Sumedang The Land Of Proud

“Keindahan tanah-tanah pertanian dan perkebunannyan membentangi bukit-bukit dan lembahnya yang subur, sambung menyambung dalam suatu keanekaragaman yang jelita dan menambat hati, membentuk pemandangan yang sangat memuaskan. Penduduknya berkulit lebih cerah dan lembut daripada bagian-bagian lain di pulau Jawa. Wanitanyapun bersosok menarik dan beberapa diantaranya sangat cantik.” Begitu gambaran Mayor William Thorn, serdadu Inggris yang pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sumedang tahun 1815.

Sampai kini, keindahan yang digambarkan sang mayor tak berubah sedikitpun. Sumedang adalah tanah yang cantik dan kaya akan keanekaragaman budaya. Untuk para peturing, jalan raya Cadas Pangeran pastinya menyajikan romantisme tersendiri. Dan ..brothers pastinya paham jika ditempat ini bersemayam jasad dua orang paling berani di Nusantara ini. Pertama, sang srikandi tanah Rencong Aceh, Cut Nyak Dien dan kedua tokoh Sumedang, Pangeran Kornel Wirakusumah yang melawan Gubernur Jenderal paling kejam sepanjang sejarah, Daendels. Dari ketertarikan inilah BIKERS melangsungkan Journey Jakarta-Sumedang (11-12/4) kali ini. Mau ikutan riding? Let’s hit the road dude!

DOG FIGHT DI ADALAH KESAN PERTAMA…..
Beruntungnya punya banyak brothers. Saat masuk kota Sumedang, kami ditunggu dua sohib, Armen Effendy (ketua Outsiders Sumedang) dan Ade Saleh (salah satu life members klub ini). Setelah istirahat sejenak dan disuguhi peganan khas Sumedang, kami berbincang soal kekhasan kota ini.

 

Baru beberapa menit melintas Mang Ade. Doi ini unik karena punya profesi sebagai tukang becak tapi pakai mesin C-70. Mumpung kejadian langka, becak khas mang Ade kita abadikan dengan chopper custom milik Armen. Jepret! Mumpung belum terlanjur siang, Armen dan Ade ngajak BIKERS ke daerah Cibeureum, di sana sohib kita Soleh alias Oye.”Dia lagi asyik ngadu anjingnya sama babi hutan,” kata Ade. Busyet! “Ini memang mainan favorit anak-anak Sumedang dan daerah-daerah lain. Mereka mendatangkan anjing-anjing terbaik untuk ditarungkan dengan babi hutan yang ganas. Kuring pernah jadi wasit nih hasilnya,” kata Ade sambil memperlihatkan bekas jahitan memanjang akibat diseruduk babi. Ekstrem euy…

Suasana pertarungan Babi-Anjing benar-benar brutal. Paddocknya berisik oleh gongongan anjing yang rata-rata berjenis Pittbull. Air liur dan gigi tajam dari anjing-anjing haus darah membuat suasana tegang. Pas masuk arena, anjing langsung menyerang babi hutan di kubangan.”Anjing yang baik tak langsung menyerang dan menggigit tapi mengatur strategi dulu, mengendap-endap…suatu tontonan yang menegangkan,” jelas Oye.

TOZ BRO KE ABAH IDU DURAHMAN
Masih ingat tokoh masyarakat Sumedang Abah Idu Durahman? Ia ini yang menggegerkan penonton TV se nusantara dengan Wayang bergerak dan gong yang bisa bergerak sendiri itu? Abah Idu juga guru silat, ulama dan paranormal yang sangat disegani di daerah ini.
Kami tos Bro ke kediamannya desa Galudra Sumedang. Terus terang bro., aura mistik sudah menghinggapi kami saat kali pertama ke kediaman Abah. Lorong-lorong gelap dan dingin harus kami lalui saat sampai ke ruang tamu abah. Di lorong itu terparkir motor bebek, choppers buatan Cina dan satu ATV. Pas ketemu, pria 69 tahun ini tampak jauh lebih muda dari usianya
Di sana Abah berbincang soal kehidupan, cinta kasih, persaudaraan, budaya juga hal-hal berbau mistik. “Kita harus percaya pada hal yang gaib karena diperintahkan oleh agama,” kata Abang. Ia juga bercerita soal kekayaan budaya Sumedang termasuk ilmu kanuragan. Beruntung abah mau mendemostrasikan pada BIKERS.”Coba angkat saya,” katanya. Pas pertama diangkat sangat ringan. “Angkat lagi!” tantangnya. Angkatan kedua, abah tak bergerak sedikitpun. Seperti berusaha mencabut pohon beringin..bergerakpun tidak. Malah abah menawarkan kami untuk bertemu para khadam (pembantu) dari golongan Jin, sayang waktunya sudah terlalu sore dan abah harus menerima tamu-tamu lainnya. “Lain kali kalau kesini lagi ya!” tawar tokoh karismatik ini.

SI GEULIS…SANG PEMBERANI DARI TANAH RENCONG
Dari rumah Abah kami riding ke gunung Puyuh tempat disemayamkannya tokoh-tokoh Sumedang. Paling fenomenal adalah makam Cut Nyak Dien, pahlawan Aceh yang dibuang Gubernur Jenderal Belanda J.B.V Heutz. Kisah Cut Nyak saat berjuang di Aceh sudah banyak dibacan orang. Bahkan film yang dibintangi Christine Hakim sudah banyak menerangkan sepak terjang wanita pemberani ini.

Tapi bagaimana kisahnya di tanah Sumedang? Belum banyak yang tahu. BIKERS bertemu Rd. Dadan R. Kusumah, juru kunci sekaligus keturunan dari tokoh masyarakat Sumedang yang merawat Cut Nyak Dien saat di tatar Sunda ini. “Saat pembuangan di Sumedang, beliau ditemani panglima perangnya berumur 50 tahun dan seorang laki-laki 15 tahu bernama teuku Nana. Di sini Cut Nya yang sudah dalam keadaan lemah dan buta diterima Bupati Sumedang Pangeran Aria Suria Atmaja (Pengeran Mekah) untuk dititipkan pada ulama besar K.H. Sanusi, anaknya H. Husna dan cucunya Siti Khadidjah.Merekah orang-orang yang sangat telaten merawat Cut Nya.
Srikandi Aceh ini hanya bertahan 2 tahun di Sumedang sampai akhir hayatnya. Di waktu yang singkat ini, ia sempat mengajar mengaji pada kaum wanita Sumedang hingga diberi gelar ibu Perdu yang berarti ibu Ratu.”Seingat saya ia juga dijuluki ibu Geulis karena cantik,” tambah Abah Idu. Dalam waktu yang singkat ini, Cut Nya Dien menorehkan kesan mendalam di masyarakat Sumedang.

Leave a Reply