Mon. Jun 17th, 2019

EKONOMI PANCASILA VERSI MMC-OUTSIDERS NATIONZ SIMPLISITAS YANG MEMBUMI.. Penulis: Isfandiari MD, Billy The Kid, Iwan Rasta Life Members MMC-Outsiders Nationz

Ada secuil perasaan nggak pede saat saya diminta pengurus menulis soal ekonomi Pancasila versi klub ini. Bagi kami, ekonomi pancasila jauh lebih bernuansa sosialisme ketimbang dunia yang kapitalistik. Di dalam intern klub, itu terasa sekali. Outsiders bagi sebagian besar membersnya, ibarat negeri ideal dalam ujud miniature. Ya, termasuk cara kami memandang ekonomi kerakyatan yang tentunya bicara ilhwal ekonomi kretif, mandiri dan jauh dari unsur njelimet dan culas.
Semua berawal dari state of mind lkhwal persaudaraan yang erat diantara two wheeler alias penunggang motor. Kami bisa kepanas-ujanan di jalan, biasa sama-sama kena problem mesin rusak atau duit sedikit untuk mencari banyak kesenangan. Semua itu jadi landasan berpikir saat kita ingin menglola ‘dapur’ sendiri lewat manajemen ekonomi mandiri dan punya ‘hukum adat’ sendiri yang harusnya di hayati semua anggota.
Pancasila buat kami adalah gotong royong. Ini memang yang diyakini Bung Karno saat ‘memeras’ 5 sila menjadi satu adanya. Gotong Royong ujudnya kebersamaan, zonder sikap individualistis alias ingin menang sediri.

KLUB HARUS PUNYA MANFAAT!
Di dalam De Condors (nama lain Outsiders MC), terjadi kesepahaman. Klub untuk semua dan semua untuk klub. Ini bukan jargon penyemangat kosong. Motor menjadi ‘jembatan’ silaturahmi, dipilih motor sebagai sarana penghubung sebagai pemersatu. Mereka yang sama-sama suka motor itu ternyata punya banyak perbedaan latar belakang. Ada yang tahu banyak soal agama, ada yang suka dunia hitam. Ada yang pinter dagang, ada yang jago hamburkan uang. Beberapa orang terdidik ada juga yang asli anak jalanan yang non educated, semua campur baur. Satunya punya uang milyaran satunya bingung bayar kontrakan bulan depan, dan mereka sama-sama hang out di pinggir jalan. Jalan hidup yang beda-beda itu kami anggap sebuah energI mempercepat akselerasi buat klub juga buat individu semua members. Mereka yang punya skill lebih tapi nggak punya sarana, bakal merapat ke life member yang punya sarana tapi nggak punya skill. Yang pintar mengajari yang bodoh, yang rajin mengisnpirasi yang malas. Intinya saling mengisi!
Di dalam AD ART ada disingggung soal kerjasama dan saling support. Tak cuma sebagai idea tau konsep, keduanya bisa dipraktikkan langsung di dunia nyata. Paling simpel: Jika salah seorang life member motornya rusak, dia akan membayar secara layak mekanik yang juga life member kita. Katakanlah salah seorang member sepatunya jebol? Dia nggak sertamerta pergi ke toko sepatu tapi mencari info dulu apakah ada life members kita di chapters-chapter yang bisa bikin sepatu? Atau setidaknya jadi agen penjual sepatu? Nah disinilah ekonomi intern berjalan.



MEMBERI ‘CELAH’ USAHA DENGAN CARA YANG PANCASILAIS

Bisanya saat tur atau nongkrong, member mencari-cari link diantara sesamanya. Kantornya mau bikin event? Dia akan mencari life members yang sibuk di dunia event organizer. Dengar ada lowongan kerja dia langsung share kepada LM yang masih nganggur. Info-info itu beredar kencang diantara LM bisa secara personal, atau lewat media sosial. Jarang ada info yang terlewat, semua dishare lewat jalan apa saja. Ada sedikit contoh: LM Kent Tatto melebarkan sayap membentuk Kent Art, terdiri atas seniman lukis, pahat, drama teater dan tentu saja tatois. Ia menyebar info diantara LM untuk mengisi kekosongan itu. Dan kini kegiatan itu berjalan atas support penuh members. Ini bukan kegiatan di dalam klub Outsiders MC tapi kegiatan di luar klub. Siapa yang terlibat? Dominasi tetap dilakoni para members.
Atau saat life members mebuat buku berjuluk Outsiders Kisah Para Penunggang Motor. Buku ini dijual bebas di Indonesia lewat toko buku gramedia. Bapak Jakob Oetama dirut Kompas dan KH Mustofa Bisri ikut mengomentari buku ini bersama penulis buku lain semisal Gola Gong. Buku ini dibeli dan disebar-jualkan ke umum atas bantuan seluruh LM. Mereka yang menjual dapat fee khusus sebagai ongkos jasa ikhtiar menjual. Sebagian masuk kantong pribadi mereka sebagian masuk kas Nationz. Di dalam buku terselip bonus CD musik, band yang juga life member club ini. Dari buku, mereka mengais rejeki, memperkuat imej, menjaga gengsi dan punya kegiatan launching buku dan lain-lain yang dikelola EO dari intern klub sendiri. Dari satu karya saja, banyak pihak terlihat dan mayoritas memang dari anggota Outsiders sendiri. Inilah yang jadi daya tarik rookie rules (calon anggota) untuk cepat-cepat berjuang menjadi life members kub ini.
Bisa kami bilang, inilah ujud usaha ekonomi kerakyatan yang pancasilais, karena kental nuansa gotong royongnya.

UANG BISA MENGEKALKAN PERSAUDARAAN

Di dalam tubuh Outsiders Nationz ada sebuah prinsip, bahwa uang mengekalkan persahabatan dan persaudaraan. Bantuan yang bernilai profit, bernuansa bisnis wajib transparan dan terbagi. Semua menikmati buah dari sebuah kegiatan. Tak ada lelaku yang bersifat gratisan jika memang profit minded. Semuanya berbayar dan menerima keuntungan finasial dari hal-hal yang diusahakannya. Ini berlaku buat semua life member, rookie rules (setangah LM), para Dewan Senior, Brain, Head, Soul juga Internal.



Jalan hidup members memang beragam. Saat dia ‘berkarir’ menjadi keluarga besar Outsiders ia pastinya punya angan-angan. Di dalam klub, aktualisasi dirinya makin kuat. Klub memberikan manfaat langsung setidaknya memperlebar jaringan usahanya. Paling tidak keluarga di dalam akan support penuh apa saja potensi yang dia punya. Intinya semua kegiatan bisnis (pribadi-klub) di dalam kekluarga besar ini, wajib diusahakan keras bersangkutan dan punya manfaat bagi life members yang kompeten dan berhubungan dengan kegiatan yang bersangkutan.
Jika klub diibaratkan Indonesia kecil, ia harus benar-benar jadi bangsa yang mandiri. Segala keperluan diikhtiarkan sendiri dan libatkan semua members sendiri. Beberapa life members Outsiders MC bisa kelihatan ‘kemandiriannya’. Sepatu beli dari members lain pengrajin sepatu. Sabuknya beli dari sesama life member pengrajin sabuk. Buckle, beli dari merchandise resmi klub yang sebaian keuntungannya untuk kas nationz. T-Shirt adalah merchandise resmi yang dibuat oleh intern dan beberapa item lain yang memang dibuat di dalam tubuh klub sendiri.
Semua barang yang diproduksi life members yang mengatasnamakan klub, wajib membeli cukai dari pengurus pusat. Uang cukai inilah yang menghidupkan operasional klub dan dana-dana yang memang diperlukan.



Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

%d bloggers like this: