UPACARA NYANGKU PANJALU BAGAI MASUK KE ABAD KE-7 MASEHI

0
30

Upacara nyangku Panjalu selalu kami tunggu kehadirannya. Karena kesibukan, berbagai tahun lewat terus, padahal ini acara budaya berskala nasional juga banyak dihadiri turis mencanegara. Tahun-tahun ke belakang, mantan presiden RI, almarhum Kiai Haji Abdurahman wahid juga sempat hadir di acara ini dan menjadi kebanggan masyarakat sampai sekarang. Beruntung, saat BIKERS liputan adventure di zona Ciilat, Ciamis, kami bertemu dengan bro Undang Noor, penggila adventure yang juga tokoh masyarakat Panjalu.”Akang concern di soal budaya ya? Besok acara nyangku di daerah saya, harusnya ke sana dan jangan disia-siakan,” ajaknya. Tak pikir panjang, kamipun mengiyakan dan berkeras hati untuk datang ke Panjalu, esok harinya (4/2).

Pagi itu, zona Panjalu, danau atau situ Lengkong Panjalu benar-benar istimewa. Mayoritas yang datang memakai pakaian adat, iket sunda juga baju pangsi. Pagi itu, pasar dan alun-alun Panjalu berseka dengan indah, kami duduk makan pagi dengan penduduk Panjalu lengkap dengan pakaian adat juga para santri pesantren dari berbagai kota. “Upacara ini sudah dilakoni turun temurun, sebagai tanda penghormatan kita kepada budaya setempat, peninggalan budaya juga kearifan lokal masyakatat di sini,” jelas Kang Undang lagi.

Upacara Nyangku sendiri memang ditunggu semua orang. Prosesi utamanya adalah mencuci benda pusaka termasuk pedang sayidina Ali. Konon jika beruntung, benda-benda pusaka seluruh tatar ukur (Priangan) akan datang secara gaib ke Bumi Alit untuk mandi. Katanya, museum Bumi Alit akan penuh oleh benda-benda yang berdatangan dari daerah lain. Setelah upacara pencucian selesai, koleksi Bumi Alitpun kembali seperti sedia kala.

PEDANG PENINGGALAN SAYIDINA ALI R.A UNTUK PRABU BOROSNGORA

Zona ini memang istimewa, baik dari kacamata budaya juga peninggalan sejarah Islam. Upacara adat Sunda masih lestari sampai kini, penyebaran agama Islam di wilayah ini juga bukan dari datangnya pegadang arab seperti terjadi di wilayah-wilayah lain tapi rajanya sendiri yang mencari ilmu ke daerah Hejaz atau Saudi Arabia.
“Kisah yang panjang dimulai di abad ke-7 masehi,” jelas kang Undang. Saat itu berdiri kerajaan Panjalu yang diperintah prabu Cakradewa. Dari hasil perkawinan dengan putri Sari Kidang Pananjung, lahirlah enam putra yang salah satunya bernama Prabu Borosngora. Ia inilah yang disiapkan menjadi raja Panjalu di masa mendatang. Sejak muda Borosngora sangat berbakat mendalami ilmu kedigjayan. ”Kesaktiannya luar biasa, berjalan di tanah dan air tak ada bedanya. Iapun tidak pernah tahu warna darahnya sendiri karena kekebalan tubuhnya,” kisah kuncen Bumi Alit Panjalu, museum tempat barang-barang pusaka Panjalu di alun-alun kota. Alkisah, tak ada satu mahlukpun di Nusantara yang mampu mengalahkan Borosngora.

Ayahnya cemas akan kesaktian putranya. Ia takut sang putra manyalahgunakan ilmunya. Diceritakan, tak ada satupun Wiku (pendeta Hindu) yang bisa melunturkan ilmu Borosngora. Maka disuruhlah Borosngora berkelana mencari Elmu Sajati di negeri yang jauh. Singkat cerita ia mengadu ilmu dengan seorang kakek tua di Hejaz, Mekah, Saudi Arabia. Ternyata ilmunya kalah oleh sang kakek yang tak lain adalah Sayidina Ali R.A. Iapun berguru dan mendapat ajaran Islam. Pulang berguru, Borosngora menjadi raja sekaligus menjadikan Panjalu kerajaan Islam yang kuat. Saat pulang Borosngora dihadiahi Pedang, Cis (tongkat untuk kotbah) dan Baju kesultanan. “Cis, dicuri gerombolan DI/TII tahun 50-an, baju hancur dimakan waktu, sedang pedang masih ada sampai sekarang,” kata Kuncen Bumi Alit. Sampai kini pedang tersebut tersimpan di Museum dan bisa disaksikan oleh masyarakat saat akhir bulan Rabi’ul Awal atau akhir Maulid Maulid Nabi dalam upacara Nyangku. Sejarah menulis, saat pulang Borosngora juga membawa air Zam-Zam dan ditumpahkan di dataran rendah Panjalu dan berubah menjadi Situ Lengkong atau danau Lengkong. Perjalana sejarah ini mengandung arti penting, bahwa keislaman rakyat Panjalu bukan didapat dari saudagar arab (hadramaut) yanag berlabuh ke Indonesia seperti daerah-daerah lain, tapi peran aktif raja Panjalu ke tanah Arab di jaman Khalifah Ali Bin Abi Thalib.
Di pulau ini bersemayam makam para leluhur Panjalu, Mbah Panjalu yang menurut Abdurahman Wahid adalah Sayid Ali Bin Muhammad Bin Umar dari Pasai. Dalam buku Babad Panjalu, beliau disebut sebagai Hariang Kencana, putra Prabu Borosngora. Versi lain menyebut yang dimakamkan adalah Wastu Kencana, raja Galuh yang bertahta di Kawali.

BUAT PARA ADVETURER, MOMENT TAHUNAN INI JANGAN SAMPAI DILEWATKAN

PEturing dan adventurer direkomendasikan datang ke zona ini. Makin afdal jika datang pas upacara nyangku, di sekitar haru Maulid Nabi S.A.W. Untuk mencpainya ngak sulit, jika masuk Tasikmalaya, silakan berbelok kea rah Suryalaya, jalan aternatif yang tembus ke Majalengka, Kawali atau Kuningan. Lokasinya di ats gunung yang asri dan sejuk.
Setelah sampai, jangan leatkan untuk masuk ke pulau Nusa Gede. Untuk mencapainya, bro harus parkir motor dan beralih naik rakit. Air danau yang dipercaya berasal dari Zam-Zam di Tanah Hejaz (Arab) dan pemandangan Situ Lengkong dengan kelelawar pemakan buah, tentunya jadi kenikmatan tersendiri. Makam leluhur Panjalu yang kental nuansa magis dan sejarah kerajaan Sunda juga jadi magnet yang memesona.

Sehabis ziarah, silakan menyempatkan diri berkunjung ke museum Bumi Alit tempat disimpannya benda-benda pusaka kerajaan. Paling utama ya, pedang Sayidina Ali R.A, oleh-oleh sang guru pada Borosngora. Pedang tersebut tersimpan apik diselubungi kain putih. “Sebelum meninggal Borosngora berpesan untuk tak menujukkan letak makamnya. Hanya pedang inilah sebagai kenang-kenangan keturunan Panjalu sampai sekarang,” terang Kuncen Bumi Alit.
Saran saya, datanglah ke wilayah ini saat perayaan Maulid Nabi SAW. Mereka menggelar acara nyangku (mencuci benda pusaka). Jika beruntung, benda-benda pusaka seluruh tatar ukur (Priangan) akan datang secara gaib ke Bumi Alit untuk mandi. Katanya, museum Bumi Alit akan penuh oleh benda-benda yang berdatangan dari daerah lain. Setelah upacara pencucian selesai, koleksi Bumi Alitpun kembali seperti sedia kala.

SHARE

Leave a Reply