IPDN VERSUS OSVIA

0
60

Dari jendela angkot, IPDN bagai kampus kahyangan. Ialah tatar priangan yang sukar dicari bandingannya. Si preangerplanters, yang dipuja pelancong Belanda masa silam, tak meleset tulisan almarhum Haryoto Kunto di bukunya Bandung Tempoe Doeloe.

 

Mungkin tak ada satu siswapun yang menyangkal. Kali pertama berkenalan, mereka disuguhi lereng nan indah bernama Jatinangor. Nurani menjadi teduh saat angin dari lembah berkunjung lewat sela-sela gunung Papandayan. Aroma tanah ukur dan kulit pinus mengendus sayu. Mata akan berbinar saat tatapan mengarah ke barat: hamparan sawah menghijau Majalaya dan gunung Malabar tampak dari kejauhan. Menengok ke pinggir sedikit, Gunung Tangkuban Parahu dan Burangrang terkesiap malu-malu. Jangan lupa sama jajaka dan mojangnya yang senantiasi menyapa kumaha damang…pangestu dengan tak lupa melempar senyum.

Kemasannya ditambah lagi dengan gedung yang mentereng. Di depan tampak dua ‘berhala’ berbentuk siswa-siswi berdiri tegak. Di tengah rumpul menghijau bertulis IPDN besar-besar. Belum lagi tangga luks menuju Aula dan barak-barak tiap propinsi. Semuanya berseka seakan tak mau kalah dengan alam buatan Ilahi di sekitarnya. Ini benar-benar kampus pencetak pamong praja ideal.
Situasi begini pastilah menciptakan kaum cerdik cendikia berkalbu lembut. Teringat kita pada seniornya terdahulu, seperti Osvia alias Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren di akhir abad 19 dan bebuka abad 20. Sekadar tahu, sekolah calon pamong praja tempo dulu ini punya guru seperti si lembut hati, Kiai Haji Ahmad Dahlan, sebelum mendirikan Muhamadiyah pada 8 zulhijah atau 18 nopember 1912. Yah.., saat sekarang setingkat Inu Kencana, setidaknya sama-sama jadi staf pengajar di lembaga ini.

Waktu itu, sang guru Ahmad Dahlan punya pijakan kuat menggembleng murid-muridnya. Ia berpatok pada Al-Quran terutama Surat Ali Imran 104: Adakanlah diantara kamu segolongan umat yang menyuruh manusia pada keutaman dan menyuruh berbuat kebajikan serta mencegah berlakunya perbuatan yang mungkar Umat yang berbuat demikian itulah yang akan berbahagia”
Tentunya suruhan ini terjun dalam prakteknya. Murid-murid dijaga agar bisa menjadi pamong praja yang menyuruh manusia pada keutamaan, berbuat kebajikan dan menghindari perbuatan mungkar. Pada prakteknya tentulah harus sesuai dengan ‘genre’-nya, mengajari adab cinta kasih, empati, tepa selira, jujur tak licik dan jauh dari sadisme.

Seratus tahun berselang, keadaannya berbalik. Para calon Pamong Praja dipaksa mengalami sadisme. Setidaknya 3 orang tewas sejak tahun 1995-an. Simpati saya kepada. Eri Rahman tahun 1999-2000, Wahyu Hidayat 2002-2003 dan moga terakhir, Cliff Muntu tahun 2007 ini. Mantan rektor IPDN Nyoman Sumaryadi lewat kantor berita Antara mengakui, pemukulan pada Clif masuk kategori sadis.

Saya setuju. Melihat tayangan tivi, jika pemukulan dilakukan dalam situasi murka, logika memukul tanpa perhitungan masih masih masuk akal. Di beberapa kejadian tampak sang algojo bercanda sambil tertawa-tawa, terus terang saja ini masuk kategori pembunuh berdarah dingin. Apalagi hasil otopsi Clif menujukkan organ vitalnya rusak. ‘Pembinaan’ yang menyerang organ rentan yakni ulu hati, kepala dan alat vital adalah eksekusi yang terkonsep matang.

Pembinaan seratus tahun lalu ternyata jauh berbeda. Siswa tak perlu guling-gulingan di tangka untuk kemudian di gingkang ala Jet Lee. Yang perlu dilakukan adalah menghayati dan mengamalkan apa yang diajarkan AL-Qur’an semisal surat Ali Imran tadi. Sang calon Pamong dinggap segolongan umat utama yang bisa membimbin yang lain menuju kebajikan, mencegah perbuatan mungkar untuk mencapai bahagia. Hasilnya, bisa diuji. Di Jaman itu lahir pribadi-pribadi mulia yang mampu membimbing Indonesia menuju kemerdekaan.

Pertanyaannya, apakah calon pamong praja sekarang mampu mempertahankan kemerdekaan itu? Walahu Alam….

SHARE

Leave a Reply