakan suasana unik di sini. Bagaimana keakraban antara rider becak Siantar, suara menggemuruh  khas BSA dan kegembiraan calon penumpang yang dikenai minimum payment Rp 5000 sekali naik. Kami khawatir, suasana ini tak akan bertahan lama, sesuai ramalan mereka sendiri, 5 tahun lagi bakal punah! ”Mungkin sudah takdir! Dulu orang tua kami datang ke Jawa dan tempat-tempat lain mengumpulkan motor Inggris untuk dijadikan becak. Kini,  teman-teman dari Jawa berlomba-lomba membeli becak Siantar untuk dijadikan tunggangan bergengsi. Uang memang berkuasa,” miris para pengemudi becak Siantar tanpa bermaksud mengeluh.

Moga pemerintah Pematang Siantar paham betul betapa pentingnya BSA Siantar bagi penduduk kota ini!

Rumah Cong Afi di Kota Medan
Rumah Bung Karno di sisi Toba
Istana Maimun, Medan

PERJALANAN MENYUSURI KAKI LANGIT

Lepas dari Siantar kami mulain merasakan perjalanan menyusuri kaki langit. Tujuan utama adalat Prapat dan danau Toba yang memiliki keindahan lansekap kelas dunia. Seperti biasa, sebelum masih Prapat kami sudah disambut brother setempat dari Campoer Motor Community. Sama seperti hari yang sudah-sudah, kami tak marasa asing di tengah-tengah mereka.

Jumat yang gembira di pinggiran danau Toba. Nyanyian dari gereja-gereja bersahutan dengan suara adzan mengundang shalat Jum’at.  Kedamaian dan kerukunan antaragama sangat terasa di sini. Kelembutan alam danau Toba sangat bersinergi dengan kelembutan penduduk di sini.

CMC mengajak kami menghayati sejarah harum daerah ini. Kami diajak ke tempat indah, peristirahatan Bung Karno dan H. Agus Salim saat negeri kita masih dijajah Belanda. Bangunan khas Eropa mengingatkan kami pada film Sound Of Music, tipografi Toba dan bangunan bersejarah ini membuat imajinasi melayang. Alam negeri ini tak kalah indah dengan Eropa sekalipun.

Menjelang malam hujan deras melanda Berastagi. Terus terang kami merasa kepayahan juga di areal ini. Selain udara dingin, jalur berkelok ekstrem dan kondisi jalan yang memprihatinkan. Syukurlah kelelahan terbayar sudah saat masuk lagi me Medan. Teman-teman Eka dan Boy dari MBC menyambut di batas kota, kami langsung riding pe pusat kota menghilangkan penat. It’s a nice journey!

 

MENGHAYATI SEBUAH KARAKTER

Banyak yang silap saat berkunjung ke kediamana Tjong Afie, saudagar terkaya zaman Belanda saat itu. ”banyak yang datang hanya mengaggumi rumah Tjog Afie yang memang unik dan megah,” jelas..keturunan ke-3 saudagar ini.

Syukurlah, selain menikmati keindahan rumah ini, kami mencoba merasakan spirit yang tetap menyala dari sosok  almarhum Tjong Afie. Selain orang kaya, almarhum adalah karakter yang sulit dicari tandingannya. 3 prinsip utamanya, kejujuran, kesetiaan dan bersatu adalah  prinsip yang baik untuk di jalankan di saat ini. Kedemamawanan sang saudagar, sifat toleransi dan pluralismenya sangat mengagumkan. Beberapa mesjid, gereka, klenteng dan tempat-tempat ibadah lainnya, berdiri megah karena sumbangsingnya. ”Ketika Sultan Makmum Al Rasyid mau mendirikan mesjid raya Medan, Tjong Afie menyumbang 1/3 biayanya. Mesjid Petisah 100 % dibiayai almarhum dan beberapa mesjid di daerah lain. Ia juga mendirikan Deli Bank dan menjadi presiden Kamar Dagang Tionghoa Sumatera. Ia juga mampu member kesejahteraan pada buruh-buruh perkebunannya sekaligus mengangkat gengsi anak bangsa di mata Belanda saat itu,” kagum….keturunan ke-3.

Sebagai tokoh nasional dan Sumatera Utara khususnya, beliau punya pikiran besar. Tak hanya peningalan di Sumatera yang jadi bukti, iapun membangun 3 buah jembatan di negeri Cina, rumah sakit, sekolah dan mendirikan rel kereta api di Teotju dan Swatow. Ini adalah prestasi internasional seorang anak bangsa.

Pamungkas, kami beruntung merasakan juga kemegahan budaya Melayu di Istana Maimon Medan. Istana megah peninggalan Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alam ini  dibangun pada 18 Mei 1891. Arsitekturnya dipengaruhi berbagai gaya. Ada ciri tradisional Istana Melayu, pola India Islam (Moghul) dan gaya Eropa. Kapten TH Van Erp sebagai arsitek istana ini cukup jeli memadukan berbagai gaya ini.

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: