Thu. May 13th, 2021

CERDAS DAN BANYAK MERENUNG..By Isfandiari MD

Ini penyakit orang (yang ngakunya) modern -Segala hal berbau klenik atau diluar logika, adalah non sens, kuno alias ndeso. Nah, bagaimana Islam menyingkapi hal ini?

Padahal disisi lain, banyak tuduhan oriestalis bahwa muslimin masuk golongan ini. Suka tahayul, kurang rasional, mudah marah dan suka menuduh.  Sedikit terdengar aneh, langsung tuduh Zionis Yahudi. Janggal sedikit, langsung bilang kafir dan… merekapun tetap maju meninggalkaan kita. Tragis!

Ironisnya, Islam tak melulu sepaham dengan pandangan umum muslimin. Sebab, dari kajian moral dan kajian historis, persoalan logika menempati urutaan mulia dalam pelukan Islami.

Simak komentar ahli hukum sekaligus filsuf beken, Muhammad Husein Heikal. “Banyak  buku tentang Rasulullah banyak dibumbui hal tak rasional. Ini sekaligus dijadikan sasaran empuk orientalis barat untuk mendeskriditkan Islam.”

Intisarinya, mereka menganggap Atheisme dan logika adalah sebuah Ijtihad (aktif) sedangkan keimanan disamakan dengan Jumud (pasif). Padahal tuduhan tadi sekaligus dijawab Al Quran 41:53 :

Akan segera Kami perlihatkan bukti-bukti Kami dalami segenap penjuru alam. Dan dalam diri mereka sendiri hingga ternyata bagi mereka bahwa inilah kebenaran itu. Belum cukupkah bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segalanya…

 

Belum cukup, pembelaan senada soal Ijtihad dan Jumud ini dilakoni Imam Ghazali. Secara filosofis beliau bilang, sebelum menerima paham, seseorang harus membe baskan diri dari segala konsepsi lantas berpikir dan menimbang kembali untuk membuat perbandingan.

Terus Ghazali: “Lalu diberikan argumentasi, diuji dan dianalisis. Dari semua itu Insya Allah, Tuhan akan menuntun kamu pada kesimpulan bahwa Islam itu benar!”

Perjalanan rohani Ghazali, perlu dicontoh untuk menghasilkan keimanan yang tangguh. Pencapaian keimanannya dicapai melalui jalan Ijtihad hingga  pribadinya terbebas dari Khilafiah dan terhindar dari hal bersifat Taklid.

Karena Ghazali juga mempraktekkan metode perbandingan, tak salah kalau kita juga membandingkan argumentasi Ghazali dengan ahli lain. Yang pantas komentar Alm. Syaikh Muhammad Mustafa Al Maraghi, rektor Univ. Al-Azhar. Beliau lebih transparan lagi menilai Logika v.s jumud yang sering ditimpakan pada muslimin.

“Metode dakwah berisi ilmu retorika yang dijalankan Rasululloh, sesuai dengan metode ilmiah orang modern sekarang.” Buktinya: Dalam metode ilmiah objek dibebaskan dari prejudice (prasangka), pandangan hidup, kepercayaan yang sudah ada dalam diri (konteksnya penyelidikan). Lantas mulai dengan  observasi dan eksperimen. Mengadakan perbandingan sistematis kemudian lahir silogisme berdasar premis tadi.

Jika sudah disimpulkan maka akan dibahas dan dianalisa ulang. Langkah seperti ini diangap runtut pikir terbaik dan belum ditemui tandingannya dalam kebebasan berpikir.

Bukan  kebetulan, cara inilah yang dipakai Nabi kita ratusan tahun yang lalu., Bukti otentik ada dalam Al Quran yang bilang bahwa rasio harus selalu jadi juru penengah, Sedang dasar ilmu adalah pembuktiannya. Al Quran mengecam sikap menghujat, meniru atas dasar prasangka semata. “Dan bahwa prasangka itu tidak berguna sedikitpun terhadap kebenaran.. (Q.S 53 :28)”

Mudah-mudahan, gambaran ratusan tahun lalu ini jadi acuan kembali logika muslimin. Tak lagi menghujat, menuduh atas dasar prasangka, tapi berpikir cerdas dan banyak merenung. Insya Allah….

 

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: