MUSEUM KERETA API AMBARAWA THE RAILWAY…TIME TUNNEL! Written By:Isfandiari MD

0
96

pemerintah kolonial dipimpin Koningen Willem I memerintah Teaser:     Sepulang memasuki dunia ol skool Lawang Sewu Semarang, kami  tersedot untuk merasakan nuansa jadul saat zona Ambarawa tahun 1873.  Peninggalan mereka masih terpatri kuat di tanah ini, sebuah stasiun kereta api yang kini menjadi museum keretapi artistik dan terawat rapi. Untuk Ambarawa, kepopuleran museum ini setara dengan kisah heroik Palagan Ambarawa yang membangkitkan rasa nasionalisme.

 

SEANDAINYA AKU ORANG BELANDA……….

 

Berkhayal seolah orang Belanda atau mandor perkebunan, kami memasuki ruang demi ruang di museum ini. Perabot nan kokoh masih terawat rapi. Peranti per keretapaian  seperti peralatan komunikasi, kontrol jalur kereta api masih ajeg lestari. Detail estetika bangunan arsitek masa lalu memang tak ada bandingannya. Saat itu jaman masih serba detail, mungkin waktu masih merayap lambat hingga mereka sungguh-sungguh dalam membangun setiap detail. Akh, bersyukur, kita yang hidup di jaman ini masih bisa merasakannya.

Kali lupakan dunia bikers, motor terparkir rapi di parkiran museum ini. Peluit panjang dibunyikan dan beruntung, kami bisa sempat membeli tiket dan naik kereta wisata Ambarawa-stasiun Bedono berjarak 20 km pulang perlu.  Jangan tanya pemandangan sepanjang perjalanan…bagaikan surga di kaki langit. Danau  rawa pening menebar pesona berhiaskan tananan air dan polah penduduk Ambarawa mencari nafkah. Udara mengelus paru-paru dan menebar bau tanah basah yang wangi. Angin kadang nakal membelai telinga dan menyentuh pipi kita yang menjadi kemerahan karena udara dingin. Kereta api sesekali masuk perkampungan penduduk yang sepertinya sangat enjoy dihadiahi lansekap demikian indah. Sayang karena saat itu hari biasa, kami tak merasakan kereta uap, tapi kereta modern yang memang disediakan pemerintah sana.

Saat kereta melaju, pikiran masih saja menerawang, seandanya kami orang Belanda yang hidup di jaman itu dan menggandeng noni sepanjang perjalanan,  bagaimana rasanya ya?

 

SEJARAH PERADABAN TRANPORTASI MASAL

 

Untuk momen khusus, pengurus kereta api ini mematok biaya Rp 3.5 juta atau dalam kisaran 400 $ untuk sebuah rute perjalanan yang sama menggunakan kereka uap yang mampu mengangkut penumpang sekitar 40 orang. Pastinya menjadi kesan yang tak akan terlupakan.

Kami yakin , siapapun yang mengalamai perjalanan ini seakan merasakan ‘lelaku’ VOC yang membawa peradaban dan teknologi transportasi masal beratus tahun lalu. Romantika yang bermula saat pencangkulan pertama kaki jalan kereta api di desa Kamijen pada Jum’at 17 Juni 1864 oleh gubernur jendral Hindia Belanda, Mr L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunannya diprakarsai “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada Hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Kisah terus berlanjut. Keberhasilan swasta membangun NV. NISM membangun jalan KA antara Kemijen – Tanggung berlanjut dengan jalur Semarang-Surakarta (110 km) pada 10 Februari 1870. Selanjutnya semua bertumbuh kembang di daerah lainnya dan tercatat antara tahun 1864-1900, dinamika tranportasi masal khususnya perkereta apian terus berkembang.  Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi 110 km, tahun 1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 km. Tak hanya di Jawa, di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali, Lombok juga dibangun.

Yah itulah kisah masa lalu. Kini perkereta apian kita juga tak seberapa maju bahkan semakin terpinggirkan oleh tranportasi masal lainnya. Entah salah siapa, tapi itulah perjalanan sejarah.

Tak terasa, perjalanan pulang pergi Ambarawa-Bedono usai. Keretapun merapat kembali di  museum Ambarawa kembali. Kami merenung dan menikmatinya sekali lagi estetika museum ini. Waktu bergulir sore, kami  lantas berhitung waktu agar bisa kembali bekerja di tempat tujuan beratus kilometer dari Ambarawa. It’s amazing journey

IKLAN

Bikers penggemar literasi, monggo nikmati dua buku ini. Tentang klub motor dan memoar tokoh. Wa ridingread.com /isfandiari 087881452626
SHARE

Leave a Reply