KASIDAH SAWAH “PAK TANI ITULAH PENOLONG NEGERI”-KH HASYIM ASY’ARI By Abdullah Wong

0
48

 

…… Ada moment yang mungkin jarang dialami all bikers. Tuh..ada undangan persahabatan dari budayawan Nahdlatul Ulama, kang Abdullah Wong..gassss bro!!!

 

“Pak Tani itulah penolong Negeri,”

(KH. Hasyim Asy’ari)

 

Tarian para petani di hamparan sawah negeri ini seakan terhenti. Kidung petani berseruling yang membajak sawah dengan kerbau berlumpur seperti tak terdengar lagi. Canda burung-burung yang meledek bebegig atau orang-orangan sawah juga tak ada lagi. Seakan pagelaran indah anak negeri dalam Kasidah Sawah sudah tak dikenal lagi.

 

Dewi Sri mungkin tersipu malu. Melihat anak-anak negeri tak mau lagi menjadi petani. Godaan kota yang menyerbu desa seperti mengganggu ketulusan para petani. Padahal petani punya peran mulia bagi keberkahan negeri ini. Menjadi petani tak cukup cakap mencangkul, membajak, menanam atau menyiangi. Karena hujan dan terik matahari silih berganti hadir di kedalaman pematang hati. Bersetubuh bersama tanah air adalah mimpi-mimpi indah para petani.

 

Siapa sangka bila karakter bangsa ini dapat ditemukan dari sosok para petani? Mereka adalah pribadi yang meyakini bahwa ratusan tahun pohon ditanam, tapi hanya hitungan menit untuk ditebang. Petani adalah pembelajar sekaligus pengajar kepribadian anak-anak negeri. Bahkan petani adalah para pujangga. Bagi mereka pematang sawah adalah barisan sajak penuh makna dan hikmah. Cangkul-cangkul mereka adalah pena yang menggurat dan membalik rahasia tanah. Menebarkan aroma tanah yang subur demi ingatkan jeri payah para leluhur. Dari mereka kita belajar bahwa untuk satu bulir padi, mesti berangkat dari benih, lumpur, keringat hingga sengatan matahari. Proses yang bukan instant tapi melalui tahapan daya tahan dan penuh kesabaran inilah yang menjadi pembelajaran bagi pembentukan karakter anak-anak kita.

 

Sementara sawah-sawah negeri ini tak sehat lagi. Atas nama peningkatan produksi, atas nama percepatan hasil-hasil bumi, pestisida dan bahan-bahan kimia memerkosa kejernihan dan ketulusan tanah pertiwi. Tapi para petani tak punya pilihan lagi. Meski resikonya tanah-tanah sawah makin kering tak ada cacing tak ada humus lagi.

 

Maka di hamparan sawah yang makin kerontang itu, pekerja teater bermaksud menggelar sajadah sawah sebagai ekspresi cinta kepada para perani negeri ini, dalam sebuah pagelaran teater yang bertajuk Kasidah Sawah.

 

Mohon Doa Restu dari Sahabat semua

 

 

Salam Budaya dari Sutradara

Abdullah Wong

SHARE

Leave a Reply