September 29, 2022

Anak Dan Motor Baru PENTINGNYA PERAN ORANG TUA By Isfandiari MD

Beilla in action! Bocah yang sudah nge-cross sejak dini
Klub choppers.Sejak awal diajari sopan santun
Al Djuned, pelajar SMAN2 Tangerang antusias jajal Kawak W175

Atas dasar praktis dan efisien para  orang tua cenderung membelikan motor untuk anaknya sekolah. Tepat sih asal hati-hati! Riders baru ini perlu dibekali mental dan skill agar survive. Banyak kasus kecelakaan fatal sampai tewas disebabkan anak nggak siap mental dan skill mengendarai motor.Makanya orang tua harus pasang kuda-kuda. Paling awal, jangan terlalu dini membelikan motor seperti anak saat SD menuju SMP. Baru baik di usia kisaran 17 tahun (dari SMP ke SMA) berdasarkan   kematangan mental atas bahaya, ketepan mengukur ruang dan pengendalian emosi.

Sebelum membelikan motor, pahami dulu karakter individual si anak. Misal pembawaan anak yang emosional, grasa-grusu dan terlalu berani, dianjurkan tak membelikan motor berkarakter ‘panas’ macam RX-King atau Kawasaki Ninja. Cukuplah motor-motor yang lebih kalem dan tidak mengundang kebut-kebutan di jalan.

Setelah itu perketatlah diskusi tentang keselamatan dijalan raya. “Tanamkan pemahaman  bahwa motor adalah objek terkecil setelah sepeda di jalan raya. Artinya, motor mengandung potensi bahaya jika tidak memahami pentingnya safety riding,” jelas instruktur safety riding, Joel Deksa Mastana.

Tanamkan sifat kompetitif yang sportif pada anak yang cenderung suka kebut-kebutan. Jangan membentuk pemahaman bahwa balap liar, atau hebat di jalanan adalah kebanggaan. Arahkan mereka untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab bagi diri dan orang lain. Jika ada ‘bakat’ ngebut, arahkan mereka untuk bertarung di sirkuit resmi misalnya road race, grasstrack atau stunt rider. Jangan halangi mereka masuk klub. Pelajari karakter klub yang dimasuki si anak, jika klubnya  berorientasi positif, karakter si anak akan terbina dengan baik. Larang mereka masuk geng!

Tanamkan sebuah role models yang baik. Orang tua haruslah jadi contoh. Biasanya anak usia 17-san sedang mencari eksistensi diri. Jauhkan definisi jantan atau macho adalah sama dengan kehebatan pakai motor di jalan. Justru sebaliknya, bawaan elegan, hati-hati dan selalu penuh perhitungan adalah kejantanan hakiki dan layak jadi idola diantara teman-temannya. Output dari pemahaman ini membuahkan rider yang berprilaku safety.

Selanjutnya, berikan pemahaman hubungan emosional antara dirinya dengan alat safety terutama helm. Berikan sugesti positif seperti ini: jika anak itu memakai helm setiap saat, ayah dan ibu akan tenang dan nggak begitu was-was. Jadi untuk menyenangkan orang tua  dan ujud sayang pada mereka, sang anak ‘dibebani’ kewajiban untuk memakai helm. Outputnya sangat positif. Setiap riding ada keterikatan emosional antara sang anak dan perlengkapan safety tadi.

Moga berhasil menanamkan sugesti ini.

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: