SAAT RUH BOLEH MEMILIH NEGARA

0
75

Sebelum turun ke bumi, ruh diberi kebebasan memilih Negara. Silakan mau turun dimana? Ini kesempatan baik,saat berojol sang nasib wajib sejahtera. Jadi bagian negri terhormat, nggak cemen dan saklek melindungi warga negaranya.

Lirikan paling awal ke negri Amerika. Negeri beken di dunia. Gemerlapnya x-tra vagansa plus militernya kuat. Pokoknya nyeleb abis dah! Land of the brave, industri film dan musiknya mendunia. Jadi bayi Amerika tentunya membanggakan. Siapa tahu, kelak artis Hollywood kaya luar biasa dan bisa membeli tanah luas di negeri lain. Apes-apenya..porn star, hush!

 

E’eh dia sempat lirik sisi gelapnya. Ruh ini kurang sreg sikap Amerika yang hobi ikut rembuk urusan negri lain. Dalihnya, ‘polisi dunia’. Belum lagi kapitalistik sadis yang jelas bikin keder. Yang miskin luar biasa melarat, kelaparan di jalan-jalan, jadi gelandangan di skid row, kampung kumuh yang mengerikan. Apalagi belakangan diterjang angin dingin, suhunya minus 20 derajat. Ah, nggak deh! Bagaimana dengan Cina? Tunggu dulu, warganya kelewat banyak. Apalagi buat anak kecil, kabarnya nggak ramah. Tersiar kabar diperkuat CCTV, bocah Cina dilindas orang sipil tanpa ditolong. Negeri yang nggak ideal buat bayi, anak kecil juga sampai dewasa.

Australia? Di sana, pengangguran dapat tunjangan pemerintah. Tak kerja apapun, warga Negara bisa mengumpulkan tunjangan dan pergi pelesir ke Bali dan bersenang-senang di pantai Kuta. Apalagi punya kerja! Wah, makin digdaya. Kelak bisa berkeluarga boleh punya anak banyak malah makin banyak anak tunjangan makin gede. Pilihan yang menjanjikan. Baru saja ia mau menetapkan pilihan, ia dapat info: Negeri ini kejam nian, para pencari suaka dibuang kembali ke laut negri lain, terkatung-katung meregang nyawa. Tak cuma itu, alam Australia juga ganas, panasnya udara membumi hanguskan lahan. Sang ruh mengurungkan niatnya.

Indonesia jadi pilihan selanjutnya. Negeri ini kaya nian. Punya sejarah panjang, nenek moyang bangsa ini pernah invasi sampai jauh, warisan kerajaan yang gegap gempita. Walau ada di tubrukan lempengan yang rawan gempa dan penuh gunung api aktif, kekayaan alamnya melimpah. Ayo apa yang nggak ada di sini? Mulai minyak bumi sampai tambah emasnya banyak nian. “Jika aku turun di sini, pastilah sejahtera. Negeri yang gemah ripah loh jinawi, hijo roro-royo..!” Kelewat gembira, ia memantapkan niat, turun menjadi bayi Indonesia.

Lahirlah ia di propinsi Banten. Semua keluarga bersyukur pada Allah atas kelahirannya. Ia pun tumbuh besar dalam kesederhanaan. Saat sekolah, ia harus belajar di tempat reyot malah hampir ambruk. Untuk ke sekolah, iapun wajib menyebrangi jembatan rusak. Bareng teman-temannya ia bergelayutan demi pendidikan yang memadai. Sudah banyak teman bermainnya yang jatuh dan tewas, ya beginilah nasib! Bagaimana dengan pejabatnya? Pejabatnya sedang terkena kasus korupsi, meringkuk di KPK bersama beberapa anggota keluarga yang sedang tertimpa musibah yang sama.

Tapi ia nggak kehilangan harapan. Toh Indonesia terbilang kaya. Penghasil minyak misalnya? Betul penghasil minyak tapi apa ada gunanya? Masalahnya kita cuma punya minyak mentah yang cuma mampu membuat kita belepotan jika tersiram. Minyak itu diambil pihak luar diolah dan saat berguna harus kita beli dengan harga mahal. Indonesia perlu sediakan kocek 150 juta US$ dollar perhari. Bayangkan! Dengar apa yang dibilang Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo. Katanya Indonesia sangat tergantung pada ekspor BBM dari Singapura dan Malaysia. Makin bikin miris, seandaianya dua negara itu menyetop ekspor BBM ke Indonesia, lima hari kemudian Indonesia akan tewas dengan sukses. Ia bilang begitu di Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (9/2/2014).

“Bukannya Singapura nggak punya minyak pak?” Ia bertanya pada bapaknya, buruh tani yang kadang jadi kuli angkut.”Terus pak, bukannya cadangan minyak Malaysia masih kalah dengan kita?” ia terus mencecar pertanyaan. Sayang bapak nggak sempat menjawab karena lelah seharian kerja.
Sang anak yang dulu ruh itupun bimbang. “Ah seandainya aku lebih jeli memilih… kenapa tidak New Zealand aja ya? Kemarin mampu sewa warnet. Sebelum main game, buka goggle, kabarnya disana aman sejahtera, kriminalitas hampir nol persen dan alamnya dipakai shooting film Lord Of The ring…”

Iapun tertidur untuk berjuang esok harinya. Melintasi jembatan nyaris ambruk dan belajar di sekolah reot….

SHARE

Leave a Reply