December 9, 2021

Bikers Saudi Arabia PARA TRACKER PADANG ARAFAH Written By:Isfandiari Md

Persis  tanggal  12 Juli jam 8 malam waktu Arab  Saudi, pesawat Garuda Indonesia mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Hiruk pikuk para jama’ah umrah dan TKW asal Indonesia terasa kental di Bandara yang sederhana ini.

Dari situ, saya langsung naik angkutan umum menuju  tanah suci Mekah  Al Mukaromah yang berjarak 1 jam perjalanan dari Jeddah. Sejak dari Bandara, saya sudah memakai pakaian ihram. Ya, tempat ini diniatkan sebagai miqat  untuk  berumrah. Memasuki batas kota Mekah, ada suasana lain terasa. “Inilah tanah haram yang dimuliakan-Nya. Tempat dimana pahala dan ganjaran akan dilipatgandakan Allah,” begitu hati berguman.

Di perbatasan itu, polisi Saudi Arabia sudah berjaga-jaga memeriksa paspor masing-masing pendatang. Persis di atas pos penjagaan terpampang huruf latin dan arab bertuliskan, Moslem Only. Ya, tanah ini memang tak memperbolehkan umat lain selain yang beragama Islam.

Jantung kota Mekah tentu saja Masjidil Haram yang berarti mesjid yang suci. Mekah Sofitel, hotel tempat saya menginap persis di belakan mesjid. Dari  restoran hotel sudah terlihat salah satu gerbang besar  dan megah yang terbuat dari marmer. Ini adalah salah satu  pintu masuk mesjid. Malam itu juga saya melakukan ibadah umrah berthawaf dan sa’i di sekitar Ka’bah sampai pagi menjelang.

Pagi hari, kesibukan kota Mekah sudah terasa. Roda empat alias mobil sangat mendominasi lalu-lintas kota. Ya, bisa dimaklumi. Pasalnya, alam disini bisa dibilang nggak ramah bagi bikers. Bayangkan saja, angin yang berhembus dari  gunung-gunung batu di sekitar kota bagaikan kompor panas yang menyengat. Hawa di sini bisa sampai 40 derajat celcius.

Salut…, ditengah ganasnya suhu di sana, ada saja bikers die harder yang berani nyemplak motor. Rata-rata, penduduk Mekkah menjadikan motor semata buat berbisnis, membawa barang dagangan untuk dijual pada para pendatang. Jadi nggak heran, mayoritas  penduduk memilih motor praktis berjenis skubek sebagai andalan. Tentu saja, desain skubek yang monochoque-underbone, gampang dipakai untuk membawa barang-barang yang banyak. Tak cuma itu Honda C-70 juga banyak dipakai para pedagang untuk memperlancar usaha bisnisnya. Akh sayang, rata-rata kondisinya benar-benar nggak terawat.

Sasis ber-back bone alias motor laki tentu ada. Rata-rata mereka memilih motor Honda Twin 400 cc atau Yamaha Virago yang kental bernuansa chopper.  Pilihan ini tentu tepat. Pasalnya tipografi jalan di sana besar mulus dan lurus. Apalagi jalan luar kotanya, sama dengan jalan tol tanpa karcis.  Desain nyantai khas chopper tentu lebih sip ketimbang ala sport yang menunduk.

Sekitar 4 km dari Mekah ada padang Arafah tempat jama’ah melaksanakan wukuf atau berkumpul. Tertu saja di bulan Juli ini suasana padang sepi dari para jama’ah. Jauh di horison lembah, terlihat asap mengepul dari kejauhan. “Itulah penduduk Mekah yang sedang rekreasi memakai ATV di sekitar Jabal Al Rahmah,” terang Mawardi Al Bahrain, brother asal Lombok  yang sudah 9 tahun jadi penduduk Mekah. Ia bilang, setiap Rabu malam dan Kamis, orang disini rekreasi ke tempat-tempat seperti ini. “Banyak diantaranya main-main motor di sekitar lembah,” kata sobat baru kita ini.

Jabal Al Rahmah ini punya tempat tersendiri dalam sejarah Islam. Dalam Al Qur’an, tempat ini disebut sebagai tempat bertemunya Nabi Adam dan Situ Hawa setelah terpisah selama 200 tahun di bumi. Posisinya nggak jauh dari padang Arafah dan berbentuk bukit kecil dengan tiang batu lurus ke atas.

Suasana sekitar bukit ini memang hidup. Selain ada penyewaan unta buat para pendatang, belasan motor  ATV bermerek Suzuki disewakan untuk dijajal sekitar padang. Anak-anak termasuk nekad juga mengemudikan semplakan ini. Mereka nggak segan-segan jumping dan saling serempet sesamanya. Ya, mirip tracker kita di sini.  Saat sebelum Mahrib merekapun bubar untuk melaksanakan shalat wajibnya. Wuih, suatu pemandangan yang berkesan!

MADINAH YANG BERMANDI CAHAYA

 

            Kota Madinah berjarak 400 km dari Mekah. Saya naik bus selama 6 jam lewat jalan lurus  dengan pemandangan gunung batu. Malam hari, pemadangan terang benderang terlihat jauh di horison. “Itulah kota Madinah al Munawarah yang artinya kota yang bermandikan cahaya,” terang Mawardi.

Ya…, kota ini memang indah. Cahaya terang menyelimuti di mana-mana. Apalagi di Masjid Nabawi tempat Rasulullah dan sahabatnya dimakamkan. Cahaya benderang menambah keagungannya.

Kehidupan bikers di sini nggak beda jauh dengan Mekah.  Motor disana bener-bener dipakai usaha. Menankut kain-kain dan dagangan  lain untuk dijual pada pendatang dari seluruh dunia.

Yang menyolok justru para polisi sana. Dua merek motor  yakni Yamaha Virago V-Twin dan Honda 400  Twin in-line jadi pilihan. Di setiap sudut strategis lalu-lintas mereka selalu berjaga-jaga. Malahan, mereka rajin berkeliling naik motor sembari mengatur lalu-lintas lewat pengeras suara.

Pas masuk shalat lima waktu, seluruh kegiatan kota berhenti. Toko-toko tutup dan brother polisipun langsung masuk masjid. Dilihat seksama, di jok motor mereka sudah tersimpan sajadah untuk keperluan shalat.

Inilah keunikan Madinah.

 

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: