Journey Honda V.S Yamaha

0
62

Bukan bermaksud ngaduin lho, tapi dua-duanya memang terbilang digdaya diajak jalan jauh. BIKERS jelas penasaran, dalam untuk merasakan sensasi Yamaha Scorpio dan Honda Tiger New Revo untuk turing ratusan kilometer oleh rider yang sama tapi tempat waktu yang beda.
Akhirnya diputuskan menjajal Scorpio untuk jelajah Jakarta-Linggajati dan Honda sebagai tamu istimewa untuk Jambore MACI Bojonegoro. Dua perjalanan ini punya misi yang beda juga Bro, mau ikutan? Siapkan fisik dan mental, he..he..

 

YAMAHA SCORPIO UNTUK MENAPAKI PERJUANGAN PARA FOUNDING FATHER

Hemat kami, Scorpio pas diajak turing Jakarta-Linggajati Jawa Barat. Walau tak terlalu jauh, medan yang ditempuh lumayan bervariasi. Ada jalanan lurus dan mulus, sedikit suasana Pantura yang kadang bumpy dan saat masuk wilayah Majalengka Linggajati langsung naik-turun khas pegunungan.
Agar mendapat input maksimal, kami putuskan untuk napak tilas mengunjungi jejak sejarah founding father yang mendirikan republik ini. Ingin merasakan bagaimana lelah dan penatnya perjalanan mereka saat berjuang atau pergi ke meja perundingan yang jauh dari ibukota.
Dari Jakarta kita ingin rolling hard menuju pinggiran kota Rengas Dengklok lantas riding menuju Subang, menembus jalan Cagak menuju Sumedang. Di sana, menurun menuju Tomo Majalengka untuk lanjut ke kaki gunung Ciremai lewat Raja Galuh. Sebuah lansekap bagai di alam mimpi. Udara sejuk, angin semilir dan jalanan hotmix berliku naik- turun. Belum lagi keanggunan Gunung Ciremai sebagai gunung legenda tempat pendekar Jaka Sembung konon ditempa. Perjalanan diakhiri di rumah Belanda nan indah tempat perjanjian Linggajati ditandatangani. Semuan menimbulkan kesan yang mendalam teriring rasa salut pada para founding father kita.
Akselerasi Scorpio dan kapasitas mesin yang lumayan besar menjanjikan sensasi turing dan power maksimal. Sok monocros kami nilai mumpuni melibas jalanan jelek karena perbaikan di pantura. Riding position cukup melelahkan saat terjebak macet saat masih di Kalimalang Jakarta dan beberapa zona daerah Kerawang-Purwakarta.
Belum lagi kondisi yang tak konsisten, kadang jalan mulus kadang masuk kategori killer road. Belum lagi masih dilakukannya pembangunan hingga antara jalan aspal dan beton bergantian silih berganti. Penghijauan di areal ini juga parah! Jalanan sangat panas dan berdebu.
Tapi itulah romantika turing. Masuk wilayah, Rengas Dengklok, penatnya perjalanan terbayarkan. Ini memang bukan tempat biasa. Dari penduduk sekitar, kami mendapati kisah-kisah ptriotik yang menyelimuti areal ini. Paling menonjol adalah kisah patriotik ikhwal Aki Masrim. Ia adalah keturunan penyebar agama Islam dan Tumenggung asal Cangkuang Garut, Syeikh Arif Muhammad. Siapakah Aki Masrim? Nah, beliau inilah pemimpin perjuangan melawan Belanda di Renggas Dengklok. Beliau jugalah yang mengamankan proklamator RI, Ir. Soekarno saat diculik para pemuda pada 16 Agustus 1945 dini hari bersama ibu Fatmawati dan anaknya Guntur, berkenaan dengan kemerdekaan RI sehari setelahnya.
Yang membuat salut, wilayah seluas 500 km persegi ini telah mencatat peristiwa spektakuler. Dari catatan sejarah, rakyat disini berhasil melucuti tentara Jepang pada 14 mei 1945 dan menurunkan bendera Jepang lantas menaikkan sang saka merah putih. Berarti dari tanggal 14 Mei sampai proklamasi 17 Agustus, bendera RI sudah berkibar di sini. Rakyat menyebut Rengas Dengklok sebagai RI darurat dan mereka bangga bahwa di daerah inilah merah putih kali pertama berkibar. Syukurlah di wilayah ini dibangun tugu peringatan dengan desain yang bagus sekali. Sayang pemda setempat tidak merawat ideal tugu ini dan tampak kusam terbengkalai. Namun, itu tak mengurangi kekaguman kami pada Aki. Setelah merdeka, beliau hanya menjabat sebagai lurah Bojong dan terkenal arif tanpa membedakan suku agama dan ras.
Tak jauh dari tugu ada bangunan bersejarah lainnya. Tempat itu tak lain adalah rumah seorang etnis Tionghoa, Djiaw Kie Siong yang didatangi dwi tunggal Soekarno-Hatta sebelum merdeka. Kisah bermula saat Sukarni pergi ke Cikini No. 71 Jakarta bersama Yusup Kunto Mereka menemui pemuda-pemuda yang dipimpin Chairul Saleh. Inti pertemuan membahas ‘penculikan’ Soekarno-Hatta ke markas tentara PETA di Rengas Dengklok. Mereka khawatir jika dwitunggal ada di Jakarta, akan ditindas Jepang dan menghalangi tercapainya proklamasi kemerdekaan. Mereka juga tak sudi jika kemerdekaan ini dihadiahi para penjajah. Singkat cerita, para pemuda bertamu ke kediaman Soekarno-Hatta pada pagi buta.. Kono keduanya lumayan jengkel karena dibangunkan pagi-pagi. Merekapun pergi ke Rengas Dengklok pukul 4.30 WIB.
BIKERS menyambangi rumah tempat keduanya beritirahat. Sebuah rumah sederhana milik Djiaw. Sayangnya kediaman asli sang kakek sudah hilang digerus kali Citarum, hingga kami mendatangi rumah keturunannya yang masih menyimpan berbagai barang langka seperti tempat tidur, kursi dan lainnya. “Abah pas bersalaman dengan Bung Karno sempat tidak percaya. Pemimpin bangsa kok kaosnya bolong,” kisah. Djow Kwin Moy cucu sang kakek saat ditemui BIKERS.

SCORPIO MENGITARI CIREMAI
Untuk peturing sejati jalanan menuju Linggajati di kaki gunung Ciremain menjadi pengalaman tak tergantikan. Mau coba jalur kami? Dari Renggas Dengklok menuju Pantura, berbelok ke Cikampek arau Purwakarta lantas naik ke atas menuju Subang. Dari jalan Cagak Subang, menuju jalan aternatif, bukannya ke arah Bandung tapi lewat belakang deretan danau Purba Bandung ke arah Sumedang. Kondisi jalanan mulus dan dinamis. Mulai perkebunan teh Subang sampai lereng-lereng gunung yang berbatasan antara Subang dan Sumedang. Jika sempat, silakan istirahat dulu dan menimati Nanas Satimadu khas Subang yang manis layaknya madu.
Dari kota Sumedang, kita menuruni lembah memasuki wilayah Tomo Majalengka. Rekomendasinya jangan ke arah Cirebon tapi berbelok melewati kota Majalengka menuju wilayah Kuningan lewat Raja Galuh. Sebagai Brothers bisa saja lanjut menuju Maja-Panjalu-Ciamis-Tasik. Tapi kali ini BIKERS tak menuju ke arah sana tetepi masuk Kuningan menuju Linggajati. Lepas Majalengka menuju Raja Galuh, brothers bakal disuguhi gunung batu yang asyik untuk disimak. Ini adalah daerah Lengkong, Gunung Kuda Majalengka. Setelah puas bolehlah masuk ke wilayah Linggajati yang sepanjang perjalanannya akan ‘ditemani’ Gunung Ciremai yang legendaris itu. Catatan khususnya, wilayah ini tak hanya indah tapi masyarakat di sini sangat menjaga kebersihan lingkungannya. Salut!
Primadona wilayah ini tentunya rumah ibu Jasitem istri mandor gula Belanda yang dijualnya pada Van Oos Dome tahun 1921. Rumah indah dan luas ini punya cerita panjang. Jaman Belanda pernah beralih fungsi menjadi hotel berjuluk Rustoord lantas menjadi Hokai Ryokai saat diduduku Jepang. Di jaman perjuangan, rumah ini pernah menjadi markas BKR dan diubah namanya jadi Hotel Merdeka. Nah, tahun 1946 lokasi ini mencatat sejarah penting karena dipakai untuk perundingan antara RI-Belanda yang dikenal sebagai perjanjian Linggajati.
Saat BIKERS berkunjung, foto-foto dan benda-benda bersejarah tersimpan apik. Diorama yang menggambarkan perundingan juga ada. Tampak delegasi Indonesia yang dipimpin Perdana Menteri Sutan Sjahrir dengan anggota Mohammad Roem, Susanto Tirtoprodjo dan AK Gani, berunding a lot dengan pihak Belanda dipimpin Prof Ir. Schermeron dan beranggotakan Max Van Poll, F de Boer and H.J Van Mook. Dari perundingan yang dimoderatori Lord Kilearn dari Inggris ini lahir kesepakatan: Terbentuknya suatu negara federasi yang dinamakan Indonesia Serikat, Terbentuknya Uni Indonesia-Belanda dan Belanda mengakui kedualatan Indonesia terhadap wilayah Jawa, Sumatera dan Madura.
Beres bernostalgia di Linggajati, kami temasya ke pemandian alam Cibulan yang hanya 10 menit dari lokasi ini. Para riders pastinya enjoy berlama-lama di lokasi ini, selain airnya jernih kita bisa bercengrama dengan ikan Kancra Bodas yang bernama latin labeobarbus dournesis yang dipercaya sebagai ikan keramat. Ikan ini jinak Bro, mereka nyaman berdekatan dengan manusia. Tuh, asyik khan?

SHARE

Leave a Reply