Riding Impression Kawasaki W175, Ridingread.com ARE U VINTAGE ENOUGH? By Isfandiari MD

0
400
Mampir di zona Puncak Pass
Ridingread.com dan Al Djuned, murid SMA 2 Tangerang

Supaya afdal, ridingread.com nggak pinjam atau ikutan acara riding test milik Kawasaki. Kebetulan, di ihktiarkan beli sendiri di harga Rp 30 jutaan.

Di puas-puasin deh, dibawa keliling kota, solo ride juga boncengan. Oh ya, postur tubuh owner standar orang Indonesia, 175 cm, berat 70 kg. Boncenger, anak ABG, kelas 2 SMA 2 Tangerang, bernama Al Djuned, berat 65 kg tinggi 177 cm.

Anak ini juga ikutan jajal dan plan ke depannya mau dipakai harian rumah-sekolah pas liburan usai 16 juli mendatang. Di mata beginner, ada beberapa catatan ditorehkan. “Starter susah nyala! Perlu di choke dulu baru bisa. Agak merepotkan juga sih, bunyi kek..kek..kek..-nya menganggu. Pas di choke baru bisa!” katanya. Solusi bisa rehab ulang  daleman Karbu standar, pilot jet  (PJ) 90 dan mainjet (MJ) 20, ini kurang maksimal, susah hidup harus tarik choke.Rekomendasinya wajib oversize spuyer dengan paduan MJ119 dan PJ 38. Pas dicoba selain gampang hidup,  tarikan lebih responsif jjuga akselerasi spontan. Tuh, cari aja banyak di bengkel umum, harga kisaran 25 ribuan.

Abah Panji dan singe seat w175 Cyclebrave-Pey Rides Custom

Beres, motor dijajal Jakarta-Bandung, ketemuan dengan beberapa brothers. Sekalian di moment itu, banyak life member klub kustom yang punya motor sejenis, jadi nggak ada salahnya share sama mereka. Touch down Bandung, bertemu Levi Lebon, bassis grup Setia Band. Dia bernasib sama, baru beli W175. Ekstremnya, Levi langsung merevisi bebepa bagian khususnnya ikhwal estetika. “Langsung masuk Pey Rides Custom, Bandung Timur.. Ban standar, nggak bagus, diemater kekecilan, makanya langsung saya ganti 18 “ depan belakang. Detail roda, pelek 2.5 inci depan dan 3.0 inci belakang, besaran 120 dan 140. Otomatis ganti sepatbor dan beberapa pernik lain,” jujurnya. Tanggung, ridingread.co ngegas ke Pey Rides for more details.”Variasi lain perlu ditambahkan di motor Levi. Jok asli pabrikan diganti lebih tipis papai kulit asli, penambahan saddle bag dan menyempurnakan peranti pengereman belakang pakai punya Yamaha Mio,” jelas builder pasutri Indri-Bagus. “Setang juga saya ganti untuk ergonomi yang lebih pas,” jelasnnya lagi.  Hal yang sama dilakukan pada motor Abah Panji yang juga direhab abis!(lihat foto)

Masuk Bandung, langsung mampir ke Cyclebrave Style Part, spesialisasi kulit ukir untuk jok motor klasik. Kebetulan bertemu Nie Kurnia, lady bikers bekan yang pernah dipinjami W175 oleh Kawasaki. “Ringan buat cewek, kayak pakai motor matik! Not Bad lah,” nilai Nie. Ia yang juga suka desain klasik jadul, memberi penilaian ikhwal estetika ol skoolnya W175. Mendekati style old british ya. Knalpot Peashooter atau menggembung di tengah sangat klasik.”Ha..ha..cuma kalau saya langsung ganti knalpot, soalnya nggak ada suaranya,” salip Levi. Benar aja, pas dijajal beda banget, standar pabrikan, ces…ces..ces..sedang milik Levi bersuara ngebas.

Levi dan W175 custom

“Gimana ridingnya asyik?” Tanya Gingin Kurniadi, owners Cyclebrave.”Start pagi jam 8, kena macet di pasar Parung, ngegas terus ke puncak. Biasa di zona ini, padat merayap. Berboncengan nggak kelewat berat  cukupan lah. Ergonomi jarak setang, pijakan kaki, jok ideal, hanya masukan boncengers agak pegal dalam durasi kelewat lama. Cukup baik melawan tanjakan puncak dengan modal satu silinder 177 cc, ia bertenaga 12.8 Dk pada 7.500 rpm. Torsi puncaknya 13.2 Nm di 6000 rpm, transmisi 5 percepatan,” jawab saya ke dia. “Tapi itulah, ini bukan buat speedlovers! Di jalan panjang Rajamandala, motor sudah getar hebat di 80 km/jam. Untuk lebih lagi bisa, asal tega!” jawab saya.

Bere dari itu perbincangan lebih ke estetika. Salain catatan dari penikmat modif, tujuann kami ke Cyclebrave juga untuk share soal aura vintage-nnya W175 ini. Memang sesuai selera sih! Untuk yang tetap pertahankan bentukan pabrikan, usulan paling masuk akal ada di lingkar roda 18 “ menggantikan yang 17”. Ini membuat motor lebih muscle ol skool nggak terlalu kecil. Tapi kalau au lebih banyak, motor ini memang modifiable. Terisnpirasi selara Levi, lampu belakang dibuat lebih simpel dan pelat nomor belakang yang klasik. “Mungkin paling ‘fatal’ dari desain w175 ini ada di pelat nomor depan! Terlalu menganggu dan nggak banget! Pasnya memang disimpan di bawah lampu depan seperti lumrahnya desan klasik vintage,” nilal Al Djuned.

“Fenomena W17 lumayan seru! Cyclebrave dan Pey Riders bareng—bareng merancang khusus desain jok double  seater ala sadell kuda supaya ,lebih klasik lagi. Sambutan penikmat desain bagus, banyak yang pesar,” tambah Gingin yang bermitra dengan Jeff Kareem seniman ukir kulit. Ini memang jadi trend tersendiri. “ Kami menerima pelat mentahan dari PRC dan membungkusnya dengan kulit,” jelas Jeff-Kareem .Terpisah antara rider dan boncenger agar lebih klasik. Biaya pelat, carving sampai bungkus kulit 2.5 juta.

Info saat hang out di Bandung itu jadi masukan ridingread betapa modifiable-nya W175. Hari itu juga kami pulang lagi ke Jakarta. Start jam 10 malam dan masuk Jakarta jam 2 dini hari.

Pas rehat makan sop Sai panas di puncak, motor terparkir di pinggir jalan, dan kami masih berpikir…are we vintage enough?

Indri-Bagus (Pey Rides Custom) sering tangani Kawasaki W175
Roda lingkar 18″
Double single seat vintage
Cyclebrave leather carving

 

 

 

SHARE

Leave a Reply