Balada Si Roy dan Kahlil Gibran – Kolaborasi Karya Dahsyat

0
79

Sebuah Tanggung Jawab Moral Anak Sastra.
Teks by : Iwan Rasta

Remaja generasi akhir tahun 1980-an tentu tidak asing lagi dengan novel bersambung yg dimuat di majalah HAI -sebuah majalah remaja yg sangat terkenal pada jaman itu- yg berjudul BALADA SI ROY yg penulisnya bernama Gola Gong.

Cerita itu mengangkat sebuah tema yg laki-laki banget ; perkelahian, petualangan, deru motor dan perempuan. Dengan tokoh sentral bernama Roy Boy Harris yg bersahabat dengan seekor anjing herder bernama Joe.

Lalu, pembaca pun dibawa larut dalam petualangan-petualangan Roy yg keras, khas laki-laki. Bandel, tapi tetap menghormati ibunya.
Namun secara tidak sengaja, Balada Si Roy (BSR) ini juga mengangkat segi sastra dalam kisah-kisahnya. Maklum, Sang Penulis pernah tercatat sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran, Fakultas Sastra.

Sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap jurusan kuliahnya, Gola Gong selalu menyisipkan puisi pada awal episode BSR. Baik itu karya seniman-seniman lokal seperti ; Toto ST.Radik, Rys Revolta, Asih Purwaningtyas, dan Heri H.Harris sendiri.

Serta, ada pula kutipan kata-kata bijak dari Alexandros Panagoulis, Pope dan Kahlil Gibran.

Nama terakhir inilah yg menjadi daya tarik anak muda waktu itu untuk lebih tekun mendalami karya sastra, dan berburu buku-buku karangan Kahlil Gibran seperti ; Sang Nabi,Taman Sang Nabi, dan lain sebagainya. Mereka seolah tersihir oleh kata-kata “Sang Nabi” tersebut. Sehingga memacu mereka untuk berkarya, berpuisi dan mengolah kata untuk menjadi larik yg indah.

Buku BSR jugalah yg memicu anak-anak muda untuk bertualang -belum ada istilah backpaker pada waktu itu- menggendong ransel mereka, menggelandang dari satu kota ke kota lain.
Sungguh dahsyat sekali kolaborasi yg tercipta antara BSR dan Kahlil Gibran, dimana kedua karya-karya tersebut masih tetap dibaca dan disukai oleh generasi sekarang, generasi milenial yg terjangkiti virus gawai (gadget) yg hampir tak pernah lepas dari genggaman tangan mereka.

“Mesti selalu mabuk. Tenang sudah, itulah masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan beban ngeri Sang Waktu yang meremukkan bahu, serta merundukkan tubuhmu ke bumi. Mestilah kau bermabuk-mabuk terus-terusan. Tetapi, dengan apa?
Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan…. sesuka hatimu.
Tetapi, mabuklah!”
(Kahlil Gibran)

SHARE

Leave a Reply