Jeffrey Rony Polnaja SANG PENUNGGANG ANGIN…. By Isfandiari MD

0
65
Ridingread.com, Jeffrey Polnaja, Gus Jaim dan Mbah Bedug mejeng dengan koleksi motor antik Gus Jaim di halaman pesantreh Kauman Lasem

”Sejak kecil aku sering melihat-lihat globe dan bilang pada mama. Ma..aku akan ke sini..ke situ… Setelah besar, impianku keliling dunia semakin besar! Bagiku, riding adalah segalanya, dulu aku atlet menunggang kuda kini beralih menunggangi kuda besi kemana-mana.

Sebelum program Ride For Peace,  Aku memang ’tukang’ turing. Selain solo ride, sering juga mengantar turis Belanda atau negara Eropa lainnya mengelilingi Indonesia. Terselip rasa bangga riding bersama mereka. Bangga memperkenalkan indahnya bumi pertiwi yang kucintai ini. Mereka sangat kagum pada lansekap dan keramahtamahan negeri kita ini.

Dari pertemuan dengan mereka itu pula aku ingin memberi lebih banyak ingin informasi tentang bangsaku.Aku ingin seluruh dunia tahu, bagaimana Indonesia  yang sesungguhnya. Maka kubulatkan tekadku untuk berkeliling dunia! Pada 23 April 2006, aku memulai perjalanan ini.  Kini sudah 97  negara aku tempuh mengendarai BMW GS 1150 lansiran tahun 2004. Kini sudah 3 benua aku tempuh, mulai dari Asia, Afrika sampai Eropa.  Awalnya aku menuju Singapura dan melanjutkan perjalananya ke sejumlah negara Asia seperti Malaysia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, China, Nepal, Butan, Banglades, India, Pakistan, dan Afganistan. Dari situ aku menuju Timur Tengah, Iran, Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, Arab Saudi, Jordania, Lebanon, Mesir, Libya, Tunisia, Algeria, Maroko, dan daratan Eropa seperti Spanyol, Portugal, Perancis, Monako, Swiss, Hongaria, Yugoslavia, dan Yunani. Dari Yunani aku meneruskan perjalanan ke Vatikan, San Marino, Slovenia, Austria, dan berakhir  di Jerman sampai 420.000 km.

Bebuka perjalanan, pengalaman mengesankan sudah aku temui. Di Malaysia misalnya, aku diperbolehkan menjajal sirkuit Sepang yang megah  atas kebaikan datuk Ahmad Mustofa, GM Sepang, Sebuah pengalaman yang tak bisa kulupakan. Terus ke atas, aku juga memasuki  daerah-daerah yang punya sejarah kelam. Ladang pembataian  atau yang beken disebut Killing Fields di Kamboja sempat aku datangi. Sungguh mengerikan, di sana ada sebuah pohon besar tempat pembantaian bayi-bayi oleh rezim Polpot. Dalam dioramanya,  kepala bayi itu dibenturkan di pohon itu disaksikan ibu mereka. Pengalaman unik aku temui juga di Laos, saat motorku dihentikan oleh tiga remaja  yang menodongkan  AK-47 kepadaku. Syukurlah situasi mencair saat aku mempertunjukkan sulap kepada mereka. Whffff… mereka mengijinkanku lewat dan riding  menuju kota Song Cha.

Selama perjalanan, banyak pertolongan Tuhan aku rasakan. Memasuki daerah-daerah rawan misalnya, ada saja yang menolong. Lengan ayun motorku rusak di tempat rawan perampokan zona Shiliguri. Syukurlah,  saya ditolong supir truk yang melintas dan diantar menuju New Delhi. Saya merasakan solidaritas luar biasa antara pengguna jalan di sini. Saya juga pernah dirampok orang bersenjata di wilayah antara Torkham  dan Jalalabad.  Di  Kabul,  saya menjadi ikon TV untuk acara sport adventure. Setiap acara ini muncul, gambar  saya selalu diiringi pesan-pesan  perdamaian. Masyarakat dan media di Kabul bangga karena ada orang asing yang mau masuk ke negaranya yang belum aman. Sayapun pernah hampir tewas saat mengalami trouble mesin di gurun tak bertuan, Balukistan salah satu propinsi di Pakistan.

Romantisme perjalanan memang segudang. Tak hanya melalui daerah konflik, saya pernah mengalami hal berbau mistik di Kopenhagen. Saat malam beranjak naik, ada dentingan piano yang dimainkan di sudut ruangan. Esoknya, pemilik hotel  bersikukuh tak ada orang yang main piano malam-malam. Tak hanya itu, sayapun pernah merasakan jadi raja minyak saat ditraktir menginap di hotel Burj Al Arab Dubai yang bertarif $ 3.000 per-malam. Hotel ini sungguh luar biasa, bahkan saat saya iseng memesang rendang, dikirim juga rendang dengan rasa khas tanah Minangkabau. Saya perkiraan, mereka memang punya koki-koki andal dari seluruh dunia!

Itu hanya sedikit sekali dari kisah perjalananku di 97 negara yang kukunjungi. Mereka semua sangat antusias dan ingin mengenal Indonesia lebih jauh. Sst..di beberapa negara, nama Indonesia masih harum lho, terutama tentang Soekarno sebagai pahlawan negara dunia ketiga.

Oh ya, kalau penasaran menyimak seluruh kisahmu,  secara lebih detail, brothers bisa datang ke toko buku dan membeli buku yang mengisahkan perjalanan ini. Buku  ini saya beri judul Wind Rider dengan sub-judul Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia. Saya ingin kisah saya ini jadi inpirasi bikers-bikers muda. Saya tak ingin ambisi keliling dunia hanya berhenti hanya pada seorang Jeffrey Polnaja saja. Ayo kibarkan merah putih  kita di pentas Internasional!”

 

SHARE

Leave a Reply