Tue. Jun 22nd, 2021
Anak dan Ibadah Jumat

Anak Dan Ibadah Jumat By Isfandiari MD

Melatih kedisiplinan pada anak.

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat Jum’at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.

Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Surah al-Jumu’ah ayat 9

Surat ini mengandung esensi kedisiplinan, selain bekerja berusaha, ibadah tak boleh ditinggalkan.

Mereka yang bekerja, sempatkan waktu ke mesjid begitu juga para pelajar dan anak-anak.

Miris jika menyimpulkan kalau ibadah Jumat buat anak-anak, ABG juga remaja tanggung dijadikan ritual kosong semata.

Sebagai meeting point bercengkaran sebentar di sela rutinitas sekolah.

Nggak heran jika moment itu dimanfaatkan sebagai ajang senda gurau dan membuat kebisingan yang tak berarti.

Coba Anda tur keliling beberapa mesjid di sekitar rumah.

Perhatikan saf belakang yang kebanyakan di dominasi anak-anak dan pelajar dan perhatikan tingkah mereka.

Ini sangat jauh dari esensi perintah dalam surat Al Jumuah dalam Al-Qur’an.

Menunggu waktu shalat, 2 rakaat Dzuhur yang diganti ceramah sama sekali tak digubris.

Anak-anak berlarian kian kemari, membuat gaduh malah ada yang main games menunggu waktu shalat.

Telinga kita dipaksa bertempur antara kegaduhan seperti serangan ribuan tawon dan pengkutbah yang dengan tekun dan takzim menyampaikan risalahnya.

Terus terang, perjuangan mencari ridha Allah sangat berat dalam situasi ini.

Hati kecil kadang ingin berontak, sertamerta berdiri dan berteriak agar kebisingan itu usai, tapi apakah itu jalan yang terbaik?

Idealnya, peran orang tua, guru di sekolahlah yang mampu meredam itu semua. Anak ibarat kertas putih yang bisa kita tulis sesuka hati.

Lewat pendekatan ideal, mereka harusnya mampu menjadikan ritual Juma’t sebagai salah satu kewajiban mendisiplinkan diri,

dan ajang menempa diri juga melatih setiap pribadi untuk mampu memanfaatkan momen dan menempa disiplin sejak usia dini.

Kalau dihayati lebih dalam, polah tingkah demikian adalah gambaran situasi yang lebih besar lagi.

Disiplin memanfaatkan momen sesuai hakikatnya adalah modal dasar melahirkan generasi tangguh negeri ini.

Jika sebuah generasi tak mampu menkondisikan sebuah situasi sesuai peruntukkannya, kita bakal menjadi pesimis,

apakah mereka mampu menggantikan generasi sekarang yang sebenarnya juga sudah dalam ambang yang menghawatirkan?

Kita paling bisa menghimbau kepada orang tua, guru pengajar di sekolah-sekolah.

Tanamkan pada jiwa-jiwa yang masih ‘polos’ itu sebuah latihan dasar berdisiplin dan cerdik memanfaatkan momentum.

Bagaimana mereka bisa mengerti jika di rumah Allah, adab dan etika wajib dijaga.

Bagaimana mamatut-matutkan diri dalam situasi sakral minimal dalam ritual mingguan shalat Jumat.

Untuk anak-anak dibawah 10 tahun, mereka biasanya diajak orang tua masing-masing. Jika mereka menganggap penting ritual ini.

Mereka wajib memberikan doktrin yang kokoh akan pentingnya menjaga adab di mesjid saat ustads berceramah.

Paling miris melihat kebanyakan remaja tanggung yang seharusnya tahu betul posisi rumah Allah bagi umat Islam.

Jika perilakunya masih ‘liar’ sepanjang ceramah apalagi menjelang Shalat, kita harusnya sedih, bagaimana nasib bangsa ini di masa depan!

Leave a Reply

ridingread.com

Selamat membaca, selamat mengunggah, selamat mengunduh dan selamat bergabung menjadi keluarga kami, keluarga besar ridingread.

ridingread on Social Media

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On YoutubeVisit Us On Instagram
%d bloggers like this: