Wed. Nov 20th, 2019

JOURNAL JOURNEY BADUY DALAM

MASYARAKAT ‘MODERN’ SAHABAT ALAM……

 

Banyak anggapan, Badui dalam sangat tertutup buat dunia luar dan sulit dikunjungi. Anggapannya benar walau nggak sepenuhnya. Mereka tertutup karena patuh adat istiadat yang berlaku. Punya aturan dan etika yang sulit dilakoni masyarakat modern. Akses ke sana cukup menantang. Dari Badui luar, kawasan Ciboleger, kita wajib jalan kaki sekitar 40 km, atau 5 jam.  Atau bisa juga lewat desa Cijahe yang lebih dekat, sekitar 2 jam perjalanan untuk sampai ke Cibeo, Badui dalam, propinsi Banten.

Tapi disisi lain mereka sangatlah terbuka menerima orang luar. Masyarakat ramah, bersahaja dan sangat cerdas. Kita sebagai tamu wajib hormat pada aturan mereka, pantang pakai  alat elektronik, pantang memotret, pantang pakai sabun-shampoo atau alat alat kimia kalau mandi di desa Cibeo, Badui dalam…..

 

“Bagi ridingread.com, masuk ke Badui Dalam tentulah pengalaman keluar dari dunia bikers. Jangan berpikir kita bisa silaturahmi naik motor trail ala adventure.  Untuk mencapainya wajib jalan jalan kaki. Rombongan kami sampai di Ciboleger pada  Kamis siang (11/5), wilayah Baduy luar. Di sana, diterima ramah oleh kang Emen, warga Badui luar, diajak makan siang bersama di rumahnya yang asri. Di sana sudah ada beberapa sahabat baru kami, kang  Aldi Saija dan beberapa teman baru warga Badui dalam. Merekalah yang mengantar kami ke desa Cibeo, 5 jam perjalanan. ”Buat kami mungkin hanya 1.5 sampai 2 jam saja berjalan kaki. Untuk yang tak biasa menempuh medan berat, bisa memakan waktu sampai 5 jam,”buka Aldi dalam bahasa Indonesia yang baik dan jelas.

Makan bersama dalam suasana penuh keakraban di Desa Cijahe, Badui luar
Mereka enjoy berfoto selama masih ada di wilayah Badui luar

Saat masih di wilayah Badui luar, kami masih boleh berfoto bersama. Warga Badui dalam sangat ramah dan terbuka. Mereka enjoy diajak foto juga berselfie ria. “Nah kalau sudah masuk, pantang untuk berfoto lagi,” ramah Aldi.

Penasaran sama hand phone, mereka jago berselfie ria

Biar melelahkan, perjalanan ke Cibeo sangat berkesan. Vegetasi rapat, alam yang asri dan udara segar. Sesekali bertemu bajing yang mengintip diantara pohon besar. Dalam perjalanan, kita masih bertemu peradaban. Beberapa desa kecil wilayah Badui luar masih boleh membuka warung sajikan minuman atau cemilan teman perjalanan. Hampir 3 jam sudah perjalanan di zona Badui luar ini, rombongan bertemu jembatan terakhir perbatasan ke Badui dalam. Di sini, kami sudah wajib patuh pada aturan adat, untuk tidak mengambil gambar juga pakai barang-barang modern.

Sebelum masuk Cibeo, kita akan melewati tanjakan curam melelahkan yang beken disebut Tanjakan Cinta. He..he..disebut begitu karena sangat melelahkan dan berbekas di hati setiap orang yang pernah lewat. Nah, silakan istirahat, kembalikan ritme jantung karena tak lama lagi kita sudah dekat ke Desa Cibeo, Badui dalam.

Pantang minta, pas ditraktir es krim mereka enjoy dan hepi

Di ujung desa, kami sudah ada di sore yang sejuk dan mentari yang nyaris bersembunyi di horizon Barat. Segelintir  warga masih bekerja di ladang dan selalu tersenyum saat berpapasan. Dunia yang sangat bersahaja. Anak-anak kecil  bermain dan berlarian diantara bebetuan. Beberapa dari mereka mandi di sungai yang luarbiasa jernih. Dibandingn pakaian modern,  penampilan mereka sungguh estetis. Pria berbaju serupa baju koko warna putih dan sarung hitam bermotif khas Badui. Mereka memakai iket kepala putih dan golok yang selalu terselip di pinggang. Wanitanya menyerupai kebaya hitam dan sedikit motif. Kulit mereka relatif putih bersih dan wajah yang berseri-seri dan berpantang pakai alas kaki. ”Ini salah satu kewajiban agar kita selalu dekat dengan alam,” terang  Mursid, tokoh masyarakat di sana.

Kami langsung dipersilakan  rehat di salah satu rumah penduduk. Hidangan gula aren, singkong dan kelapa muda tersaji. Beberapa tetua kampung berkumpul dan share dengan rombongan. Dengan sabar dan runtut mereka melayani pertanyaan kami seputar adat istiadat, keseharian berikut harapan mereka. Terus terang, cara berpikir mereka sangat maju. Tiap rumah disediakan bak sampah dari anyaman bambu. Tak ada sampah berserakan super bersih alias sangat resik. Sungai pantang dikotori sabun, shampoo atau barang-barang kimia lainnya.

Bagi mereka inilah rahasia kebahagian dan selalu bersahabat dengan alam, sesuai amanat buyut: ”Buyut yang dititipkan kepada Puun, negara tigapuluh tiga, sungai enampuluh lima, pusat duapuluh lima Negara,gunung tak boleh dihancurkan, lembah tak boleh dirusak, larangan tak boleh dilanggar, buyut tak boleh diubah, panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung, yang bukan harus ditiadakan, yang jangan harus dinafikan, yang benar harus dibenarkan”

Malam itu kami tidur nyenyak tanpa nyamuk. Pagi hari mandi di sungai bersama warga Badui dalam. Beres makan siang kami diantarkan ke desa Cijahe, wilayah Badui luar. Sebagai kenang-kenangan kami berfoto bersama hingga mereka pamitan masuk lagi ke sebuah peradaban nan indah yang tak pernah berubah selama ribuan tahun. Momen yang bikin rindu untuk selalu kembali. God bless you all, warga Badui dalam…

 

By: Isfandiari MD

 

 

 

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: