Catatan Perjalanan Kang Jeffrey Polnaja

0
88

Tuntaskan Puncak Penjelajahan Dunia di Benua Australia

 

  • Jeffrey Polnaja mulus jelajahi Pesisir Selatan, Barat, dan Utara Benua Australia dengan membelah bagian tengah negeri Kanguru.

 

  • Jeffrey Polnaja telah berada di gerbang terakhir penuntasan misi Ride for Peace Kedua di Dili, Timor-Leste.

 

  • Jeffrey Polnaja tercatat sebagai pengendara sepeda motor paling jauh nomor dua di dunia.

 

 

DILI, TIMOR-LESTE, SELASA, 28 JULI 2015 — Jeffrey Polnaja, penjelajah dunia seorang diri dengan sepeda motor asal Indonesia, akhir pekan lalu, Sabtu, 25 Juli 2015, telah mencapai Timor-Leste, negara tujuan terakhir misi Ride for Peace (RFP). Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat berusia 53 tahun ini masuk ke negara tetangga tersebut setelah sukses menjalani petualangan penuh tantangan di sepanjang benua Australia dan Selandia Baru selama hampir empat bulan sebelumnya.

 

Jeffrey mengaku sangat bersyukur bisa menyelesaikan tahapan penjelajahan yang cukup berat di Australia. Dia menilai petualangan di negara Kanguru itu sebagai puncak penjelajahan RFP kedua. Berbagai lintasan panjang dengan medan ekstrim dan cuaca buruk telah dihadapi pria yang akrab disapa Kang JJ ini.

 

 

“Saya bersyukur masih diberikan kekuatan menjalani misi Ride for Peace. Benua Australia, walau pun dekat dengan Indonesia, telah memberikan nilai baru dalam hidup saya,” ujar Jeffrey.

 

“Nilai tantangan serta pengalaman di Australia tidak saya temukan di negara-negara lain yang telah saya singgahi sejak Ride for Peace pertama dan kedua ini. Banua ini memiliki tantangan alam dan budaya tersendiri,” ungkap pria yang masih ditemani Silver Line, sepeda motor BMW R 1150 GS bernomor polisi B 5010 JP.

 

Jeffrey menegaskan bahwa petualangan dengan kendaraan roda dua di Australia tak sekadar menuntut stamina prima. “Banyak teman menyarankan kepada saya untuk mengenali budaya-budaya setempat, khususnya dari suku-suku Aborigin, agar tidak mengalami masalah di luar pemikiran kita,” tambahnya.

 

“Karena itu, saya berusaha untuk selalu menghormati budaya mereka, dan tak segan-segan mengajukan izin kepada pemegang kuasa adat Aborigin di sebuah wilayah sebelum memasuki kawasannya,” lanjut Jeffrey.

 

Dalam misi RFP di Australia ini Jeffrey mengaku bekerja sama dengan  Konsulat Jenderal  Republik Indonesia (KJRI) Sydney Yayan Mulyana, Konjen KJRI Melbourne Dewi Savitri Wahab, Konsulat Republik Indonesia di Darwin Andre Omer Siregar, serta Duta Besar Republik Indonesia di Canberra Nadjib Riphat Kesoema untuk mempromosikan Indonesia secara langsung kepada publik Australia. Bersamanya, RFP menjelajahi berbagai pelosok terpencil di benua Kangguru dan memperkenalkan Indonesia sebagai negara penuh keragaman budaya yang bersahabat dengan seluruh bangsa di dunia.

 

Jeffrey sendiri masuk ke Benua Australia setelah dirinya mampu mencapai kota paling selatan di muka bumi, Ushuaia, Argentina, lalu kembali ke utara menuju Gurun Atacama Santiago, Chili pada awal tahun ini. Dari benua Amerika ini dia mengapalkan “Silver Line” menuju Sydney, Australia yang tiba pada Maret 2015.

 

“Saya sempat mengunjungi Selandia Baru dan menjelajah North Island sampai Auckland. Tidak lama, karena Selandia Baru tidak luas,” katanya. Dari negara yang tak jauh dari Kutub Selatan itu Jeffrey kembali ke daratan Australia untuk memulai misi RFP. Tak kurang dari 20 daerah dan kota yang terhubung dengan jarak sangat jauh serta medan berat disinggahinya.

 

Australia Sajikan Petualangan Penuh Tantangan

 

Bagi Jeffrey Australia telah memberikan kesan tantangan petualangan penting. Negara satu benua ini menyimpan beragam keunikan alam dan budaya yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Terlebih untuk pengendara kendaraan roda dua seperti dirinya. Tidak kurang dari 11.500 km, di mana tidak sedikit di antara lintasan itu berpemukaan tanah, dilalui dengan penuh resiko.

 

Jalur penjelajahan RFP di Benua Australia yang dijalani Jeffrey nyaris tiga per empat dari rute reli klasik Mobilgas Around Australia Rally pada 1958 (sekitar 16.500km), sebuah kejuaraan balap ekstrim memutari garis pantai Benua Australia searah putaran jarum jam.

 

Bedanya, Jeffrey tidak menyusuri pesisir pantai menuju Perth, Australia Barat, dan menjelajahi garis pantai di sepanjang Darwin, Teritorial Utara hingga Birsbane di wilayah Queensland. Tapi Jeffrey justru mengambil lintasan beresiko besar ke Alice Spring, Australia Utara dari Adelaide, Australia Selatan hingga menembus Leonora, Australia Barat yang tidak menjadi tahapan Australia Rally.

 

“Bagian tengah dari benua Australia saya anggap sebagai kawasan penting yang perlu dikunjungi Ride for Peace. Alice Spring boleh disebut sebagai titik tengah benua Australia. Di sepanjang perjalanan dari Adelaide ke Alice Spring hingga Leonora saya sempat melalui wilayah-wilayah tidak berpenghuni, atau yang hanya ditempati suku-suku Aborigin. Ini tantangan tersendiri,” ungkap pria yang sejak remaja terbiasa menunggang kuda ini.

 

Salah satu jalur menantang yang dilalui Jeffrey adalah Great Central Road, sebuah ruas terkenal menantang di Australia di mana jalan masih berpemukaan  tanah sepanjang hampir 1.200 km. Untuk melalap lintasan sepanjang itu Jeffrey mengaku menghabiskan waktu tiga hari, sebuah perjalanan yang termasuk singkat karena dilalui sorang diri dengan sepeda motor.

 

Seperti diketahui, jalur Great Central Road yang pertama kali dibuka pada 1930 tidak memiliki banyak tempat pemberhentian. Jeffrey bahkan hanya menemukan tiga titik penghentian untuk pengisian bahan bakar. Ironinya, di tempat tersebut tidak tersedia penginapan. Alhasil selama tiga malam dirinya harus bermalam dengan tenda di alam terbuka.

 

“Saya diingatkan bahwa tidak ada pihak di Australia yang bisa bertanggung jawab terhadap keselamatan saya di sepanjang jalur Great Central Road. Sedikit pun saya tidak menganggap remeh. Saya juga perlu surat izin perjalanan dari pemuka adat Aborigin sebelum memasuki daerah-daerah tertentu untuk keselamatan,” ujar Jeffrey.

 

 

Jeffrey menambahkan rintangan terbesar dalam penjelalajan di alam Australia adalah lintasan ekstrim, hewan liar, dan cuaca yang tidak terduga. Di beberapa titik lintasan tanah yang dilalui bahkan bisa menenggelamkan roda-roda sepeda motor. Sementara hewan liar juga bisa menyeruduk sewaktu-waktu. Bahkan Jeffrey sempat mengalami terpaan hujan butiran es yang sangat menyakitkan ketika menghantam tubuhnya.

 

“Saat siang suhu udara bisa antara 28 sampai 30 derajat selsius, tapi malam tiba-tiba jatuh hingga minus 4 sampai 6 derajat selsius,” tarang pengelana yang sempat mengunjungi makam pahlawan perintis kemerdekaan Indonesia di Cowra, New South Wales ini.

 

Sebagai catatan, sepanjang penjelajahan di Australia Jeffrey mengambil rute dari Sydney, Cowra, Canberra, Wollongong, Snowy Mountain, dan melumat lintasan berpasir menuju Bairndale hingga Melbourne. Dari situ, dia melajutkan perjalanan ke Adelaide melalui Great Ocean Highway, sebuah jalan berliku dan curam dengan pemandangan indah.

 

Setelah menghabiskan beberapa waktu di Adelaide, Jeffrey meneruskan misi RFP meuju Port Augusta, Alice Spring (Stuart Highway/Explorer Highway), lalu menjajak ke Uluru (Ayers Rock), hingga tiba di Leonora setelah tiga malam perjalanan di sepanjang Great Central Road.

 

Dari Leonora, Jeffrey ditamni Silver Line yang sangat bersahabat dengannya nai ke atas menuju Port Headland di utara bagian Barat Australia. Dengan stamina yang masih bugar dan pengalaman mental yang kuat dirinya menyusuri pantai barat Australia hingga Darwin, melalui Broome, Pine Creek, sera menyempatkan diri turun ke selatan ke daerah Devils Marbel.

 

Pengendara Sepeda Motor Terjauh Kedua di Dunia

 

Jeffrey telah menorehkan prestasi membanggakan sebagai putra Indonesia di mata internasional. Kini dialah manusia penunggang sepeda motor terjauh di dunia yang telah tercatat di daftar Circumnavigation di Wikipedia.org, sebuah catatan tentang orang-orang yang pernah berkeliling dunia sejak Ekspedisi Magellan melintasi samudera Atlantik, Pasifik, dan Hindia (1519-1522).

 

Sejak akhir RFP pertama pada awal 2006 hingga kelajutan RFP kedua mulai 2010 sampai Juli 2015, penulis buku Wind Rider ini tercatat telah mengunjungi 97 negara, termasuk Australia yang diselesaikan pada Juli 2015. Tidak kurang dari sekitar 420.000 km jarak tempuh telah dicatat dengan dua sepeda motor sama jenis, BMW R 1150 GS.

 

 

Penjelajahan itu sekaligus menempatkan Jeffrey sebagai pengendara sepeda motor terjauh nomor dua sepanjang sejarah. Posisi Jeffrey berada di bawah Emilio Scotto asal Argentina yang melakukannya selama 10 tahun (1985-1995) menggunakan Honda Gold Wing GL1100 dengan total jarak 735.000 km.

 

Prestasi Jeffrey tersebut sekaligus mematahkan prestasi popular yang ditorehkan pengendara asal Inggris Ted Simon yang hanya mencapai 126.000 km (1973-1977) dengan Triumph Tiger 500cc, dan Helge Pedersen asal Norwegia dengan BMW R 80 GS (400.000 km, 1982-1992).

 

_________________________________

 

Tentang Ride for Peace

 

Ride For Peace adalah perjalanan keliling dunia secara terus menerus yang dilakukan seorang diri oleh Jeffrey Polnaja. Pada tahun 2006, Jeffrey telah menjelajahi 72 negara di kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. 

 

Pada awal tahun 2012 Jeffrey Polnaja kembali melanjutkan perjalanannya. Dia memulai perjalanan dari Paris, Perancis guna menjelajahi Eropa, termasuk menaklukan kawasan dingin di Siberia. Jeffrey kemudian masuk ke benua Amerika  melalui Vancouver, Kanada setelah melintasi Samudra Pasifik.

 

Dari Vancouver Jeffrey memulai perjalanan panjangnya di benua Amerika, ia menuju Alaska melewati jalur ‘loose gravel’ ribuan kilometer sepanjang Dalton Highway dan berhasil mencapai Deadhorse, Prudhoe Bay–sebuah jalan di utara Amerika yang sangat terkenal di dunia karena keganasan medannya.

 

Sejak awal 2006 hingga Juli 2015 setelah Australia, Jeffrey yang mengusung bendera Ride for Peace telah berkelana dengan sepeda motornya sejauh kurang lebih 420.000 kilometer. Sudah 97 negara di benua Asia, Afrika, Eropa dan Amerika, dan Australia dijelajahinya. Rencananya, Jeffrey akan mendaratkan BMW R 1150 GS ke Tanah Air pada September 2015 usai menyelesaikan penjelajahan di Timor-Leste.  ###

 

 

Foto: http://www.imgrum.org/user/jjwindrider/990335132

Leave a Reply